Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Milenial

victorc's picture

Tanggal: 2 september 2017
Topik: Prolog untuk lokakarya penjangkauan kaum muda generasi Milenial
Teks: Lukas 24:13-31

Pendahuluan
Selamat sore, bapak ibu dan adik-adik terkasih. Pada kesempatan yang baik ini, marilah kita bersama-sama memikirkan tanggung-jawab gereja dalam melayani kaum mudanya. Tanggung-jawab ini tentu bukan saja demi keperluan regenerasi kepemimpinan gerejawi, namun juga karena alasan yang lebih esensial, yaitu perintah Yesus: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
Dan generasi kini sungguh haus akan sapaan dari gereja yang ramah dan mampu memahami dunia mereka. Tentu banyak masalah yang dihadapi gereja, bukan saja faktor kurangnya pemahaman akan dunia teknologi komunikasi yang begitu mendominasi dunia orang muda, namun juga gereja sering tidak memiliki arah yang jelas.

Gereja yang gamang melayani orang-orang muda?
Seperti kita ketahui bersama, gereja-gereja arus utama akhir-akhir ini merasakan menurunnya partisipasi pemuda dalam aktivitas gerejawi. Mengapa demikian? Sebagian mencoba menyalahkan gereja-gereja gelombang ketiga yang begitu aktif menjangkau pemuda, namun saya kira persoalan yang ada lebih mendalam dari itu. Kalau mau jujur, gereja seringkali kurang tanggap dalam memahami kebutuhan remaja dan pemuda saat ini, sehingga mereka mungkin lebih suka hang out bersama teman-teman mereka di kafe atau melaluI gawai yang begitu responsif dalam menyediakan segala macam konten.
Lalu apa yang dapat dilakukan oleh gereja?
Berikut ini adalah suatu perenungan dari salah satu tokoh pelayan pemuda di Gereja Katolik, kiranya membantu.(1)

Permasalahan orang muda
- Identitas diri
Masalah laten yang selalu menyertai orang muda adalah identitas diri. Tanpa ini orang muda tidak pernah akan tumbuh. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah pendampingan orang yang sudah melewati dan mengatasi permasalahan ini.
Tahun 1992  Keuskupan Agung Jakarta  membuat suatu penelitian dengan hasil akhir sebagai berikut. Ada tiga masalah utama yang mencekam orang muda:
Orang muda yang ber umur 13-17 tahun,  masalah terbesarnya adalah soal identitas diri. Sedang yang berumus  17-25 tahun umumnya menghadapi permasalahan menentukan karier. Dan mereka yang berumur  25 tahun. plus  umumnya  bergulat  dengan masalah  perjodohan.

- Aktualisasi diri
Kecuali kebutuhan untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas, orang memerlukan kemudahan dan pendampingan dalam mengaktualisasikan dirinya. Secara sederhana orang muda butuh waktu dan tempat serta teman untuk dapat mengaktualisasikan diri secara maksimal. Orang dewasa sebetulnya lebih dibutuhkan kehadiran dan keberadaannya lebih sebagai teman daripada sebagai penasihat.

- Pendampingan
Pendampingan diperlukan orang muda bukan pertama karena pendamping lebih ahli daripada yang didampingi melainkan karena wibawa dan otoritas yang dimilikinya. Dari pendamping sebetulnya tidak dituntut suatu ilmu atau keahlian. Kalau pengalaman pendamping dibutuhkan pun tidak secara langsung diperlukan, sebab itu semua dapat mereka temukan sendiri. Sedangkan otoritas atau wewenang hanya dapat dimiliki oleh pendamping. Seperti kita tumbuh dan berkembang bersama orang lain,  maka bila pendamping ada, maka pertumbuhan orang dapat lebih pesat karena orang muda punya kebanggaan lebih. Orang muda mendapat nilai tentang dirinya justru dengan aktualisasi dirinya.

Namun, selain ketiga hal tersebut yang memang baik dan perlu, rasanya ada hal yang justru lebih fundamental, yakni bagaimana memperkenalkan orang muda dalam suatu pengalaman perjumpaan yang nyata dengan Tuhan. Hal ini jauh lebih penting daripada sekadar 10 seri pertemuan KTB yang hanya mencekoki mereka dengan informasi namun tanpa pengalaman perjumpaan. Mari kita lihat teks berikut.

Belajar dari Perjumpaan di Emaus
Mari kita lihat teks yang sangat terkenal ini, Lukas 24:13-31

    13  Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, 
    14  dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. 
    15  Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. 
    16  Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. 
    17  Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. 
    18  Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" 
    19  Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. 
    20  Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. 
    21  Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. 
    22  Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, 
    23  dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. 
    24  Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat." 
    25  Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! 
    26  Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" 
    27  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. 
    28  Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. 
    29  Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. 
    30  Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. 
    31  Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. 

