Submitted by TITIKamal on

Lord Jesus selalu berfirman dengan arah dimensi roh, bukan dimensi materi. Kita sudah tahu bahwa iblis pun menawarkan dimensi materi. Semakin ke dimensi materi, justru dunia ini dikuasai persatuan dan perdamaian SEMU. Bagaimana dengan kaum rohaniwan “gereja” yang dengan bangga menyatakan bahwa dimensi materi adalah perwujudan dukungan Sorga. Tepatkah hal ini ? Lalu mengapa para rasul matinya “sangat tidak enak” ? Lalu mengapa Paulus pun luka dan bisa kesakitan ? Atau jelas juga Jesus ? Saya sebagai orang yang punya pengalaman dalam dimensi roh & mengalami penggenapan-penggenapan firmanNya, pernah Bapa menunjukkan kepada seorang sakit leukemia (yang akan mati) bahwa apa pun yang terjadi orang tersebut akan disertaiNya.  Jika mereka (mendukung hal dimensi materi) benar & menyatakan Jesus adalah Allah sejati, maka ketika Jesus di dalam kandungan Maria, ibuNya sudah bisa melakukan mukjizat2 karena kekuatan Allah yang begitu hebat begitu besar pasti tersalurkan melalui ibuNya ke orang sekitarnya. Dan juga jika Jesus itu Allah sejati, maka Jesus tidak akan pernah menunda dengan menyatakan kepada ibuNya bahwa waktuKu belum tiba. Juga seharusnya ketika Jesus masih kecil (tidak perlu menunggu hingga umur sekitar 33 th), DiA (Allah sejati) sudah melakukan mukjizat2.  Di dalam perjamuan terakhir pun jelas dinyatakan oleh Jesus sendiri (Matius 26:29): But I say unto you, I will not drink henceforth,of this fruit of the vine, until that day when I drink it newwith you in my Father's kingdom. Tapi aku berkata kepadamu, mulai saat ini AKU tidak akan  minum minuman sari buah ini, sampai hari itu tiba ketika aku meminumnya yang baru dengan mu di dalam kerajaan Bapa-Ku ( bukan kerajaan-Ku). Secara simbolis (diperkuat dengan kata “yang baru”) Yesus menyatakan bahwa mulai dari perjamuan akhir tersebut hingga kematiannya di dunia, Ia tidak dipenuhi rohNya sehingga seakan-akan Bapa meninggalkanNya. Dikiaskan bahwa Jesus berkeringat darah ketika berdoa menjelang penangkapanNya dan berseru kepada Bapa , ” Mengapa Bapa meninggalkanKu “. Perkataan “yang baru denganmu”, berarti para murid juga akan menikmati pencurahan roh Allah. Ada koneksi dengan kerajaan BAPA di Sorga. BAPA di Sorga jauh lebih besar dan berkuasa daripada “bagianNya”. Anak saya berasal (benih) dari saya, tetapi anak saya bertumbuh dan bukanlah saya yang sebenarnya. Saya adalah saya dan dia adalah dia, namun di dalam dia ada benih saya. Anak saya bisa menjadi mirip saya, tetapi tetap bukan saya yang sebenarnya. Anakku adalah bagian dari diriku, dari yang tidak tampak oleh mata, menjadi tumbuh besar, dan jelas tampak oleh mataku. Benarkan kata bagian = adalah ? Anakku bagian diriku = anakku adalah aku ? Anakku yang bisa kupercaya adalah disebelah kananku & yang kurang baik di sebelah kiriku. Anakku yang kupercaya, kusuruh membuat nasi. Mula-mula aku ajari dia, aku awasi dan kubimbing dia. Setelah kurasa cukup memberikan semua ilmu masak nasi kepada dia, maka aku tidak perlu mendampinginya selalu ketika kuperintahkan dia memasak nasi di kemudian hari. Walaupun ada rasa kuatir karna baru pertama kali memasak nasi sendiri.  Karna ada benihku juga di dalam dirinya maka dia bisa memasak nasi. Dengan bekal yang telah kuberikan kepadanya, aku hanya menyuruh dia & dia yang mengerjakannya. Nasi itu ada karna perintahku kepada anakku. Dan aku bisa memerintah dia untuk membuat sesuatu yang lain, dan aku pun bisa memerintah anakku yang lain untuk membuat jenis nasi lainnya. Ketika anakku yang di sebelah kiri telah tiada (meninggal) mendahuluiku, apakah aku juga telah meninggal ? Jika anakku adalah aku, maka aku juga meninggal. Namun aku masih tetap hidup. Sahabat anak-anakku, baik yang masih hidup & yang telah meninggal, menghormatiku juga. Tapi anehnya ada orang-orang yang marah ketika mereka menghormatiku sebagai orang tua anakku itu. Orang-orang yang marah itu lupa bahwa ada benihku (berasal dari bagian diriku) di dalam anakku sehingga mereka bisa bersahabat dengan baik.  Salah satu hobi iblis adalah menarik anakku agar tidak menyadari dan tidak mengakui akulah bapaknya. Bila dengan menarik ternyata gagal, maka iblis akan mendorong (ekstrim) bahwa anakku adalah aku. Bila anakku mati maka aku juga mati, bila anakku pintar maka aku juga pintar, bila anakku pria maka aku pasti pria, bila anakku perempuan maka aku perempuan juga.  Hubungan dimensi roh dan dimensi materi tidak selalu sesuai dengan anggapan, tafsiran, kehendak manusia. Namun manusia suka berusaha mencampur adukkan dimensi roh dengan dimensi materi sesuai kehendaknya sendiri, dan cenderung mengarah ke dimensi materi terus.