Pengalaman yang kita dapatkan itu bisa jauh lebih berharga daripada nilai materi yang kita dapatkan. Inilah hikmah yang kami dapatkan saat jalan-jalan di kota Malang dan Batu.
Kami ada di kota apel ini dalam rangka pelayanan yang dilakukan oleh isteri saya. Sedangkan saya hanya mengantarkannya. Kami berangkat dari Klaten pada Jumat malam menggunakan travel. Menjelang fajar, mobil sudah sampai di penginapan dan kami pun merebahkan diri untuk tidur sejenak.
Menjelang siang kami memutuskan untuk mengisi waktu luang dengan jalan-jalan di sekitar kota Malang. Berbekal informasi dari staf kantor gereja, kami berjalan kaki sekitar 300 meter untuk menyetop angkot. Sesampai di pinggir jalan, kami berdebat kecil tentang arah.
Menurut isteri saya, kami harus menyetop angkot yang ke arah kiri. Sedangkan menurut saya, berdasarkan informasi dari staf kantor gereja, kami harus menyetop ke arah kanan. Untuk menyudahi perdebatan itu, maka saya bertanya pada pedagang loak yang menggelar dagangan di sekitar itu.
"Pak, nyuwun pirso, arah dateng terminal Lindungsari, pundi nggih?" tanya saya [pak, numpang tanya, arah ke terminal Lindungsari ke mana ya?] Pedagang barang bekas itu menunjuk ke kiri. Isteri saya tersenyum kemenangan. Saya menurut.
Kami menumpang angkot ke arah kiri. Setelah menyusuri jalan-jalan di kota Malang yang berdebu selama setengah jam, kami sampai di terminal, tapi namanya terminal Arjosari. Ini jelas salah. Kami telah menuju arah yang berlawanan. Maka kami pun mencegat angkot dengan jalur yang sama, tapi tujuan yang sebaliknya. Artinya, kami harus menempuh perjalanan dari ujung timur kota Malang, menuju terminal Lindungsari di ujung barat kota.
"Nggak apa-apa, hitung-hitung bisa plesir di kota Malang dengan biaya murah," kata saya menghibur diri.
Sesampai di terminal Lindungsari kami berganti angkutan menuju Batu. Waktu tempuhnya ternyata tidak begitu lama, hanya sekitar 20 menit dengan jalan menanjak. Sampai di terminal Batu, kami masih bingung mau kemana karena belum tahu sama sekali tempat yang akan dituju.
"Tempat wisata di Batu ini apa saja, pak?" tanya kami pada sopir angkot. Dia menyebutkan Jawa Timur Park, Wisata Agro, Songgoriti atau Sengkaling. Kami memutuskan ke Agrowisata saya karena kata pal sopir di sana kami boleh makan apel sepuasnya, sepanjang tidak dibawa pulang. Dia bersedia mengantar dengan tambahan ongkos Rp. 10.000,- Kami setuju.
Sesampai di lokasi, kami harus gigit jari karena ternyata pohon apelnya belum bisa dipanen. Sebagai gantinya, ditawarkan petik jambu merah. Kami tidak tertarik. Lalu kami mendapat informasi bahwa di lokasi lain kami bisa memetik buah strawberry langsung dari pohonnya.
"Wah ini lebih seru," batin saya bersorak gembira sambil membayangkan mengunyah buah berry yang berwarna merah muda dan sudah ranum. Kami harus berjalan mendaki sedikit dan sampai di pintu loket Agro Kusuma. Di sana sudah dicantumkan berbagai paket wisata plus tarifnya. Blaik!! Tiket termurah ternyata Rp. 24.000,- per orang.
Lalu fasilitas apa yang kami dapatkan? Kami mendapatkan buah paprika 4 biji, segelas minuman sirup strawberry, puding rasa strawberry dan boleh memetik empat butir strawberry di kebun. Ya, Anda tidak salah baca: hanya empat biji strawberry.
Karena sudah terlanjur datang ke situ, ya apa boleh buat. Uang limapuluh ribuan pun dikeluarkan untuk membayar tiket berdua.
Kami dipandu oleh seorang karyawati untuk memetik buah strawberry. Sekali lagi kami harus menelan kekecewaan karena ternyata kebun yang dipetik sangat terbatas. Jumlah buah tiap pohon pun tidak banyak. Ya sudahlah. Yang penting mendapatkan pengalaman bisa memetik buah strawberry, punya bahan tulisan untuk blog dan bisa mengambil video untuk www.beoscope.com.
Itulah hikmah yang saya petik pada hari ini. Usai petik strawberry, kami disuguhi minuman sari strawberry dan pudding strawberry. Menurut saya, rasanya tidak jauh beda dengan sirup dan pudding yang dijual di Klaten.
Perjalanan pulang memakan waktu yang lebih lama karena harus menunggu angkot yang ngetem di terminal Batu. Sekitar pukul 3 sore kami sudah sampai di kota Malang. Malamnya, kami ditraktir makan Cwi Mie dan Angsle (minuman khas Malang)