Submitted by Purnomo on

Anakku, ketika kamu berteriak marah karena aku melangkah gontai dan menabrak meja, aku ingat ketika kamu dulu berlatih berjalan. Langkahmu gontai, goyah dan ketika kamu terhuyung limbung aku segera meraih dan memelukmu. Berulang kali aku menyemangatimu dan berulang kali aku meraihmu sebelum kamu jatuh. Walau aku lelah tetapi aku senang.


          Anakku, ketika kamu memberikan buku petunjuk karena aku selalu lupa bagaimana menelepon lewat hape, aku ingat ketika dulu kamu setiap hari bertanya bagaimana memutar cd kesayanganmu. Aku senang berulang kali mengulang-ulang mengajarimu karena aku ingin kamu pandai.

          Anakku, ketika kamu menyodorkan piring plastik agar aku tak lagi memecahkan piring karena gemetar tanganku, aku ingat ketika kamu menangis setiap kamu memecahkan mainanmu. Aku selalu memelukmu dan berbisik 'tak mengapa, nanti kita beli lagi yang baru'.

          Anakku, ketika kamu tak lagi meminjamiku surat kabar karena jengkel mendengar tanya 'mengapa'ku, aku ingat ketika dulu kamu juga selalu bertanya 'mengapa' setiap mejumpai benda-benda yang mengherankanmu. Aku selalu menjawab tanyamu karena aku tak ingin menghambat pertumbuhan kecerdasanmu.

          Anakku, ketika kamu memindahkan tempat tidurku ke gudang agar batukku tak lagi mengganggu nyenyak tidurmu, aku ingat ketika dulu kamu sakit batuk dan pilek dan sepanjang malam aku menggendongmu agar lendir tak menyumbat tenggorokanmu. Aku tak merasakan lelah karena bahagia melihatmu nyenyak dalam tidurmu.

          Anakku, ketika kamu melihatku dengan pandangan jengkel dan marah, ketahuilah aku masih tetap mencintaimu seperti ketika kamu kecil dulu.

          Aku tak pernah berhenti mencintaimu.