Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Neocortex

victorc's picture
Shalom, saudaraku...
Salah satu pertanyaan yang menarik untuk direnungkan adalah, bagaimana jika Yesus mengajar sebagai guru saat ini? Kira-kira apa yang akan diajarkan-Nya? Bukankah kita membaca dalam Alkitab bahwa Yesus sangat menyukai anak-anak? Bahkan Dia berkata bahwa jika seseorang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, maka ia tidak akan diterima dalam Kerajaan Allah. (Mark. 10:15)

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari kita perhatikan dulu kontras yang mencolok antara sikap Yesus kepada anak-anak dan kepada orang-orang Farisi dan para ahli Taurat, antara lain:
- para ahli Taurat menghafal banyak sekali peraturan, sementara anak-anak lebih suka berimajinasi,
- para ahli Taurat sepertinya terlalu serius dan kurang bermain atau bersantai, sementara anak-anak cenderung aktif bermain (dolanan).
- anak-anak lebih spontan dalam memberikan respons terhadap firman Tuhan, sementara orang-orang Farisi dan ahli Taurat menghitung dulu untung-ruginya jika mereka percaya,
- anak-anak suka bermain di alam terbuka, sementara para ahli Taurat lebih suka berkumpul di sinagoge-sinagoge.

Jika beberapa kontras di atas hendak dijelaskan dalam konteks perkembangan ilmu neuroscience (ilmu tentang syaraf), maka mungkin itu berkaitan dengan temuan yang relatif baru tentang peran dan fungsi neocortex dalam otak manusia. Ditemukan bahwa neocortex hanya terdapat dalam otak manusia, tapi tidak ditemukan pada burung atau reptil atau mamalia lainnya. (lihat ref. 1) Mamalia, burung atau reptil memiliki susunan otak yang memungkinkan mereka untuk mengingat (memori) dan juga bertindak insting. Tapi neocortex memungkinkan manusia untuk berpikir kreatif dan logis, dan itulah yang memungkinkan manusia untuk membangun peradaban yang demikian maju, sementara burung, reptil dan mamalia tidak dapat membangun peradaban. Selain itu neocortex juga memungkinkan manusia memiliki kesadaran (consciousness).

Konon suatu kali Einstein ditanya oleh seorang wartawan yang usil: "Mr. Einstein, jika anda memang jenius, tahukah anda berapa kecepatan cahaya?" Einstein menjawab dengan santai: "oh, kalau tentang itu anda bisa cari di buku. Saya lebih suka menggunakan otak saya untuk berpikir daripada menghafal." Jadi itulah mungkin resep keberhasilan orang-orang brilian seperti Einstein, mereka lebih suka fokus untuk memikirkan hal-hal penting yang membutuhkan kreativitas dibandingkan dengan menghafal berbagai data yang tidak perlu.

Bahkan mungkin neocortex itulah anugerah Tuhan yang terbesar kepada manusia, yang memungkinkan umat manusia untuk menjadi gambar dan rupa Allah. Memang gambar dan rupa Allah itu sudah rusak akibat dosa manusia, namun ada harapan untuk memulihkan gambar dan rupa Allah itu jika kita percaya kepada Yesus Kristus. Dan selanjutnya Roh Kudus akan memproses kehidupan kita setiap hari ke arah yang lebih baik, sedemikian sehingga kita dapat menggunakan neocortex tersebut untuk hal-hal yang berkenan pada Tuhan dan memuliakanNya.

Lalu bagaimana dengan pendidikan anak-anak di sekolah? Kita sering membanggakan diri bahwa sekolah-sekolah Kristen dan Katolik seringkali terbaik di setiap kota, sehingga semua orangtua berusaha sedapat mungkin agar anak-anak mereka bisa diterima di sekolah-sekolah bermutu tersebut. Tapi apakah kita sudah mengevaluasi pola pengajaran di sekolah-sekolah tersebut? Apakah para pendidik memberikan ruang yang cukup bagi anak untuk mengembangkan fungsi neocortex tersebut pada tahap dini, baik dengan melatih berpikir kreatif dan logis? Ataukah para pendidik hanya melatih kemampuan menghafal berbagai hal yang tidak perlu? Saya mendengar bahwa para murid sd saat ini sering dijejali dengan berbagai fakta untuk dihafalkan, misalnya nama-nama menteri dll yang setiap lima tahun pasti berganti.

Melatih berpikir kreatif itu sebenarnya tidak terlalu sulit, misalnya kepada anak-anak diberikan contoh berbagai problem dalam masyarakat, misalnya problem sampah atau kemacetan lalulintas, lalu mereka diminta memikirkan solusi yang kreatif dan keluar dari kotak (out of the box). Mintalah mereka berani memikirkan hal-hal yang tidak lazim. Ini akan melatih keberanian mereka untuk menemukan solusi-solusi orisinal.

Cara yang lain misalnya adalah memicu fungsi kreatif otak mereka dengan cara meminta mereka untuk mencari hubungan atau penjelasan atas dua kata yang dipasangkan secara acak. Misalnya kata: buku dan saklar. Bagaimana menghubungkan kedua kata tersebut? Salah satu ide yang mungkin misalnya adalah: saklar yang berbentuk buku, atau buku yang hidup jika dicolok ke saklar listrik. Jadi mirip tablet ya? Latihlah terus dengan memasangkan kata-kata lainnya. Metode ini bisa diprogram secara sederhana, dan bisa menjadi sebuah apps menarik untuk melatih kreativitas. Sekitar tahun 2002 saya pernah membuat program kecil menggunakan php untuk memadankan dua kata secara acak dengan sumber sebuah kamus dalam bahasa Inggris. Hasilnya cukup menarik. 

Ada banyak cara lain untuk memicu fungsi kreatif otak kita, silakan membaca buku-buku yang ditulis oleh Edward de Bono. Jika kita sering melatih otak kita, maka kita tidak akan pernah kehabisan ide untuk menulis atau meneliti. Hal ini penting khususnya untuk mahasiswa s1 atau s2. Kadang-kadang saya menjumpai beberapa teman s2 yang masih bingung mau menulis tesis tentang topik apa, padahal di perpustakaan ada begitu banyak buku yang menarik untuk dieksplorasi. Saya kira persoalan utamanya adalah sepertinya mereka kurang terbiasa untuk berpikir kreatif dan menemukan alternatif.

Semoga tulisan singkat ini akan mendorong para pendidik dan pembuat kebijakan untuk mengutamakan pengembangan fungsi neokortex dalam pola pendidikan di negeri tercinta ini, sehingga bangsa Indonesia tidak akan menjadi "bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa" (Bung Karno).

Bagaimana pendapat Anda? 

Jika ada saran dan komentar, silakan kirimkan ke victorchristianto@gmail.com

10 mei, 2015. Pk. 8:00
VC

Ref.:
(1) http://www.dummies.com/how-to/content/understanding-the-role-of-the-neocortex.html
__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.