Apa yang kita baca dari teks di atas? Kedua orang ini sedang berbicara tentang peristiwa-peristiwa penting di sekitar Yerusalem, namun mereka gagal memahami makna peristiwa itu dalam terang Alkitab. Bukankah orang-orang muda juga kerap membicarakan berbagai peristiwa yang tampak menakjubkan bagi mereka? Namun, seperti kata-kata bijak berikut: "orang-orang biasa membicarakan orang-orang, orang-orang cerdas membicarakan peristiwa, namun orang-orang besar membicarakan konsep-konsep." Namun kata-kata bijak itu masih kurang satu tahap lagi, yakni orang-orang benar menjumpai Yesus Kristus yang Hidup.
Jadi di sinilah Yesus masuk dalam percakapan mereka, dan Ia menjelaskan kitabsuci kepada mereka, sampai akhirnya mereka mengalami hati yang berkobar-kobar dan pada titik puncak, tabir yang menghalangi mereka diangkat, dan mereka mengenali sang Guru dan Mesias yang dari tadi mereka bicarakan.
Itulah salah satu tugas Gereja yang sesungguhnya, yakni mengantar generasi Z dan milenial agar mereka juga mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus secara personal. Sudahkah kita memikirkan hal ini?

Tantangan Gereja: Membuat ruang bagi Tuhan bersama generasi Milenial(2)
Don Postema mengatakan,"Allah membuat ruang bagi kita dalam komunitas kovenan. Kita dirangkul sebagai anak. Kita menjadi bagian di dalamnya. Kita menanggapinya dengan membuat ruang bagi Allah dengan menjadi terbuka dalam hidup kita, dan dengan hidup dalam rasa syukur."
Tuhan telah membuat ruang bagi kita dan Dia memanggil kita untuk membuat ruang bagi Dia. Dia juga menggerakkan kita untuk menciptakan ruang bagi anak-anak muda agar mereka bisa terlibat di dalamnya. Kita menciptakan ruang itu dengan meneladani penerimaan Allah terhadap diri kita, memberi mereka kasih yang mengatakan: "Engkau adalah milik Allah."
Kita menciptakan ruang itu dengan membentuk kesempatan bagi anak-anak muda kita untuk menjumpai Allah secara pribadi dan langsung. Kita menciptakan ruang itu dengan membimbing anak-anak muda kepada kedewasaan yang seharusnya dimiliki orang dewasa dan melalui itu mereka belajar membuat ruang mereka sendiri bagi Allah.
Lily Endowment mendanai Youth Ministry and Spiritually Project, suatu eksperimen "membuat ruang" bagi anak-anak muda postmodern. Disponsori bersama oleh Youth Specialties dan San Fransisco Theological Seminary, proyek ini berfokus pada membiasakan 16 kelompok anak muda di Amerika Serikat dalam praktik kontemplasi - "praktik untuk menghasilkan kepekaan yang lebih dalam akan kehadiran Allah." praktik kontemplasi ini di dalamnya merenungkan pembacaan Kitab Suci, doa yang berfokus pada mendengarkan Allah, pengekspresian seni lewat puisi dan lukisan, dan disiplin rohani yang lebih tradisional seperti menenangkan diri dalam keheningan, kesendirian, berpuasa, dan berdoa.
Model-model yang dipakai di masa lalu dalam mendekati Alkitab dan doa seperti "lectio divina", kepekaan terhadap Allah yang dipakai oleh kaum Ignatian dalam bentuk examen, dan doa yang berpusat pada kepekaan akan Allah juga dipakai.
Mark Yaconelli menjelaskan alasan di balik diadakannya proyek itu: "Mereka membutuhkan kita untuk memperlengkapi mereka dengan keahlian yang dapat mengembangkan relasi yang intim dan mengubahkan antara mereka dengan Allah."
Seperti kata Jen Butler, seorang asisten pendeta di Oregon: "Kita seharusnya tidak perlu terkejut ketika program seperti ini berjalan dengan baik. Ini sangat sederhana. Jika Anda membuat ruang, Roh akan hadir."
Dengan perkataan lain, para pembimbing rohani kaum muda adalah para pembuat ruang.

Penutup
Mari kita sebagai pembina atau pengurus badan pelayanan belajar untuk mendekati anak-anak muda bukan dengan segunung aktivitas yang dijejalkan, namun dengan menawarkan keramahan dan persahabatan serta mengajak mereka untuk menciptakan ruang bagi Tuhan.
Pertanyaan untuk direnungkan: "Bagaimana kita membuat ruang yang kudus bagi anak-anak muda postmodern ini?"

versi 1.0: 31 agustus 2017, pk. 12:59
VC

Referensi:
(1) Yohanes Dwi Harsanto, Pr. Url: http://www.katolisitas.org/bagaimana-mengelola-pastoral-kaum-muda-paroki-di-era-digital/
(2) Richard R. Dunn. Membentuk kerohanian anak muda di era postmodern. Surabaya: Literatur Perkantas Jawa Timur, 2012.

__________________

"If You Want to Walk on Water, You've Got to Get Out of the Boat‎." - John Ortberg

The Second Coming Institute