Peluangnya tipis. Kurang dari 1% untuk lolos. Ada tujuh belas ruang tes yang masing-masing penuh terisi 20 orang. Berarti total keseluruhannya ada sekitar 340 peserta tes yang berlomba mengisi 6 formasi saja. Bila bermain angka, berarti peluang untuk lolos hanya sekitar 1,7% -- dengan kata lain amat kecil. Tapi justru karena kecilnya peluang itulah aku akhirnya mau mengikuti bujukan teman-teman yang sebelumnya sudah berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk mengikuti tes penerimaan calon pegawai negeri sipil itu. Paling juga aku akan gagal. Tak masalah, aku sudah beberapa kali belajar dari yang disebut kegagalan.
Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain.
Tuhan sedang bercanda ya?
Begitu reaksiku ketika melihat nama, nomor tes, dan tanggal lahirku ada di situ. Kuperiksa berulang kali. Benarkah Anita yang sama sekali tidak belajar; yang salah satu pendaftar urutan bontot; yang benar-benar jauh dari kata sungguh-sungguh dalam tes itu lolos tes? Teringat jelas soal-soal dalam tes itu. Hampir semua ada di luar bidang kepakaranku-- tata negara, ekonomi, dan matematika yang komplit dengan trigonometrinya itu. Pasti ada kesalahan. Pengumuman itu akan diralat segera.
Tapi itu tidak terjadi, dan sekarang aku harus meninggalkan pekerjaanku saat ini karena lolos tes itu. Entah sedih, entah senang. Semua orang bilang aku beruntung; tapi aku malah bingung. Beruntungkah aku? Berat rasanya meninggalkan semua di belakang.....
Ternyata tidak hanya gagal yang sensasinya luar biasa, keberhasilan pun dapat memutar balikkan dunia -- semoga ke arah yang lebih baik..