Submitted by
Purnawan Kristanto
on

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei, aku dilahirkan 38 tahun yang lalu. Selama itu pula, Tuhan telah menganugerahiku dengan rahmat. Sekarang waktunya untuk bersyukur:
- Aku bersyukur untuk orangtua. Aku dilahirkan dari pasangan Erastus Sukiran dan Sumiyati Magdalena yang sangat mengasihiku. Mereka tidak pernah memaksakan kehendak, sangat menghargai keputusan anak-anaknya dan berusaha tidak menimbulkan luka-luka batin. Mereka berusaha memberikan pengasuhan yang terbaik.
- Aku bersyukur untuk kecukupan fisik. Gunungkidul pada zaman dahulu dikenal sebagai wilayah yang kekurangan pangan, namun aku tidak pernah kekurangan gizi. Sampai sekarang, aku tidak pernah menderita sakit yang serius. Itu tak lepas dari pemeliharaan kesehatan yang baik dari orangtuaku.
- Aku bersyukur untuk pendidikan. Meski tinggal di pelosok desa, namun orangtuaku memberikan bacaan-bacaan yang bermutu kepadaku. Aku juga diberi kebebasan mengembangkan talentaku melalui berbagai macam aktivitas di luar sekolah. Meski pendapatan sebagai guru sangat terbatas, namun orangtuaku berusaha memberikan pendidikan yang terbaik kepadaku. Aku bersyukur bisa bersekolah di SMA terbaik di Gunungkidul, yaitu SMAN 1 Wonosari. Aku bersyukur bisa mendapat pendidikan sebagai programmer yunior di UPT Komputer UGM. Aku bersyukur bisa mengenyam ilmu di jurusan Komunikasi, Fisipol UGM.
- Aku bersyukur untuk teman-teman di SDN Bendungan I, Karangmojo, Gunungkidul. Bersama mereka, aku menikmati masa kecil yang menyenangkan. Meski tinggal di wilayah yang gersang pada musim kemarau, tapi ada banyak permainan yang kami lakukan: Gobak sodor, petak umpet, benthik, sundamanda, kasti, jamuran, tawu. Aku tidak ingat lagi nama teman-teman sekelasku. Inilah yang sempat kuingat: Sri Ima Widiati, Citung Supriyati, Enik Susilowati, Nanik Terushana, Joko Nugroho, Ari Krismono, Buang, Supardi, Sularno, Gandung Prabowo, Maryadi, Yatin, Wasimin, Jumakir, Suharjono dan Yatiman.
- Aku bersyukur untuk teman-teman kelas A di SMP Bopkri. Bersama mereka, aku bersekolah dengan penuh semangat, antusias dan canda. Di sini, kami dididik untuk takut kepada Tuhan. Nama-nama teman sekelas yang masih kuingat adalah: Teguh Wiyadi Pramono, Suradal Basuki, Utami Nugraheni (ketiganya best friendku), Retno Asih (sang primadona), Kasno, Medi "Kancil", Binoni Agus S, Anna, Sulastri, Ambang, Haryanto, dan Joko Swasono.
- Aku bersyukur untuk teman-teman jurusan A4 (Sastra/Budaya) SMAN I Wonosari. Meskipun kelas ini berkasta rendah di mata kebanyakan siswa, namun kami sangat menikmati proses belajar-mengajar. Kami menjalani masa dua tahun dalam kekompakan dan keceriaan. Jumlah teman sekelas hanya 14 orang. Teman-temanku itu adalah: Budi Kusumaningsih, Tanti Wahyuni, Umi Anjariyah, Onny Astuti, Kardiyono, Suharjono, Haryatno, Suwarto, Kristanto Triatmojo, Ismadi, Suwarto, Paul dan Agung Prasetyo. Sayangnya, Agung Prasetyo sudah mendahului kami karena dipanggil Tuhan.
- Aku bersyukur untuk teman-teman persekutuan pemuda di pepanthan Bendungan. Kami menamainya "BBC", yang kepanjangan dari Bendungan Bible Club. Di sini aku mulai belajar untuk berorganisasi dan menumbuhkan kepercayaan diri. Bersama dengan mas Rudi Aribowo, mbak Pipin Ani, mbak Rini Cahyanti, mas Heri, mbak Endang, mbak Wining dan teman-teman yang lain, aku merasakan sukacita dalam pelayanan.
- Aku bersyukur karena boleh terlibat dalam pelayanan di Komisi Pemuda Lokal (Kompalok), GKJ Wonosari. Ada banyak pengalaman pelayanan yang aku timba dari seniorku seperti mas Ornan, mas Darminto, mas Singgih, mbak Lena, mbak Runtik, mas Parno, mas Wahyu Hardaya, mas Tanto, mas Pater, mas Markus, dll.
