Submitted by ely on

Entahlah, aku tak suka melihat wajahnya, aku juga tak suka mendengar suaranya. Sesekali saja, jika terpaksa aku menatapnya untuk memastikan sesuatu yang ia katakan. Sedang untuk mendengar suaranya, aku tak dapat mengelak, tak mungkin ku tutup telingaku saat ia berbicara, bisa saja ia malah meninggikan suaranya, sehingga  jantungku dapat bedetak lebih keras lagi. 

Aku lebih suka bila ia tak ada, tapi itupun tak mungkin, karena memang tak mungkin.

 

Aku hanya berharap suatu saat dapat melihatnya tidak lagi merengut, mengeluh dan cemberut.

 

Mungkin juga lebih baik bila ia tersenyum.