Submitted by Penonton on

Salam para pembaca yang budiman,

 

Para pembaca yang budiman,banyak orang setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa  kehidupan yang berbahagia adalah kehidupan yang bebas dari hutang, dalam arti tidak pernah meminjam dan diharuskan untuk mengembalikan sesuatu yang pernah dipinjam  kepada orang lain.

debt/hutang

Berhutang atau mempunyai hutang, seringkali digambarkan dengan meneguk racun mematikan yang manis rasanya.Karena manis maka kita tidak ragu-ragu untuk meminumnya, karena manis kita tidak menyadari bahwa sebenarnya yang kita minum adalah racun.

Yang namanya racun mematikan,meskipun saat diminum rasanya manis di mulut, akan tetapi tidak akan lama sebelum kita merasakan efek mematikan dari racun tersebut.Banyak orang-orang yang sedang terdesak atau istilahnya "kepepet" berusaha dengan segala cara untuk dapat memperoleh pinjaman.Mereka seakan-akan tidak memikirkan akan kewajiban mereka untuk mengembalikan'nya di kemudian hari (banyak pinjaman yang pada saat pembayaran dikenakan beban tambahan yang disebut dengan bunga pinjaman).

Saya baru saja membuka kompas.com (Rabu 3-09-08) dan menemukan artikel yang menuliskan tentang hutang luar negri Indonesia.Apakah ada diantara pembaca yang rajin mengikuti perkembangan jumlah total hutang luar negri yang wajib dibayar oleh Indonesia?

Ketika saya membaca artikel tersebut, yang terlihat adalah sungguh sebuah anggka yang luar biasa besar untuk ukuran seorang penonton. Indonesia mempunyai hutang luar negri dengan jumlah total sebesar Rp 1.462 triliun, atau setara/sebanding dengan US $ 1.462 milyard (dengan kurs perbandingan US $1 = Rp 10.000 ).

Coba para pembaca bermain-main dengan hitungan terhadap angka-angka tersebut.Jika dalam hitungan kasar jumlah penduduk Indonesia adalah 200 juta jiwa maka, US $ 1.462 milyard dibagi dengan 200 juta jiwa akan menghasilakan jumlah  US $ 731/orang.

Jadi jika dibagikan secara merata maka setiap penduduk Indonesia mempunyai hutang sebesar US $ 731 (Rp 7.310.000) .Angka tersebut dirasakan sungguh sebagai angka yang besar bagi kebanyakan orang di Indonesia.Bayangkan jika seorang pegawai yang mencoba menyisihkan sebagian penghasilanya yang didapatnya setiap bulan agar mencapai jumlah 7.3 juta rupiah........para pembaca akan dapat menghitungnya sendiri,kira-kira berapa lama waktu yg diperlukan sebelum dapat mencapai jumlah tersebut.

Para pembaca yang budiman, mengapa negara seperti Indonesia terus mencari pinjaman dari luar negri? Apakah barang-barang produk Indonesia tidak laku di pasar internasional? Apakah pemerintah memang sedang bokek dan tidak bisa memberikan uang saku untuk anak-anak'nya? Apakah memang uang yang didapat dari hasil pinjaman benar-benar digunakan untuk kepentingan masyarakat?

Data-data mencatat bahwa selama periode pemerintahan SBY, negara Indonesia kembali menambah jumlah hutang luar negri sebesar Rp 194 trilyun. Belum termasuk dengan jumlah hutang warisan pemerintahan jaman orde baru.Apakah pendapat dan komentar para pembaca mengenai hal tersebut?

Saudara pembaca hutang identik dengan kemiskinan.Hutang berhubungan erat dengan kesulitan di bidang ekonomi.Hutang juga tentunya bersifat mengikat.Seseorang yang berhutang, akan selalu dikejar oleh si pemberi pinjaman agar dapat melunasi hutangnya.Sungguh jarang terjadi seorang pemberi hutang membebaskan si penghutang dari pada kewajibannya membayar hutang.

Menurut penelitian di Australia dan Amerika pada tahun 2008, dari sekitar 2000 orang anak muda (pria dan wanita) yang berumur antara 18-33 th , telah ditemukan sebuah kenyataan yang mengejutkan.Hasil penelitian menunjukan bahwa 90% dari total jumlah keseluruhan dinyatakan sebagai orang-orang yang terjerat dengan hutang.

Mereka adalah anak-anak muda yang mempunyai kesulitan untuk dapat membayar cicilan hutang-hutang mereka.Kartu kredit,cicilan mobil,cicilan alat-alat elektronik, cicilan uang sekolah, dan banyak lagi penyebabnya.Boleh dikata, hampir setiap aspek dalam kehidupan mereka, memungkinkan mereka untuk berhutang.Bagaimana dengan di Indonesia?

Di dalam keKristenan kita dapat melihat bahwa Alkitab juga sering memperingatkan akan hal hutang (Ams 22:26).Ada juga tercatat  untuk tidak membebankan bunga kepada saudara seiman yang meminta pinjaman ( Kel 22:25 ) . Menurut hukum taurat, hutang seseorang akan dihapuskan setelah melewati 7 tahun ( Ul 31:10 ).Alkitab juga menulis agar orang-orang Kristen dapat memberikan penghapusan dan keringanan hutang jika mereka merupakan benar-benar orang yg miskin.

Bagaimana cara kita memperlakukan orang-orang yang berhutang kepada kita (Jika anda pernah meminjamkan uang atau hal-hal yang lain kepada orang lain?)

Jaman sekarang ini banyak sekali orang-orang yang sangat bernafsu untuk berhutang (meminjam uang), akan tetapi di sisi yang lain mereka sangat enggan (malas /tidak bertanggung jawab)dalam memenuhi kewajibannya untuk mengembalikan apa yang telah dipinjam. Berhutang tampa perlu mengembalikan menjadi sebuah hal yang biasa.Begitu gampangnya terpikir untuk berhutang tampa memikirkan bagaimana caranya untuk melunasi hutang tersebut.

stress

"Ilustrasi tentang stress karena hutang"

 

Penonton pernah berhutang....

Pada saat berhutang dan tidak bisa mengembalikan, penonton sampai-sampai nggak bisa tidur nyenyak.

Rasanya malu pada saat keluar rumah, seakan-akan akan bertemu dengan si penagih hutang setiap saat (padahal belom tentu ketemu....he he he...).

Pikiran menjadi gelisah, dan susah untuk dapat berpikiran tenang (tampa terbayang-bayang soal hutang tersebut). Dan banyak lagi kekhawatiran yang menghantui pikiran penonton.

Oleh karena itu, belajar dari pengalaman yang telah berlalu...

Penonton selalu berusaha keras agar tidak berhutang. Tidak akan tergoda untuk mengmbil cicilan mobil baru.Tidak akan tergoda untuk mengambil cicilan baju baru.Tidak akan tergoda untuk mempunyai kartu kredit yang seabreg-abreg........

Segala jenis hutang atau pinjaman yang mencekik pokoknya noooo...!!!!

Semoga melalui tulisan penonton kali ini, dan juga melalui banyaknya contoh-contoh di sekitar kita.Para pembaca dapat menyadari bahayanya berhutang.Jangan sampai terbujuk untuk gampang-gampang mengambil kredit.Lebih baik tidak punya sekalian, daripada harus memakai barang hasil kreditan.

Bagaimana para pembaca, setuju?

Selanjutnya, silahkan anda sekalian yang menentukannya.

 

From OZ  far...far...away