- Aku bersyukur karena boleh terlibat dalam pelayanan di Komisi Sekolah Minggu Lokal (Kominglok). Pengalamanku yang paling berkesan adalah ketika diberi kepercayaan sebagai MC atau pembawa acara pada perayaan Natal Sekolah Minggu. Itu bukan tugas yang mudah karena harus "mengendalikan" lebih dari 300-an anak-anak dari berbagai usia.
- Aku bersyukur untuk aktivitas sosial. Sembari kuliah, aku juga aktif di LSM. Di sini aku bisa ditempa untuk selalu berpikir kritis dan mengambil tindakan nyata. Para senior telah membukakan mataku tentang ketidakadilan yang ada di sekitarku.
- Aku bersyukur karena pernah terlibat dalam pers kampus, khususnya dalam penerbitan tabloid Swara. Di sini, aku bisa berkenalan dengan penulis yang aku kagumi sejak kecil, yaitu (alm) Omi Intan Naomi. Teman-teman di Swara yang sempat aku ingat adalah Retno Nawangsasi, Nuning H.D, Ida Ayu Trisnawati, Sagiyo, dan Nurwahyudi.
- Aku bersyukur teman-teman PMK Fisipol UGM. Di persekutuan ini aku bisa berteman dan mendapatkan pengalaman pelayanan. Aku bersyukur dipertemukan dengan bang Philip Habinsaran, mas Singgih Sasongko, mas Koko, Adi Sasono, Kristiono Riyadi, Evi Makmur Tukiman, Basilika Dyah P, Iwan Ananto S, mas Arwan, dll.
- Aku bersyukur karena terpilih dalam rombongan KKN ke Kalimantan Selatan. Inilah pengalaman pertamaku menginjak bumi Kalimantan. Aku ditempatkan di desa Tajau Pecah. Di sini, aku belajar kerelaan dan dedikasi total dari pak Sapi'i, seorang kepala desa asal Jawa Timur. Tanpa mengenal pamrih dia memimpin dan membangun desanya.
- Aku bersyukur karena bisa berjejaring dan berteman dari berbagai latar belakang: pendidikan, agama, jenis kelamin, pandangan politik, lapisan sosial yang semuanya itu mengajariku untuk bertoleransi dan menghargai keberadaan orang lain. Teman-teman telah memperkaya aku dengan berbagai ilmu tentang kehidupan.
- Syukur untuk pekerjaan yang aku dapatkan. Seperti yang sudah diatur Tuhan, aku dipertemukan dengan pak Xavier Quentin Pranata. Hanya sekali bertemu, aku langsung ditawari untuk bergabung ke dalam staf jajaran redaksi majalah yang dia asuh. Lewat bimbingannya, aku belajar menulis. Lewat persahabatan dengannya, aku ditunjukkan tentang ketulusan, kemurahan hati, spontanitas, keceriaan, humor dan saling menghormati. Bekerja dengan rekan-rekan di PBMR Andi juga memberikan pengalaman bekerja di bidang pelayanan literatur. Ada banyak ilmu dan keterampilan yang didapatkan di sini.
- Aku bersyukur untuk pengalaman pahit dikhianati dan difitnah oleh teman-teman sendiri. Melalui hal ini, aku dilatih untuk mengampuni dan menyembuhkan luka-luka batin. Lewat pengalaman pahit ini, Allah justru membukakan dunia yang lebih luas dan pengalaman baru yang menggairahkan.
- Aku bersyukur telah memenangkan berbagai lomba penulisan. Meskipun tidak meraih posisi pertama, namun kemenangan itu memberikan kepercayaan diri untuk menekuni bidang penulisan.
- Aku bersyukur karena beberapa tulisanku langsung dimuat di media massa, meskipun baru sekali mengirimkannya. Naskah cerpenku yang pertama kali kukirimkan langsung dimuat di koran. Novel remajaku yang pertama langsung meraih juara V tingkat nasional. Naskah bukuku yang pertama langsung diterima oleh penerbit dan sudah dicetak ulang lebih dari 10 kali.
- Aku bersyukur untuk naskah-naskah buku yang telah aku tulis. Sampai sekarang aku telah menulis lebih dari 25 judul buku yang diterbitkan oleh enam penerbit. Aku bersyukur karena mendapat banyak mendapat ide penulisan buku.
- Aku bersyukur bisa dengan rutin menulis renungan setiap bulannya. Bersama Arie Saptaji dan Eva Yunita, aku menjadi pemasok tulisan untuk terbitan buku renungan di Surabaya.
