Submitted by lonely girl.. on

Syalom teman-teman,

Saya mempunyai seorang sahabat dekat sejak kecil. Sampai saat ini kami tumbuh dewasa bersama-sama. Usia kami 19th dan masing-masing kami sudah mempunyai seorang pacar. Suatu hari (dalam 2 minggu terakhir ini) dia datang pada saya dan menangis. Saya sebagai seorang sahabat pasti langsung mendekap dan bertanya, "kamu kenapa?...ada masalah sama kluarga?". Saya bertanya demikian karena dia sering bermasalah dengan keluarganya. Dia terdiam dan hanya menangis dan memeluk saya dengan erat. Saya semakin bingung, sebenarnya apa sih yang terjadi pada ni anak? pikir saya.

Sepuluh menit kami terdiam. Dengan suara sedikit serak dia berkata, "keprawananku sudah direnggut '....'". Astaga Tuhan... benarkah yang saya dengar ini?... Saat itu gantian saya yang terdiam. Saya tidak tahu harus berbuat apa untuk sahabat saya. Rasanya saat itu saya pengen cepet-cepet menemui pacar sahabat saya dan memukulnya sampai babak belur. Tapi sayang, ketika keinginan saya itu akan saya lakukan, teman saya mencegah saya dan dengan jelas dia malah berkata "saya mencintai dia...". Tuhan... saya hanya seorang sahabat. Saya tidak berhak atas hidup sahabat saya. Tapi saya ingin berbuat sesuatu...

Teman-teman, saya bingung. Satu sisi dia sahabat dan bahkan sudah saya anggap seperti saudara kandung saya. Dia sudah terlanjur terjebak dalam hubungan yang tidak sehat...
Setelah dia bercerita tentang masalahnya itu dia jarang menemui saya. Pernah secara tidak sengaja kami bertemu disebuah acara kondangan teman kami. Saya memanfaatkan kesempatan itu untuk mengajaknya berbicara tentang masalah yang telah ia hadapi pekan lalu. Saya mencoba mengingatkan dia kembali untuk datang kegereja supaya dia dikuatkan. (Walaupun saya tidak satu gereja tapi saya tau dia jarang kegereja setelah ada permasalahan itu). Dia hanya terdiam. Belum sempat saya berkata-kata lagi tiba-tiba seorang laki-laki datang dan saya mengenal betul orang itu, dia pacar sahabat saya. "Yuk pulang" katanya sambil sedikit membentak. Teman saya menurut saja dengan dia. Lalu dia pergi meninggalkan saya.