- Aku bersyukur untuk keluargaku. Selama ini kami jarang sekali terlibat dalam konflik yang serius. Banyak persoalan yang dapat diselesaikan dengan baik karena masing-masing bersedia memahami pasangannya. Aku bersyukur karena istriku dapat memahami dan sangat mendukung pekerjaan dan aktivitasku. Kami memiliki passion dan minat yang hampir sama.
- Aku bersyukur untuk Kirana (3 thn), anakku perempuan. Meski badannya kecil, tapi sangat lincah dan luwes. Tampaknya dia memiliki kecerdasan linguistik. Kemampuan verbalnya melebihi anak-anak seusianya. Dia juga memiliki kepekaan musikal yang baik. Dia mudah sekali belajar lagu-lagu yang baru.
- Aku bersyukur Tuhan selalu menjawab doa kami: "Berikanlah pada hari ini makanan kami yang secukupnya."
- Aku bersyukur Allah kadangkala memberikan hadiah kejutan kepadaku melalui orang lain. Laptopku yang pertama adalah pemberian pak Paulus Trimanto. Ketika membutuhkan PDA, Allah mengutus bpk. Susanjanto untuk memberikannya kepadaku. Masih banyak kejutan-kejutan lain yang telah disediakan Allah kepadaku.
- Aku bersyukur karena diberi kesempatan untuk mengikuti berbagai pelatihan untuk meningkatkan kapasitas diriku. Aku pernah ikut Pelatihan Advokasi (YLKI), Pelatihan Pengorganisasian (Deperindag), Pelatihan Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat (Idep), dan berbagai pelatihan kecil lainnya.
- Aku bersyukur diberi kesempatan untuk membagikan pengetahuan dan pengalaman dengan menjadi pembicara seminar, fasilitator pelatihan, narasumber dalam talkshow, wawancara TV dan radio, dll.
- Aku bersyukur untuk bidang pelayananku selama ini. Aku terlibat dalam pelayanan Sekolah Minggu. Namun semenjak punya anak, aku berhenti sejenak menjadi Guru Sekolah Minggu. Meski begitu, aku masih terlibat dalam tim kreatif Guru Sekolah Minggu. Aku juga diberi kepercayaan untuk menyampaikan firman Tuhan pada ibadah remaja dan Persekutuan Wilayah. Aku bersyukur karena juga dilibatkan dalam Komisi Dewasa dan tim multimedia di bawah Komisi Ibadah.
- Aku bersyukur karena mendapat mertua yang baik dan penuh pengertian. Tanpa disangka, papa mertuaku (alm) Kurniaman ternyata adalah penulis juga. Ada dua noveletnya pernah diterbitkan oleh majalah Femina. Aku bersyukur mama mertuaku (mama Sri Purwani) diberi kesehatan yang baik.
- Aku bersyukur untuk adik-adikku dan saudara-saudara iparku. Selama ini kami dapat menjalin hubungan dengan baik, saling menolong dan saling menghiburkan.
- Aku bersyukur karena keluargaku selamat dari gempa besar, 27 Mei 2006. Kami beruntung tidak mendengar isu Tsunami sehingga tidak ikut panik mengungsi. Setelah itu selama 6 bulan berikutnya, aku terlibat dalam posko kemanusiaan Gerakan Kemanusiaan Indonesia. Pengalaman menjadi relawan ini kemudian aku tuangkan dalam sebuah buku. Aku bersyukur karena buku tersebut termasuk dalam jajaran buku best seller.
- Aku bersyukur untuk situs www.sabdaspace.org. Situs ini telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Aku bersyukur karena boleh terlibat di dalamnya.
- Aku bersyukur karena telah memiliki blog dengan nama domain pribadi: www.purnawan.web.id. Setiap harinya ada lebih dari 100 pengakses blogku.
- Aku bersyukur untuk situs untuk situs pertemanan Facebook. Di sini aku dipertemukan kembali dengan teman-teman yang puluhan tahun sudah berpisah. Bahkan ada yang sudah terpisah lebih dari 25 tahun. Melalui dunia maya ini pula aku bisa mendapatkan teman-teman baru.
- Aku bersyukur untuk situs www.beoscope.com. Melalui situs video streaming ini, aku dapat berkreasi dan mengembangkan hobiku yaitu videografi dan jalan-jalan. Aku bersyukur untuk pak Suryatin Setiawan dan staf yang telah memberi kesempatan kepadaku untuk bergabung.
- Aku bersyukur teman-teman di milis Komunitas Penjunan. Milis yang aku rintis dari nol itu, kini telah berkembang dengan ratusan keanggotaan. Ada banyak penulis-penulis berbakat yang tergabung di sini seperti Darsum Sansulung, Arie Saptaji, Sidik Nugroho, Ang Tek Khun, Okta Wiguna, Ita Siregar, Binsar Antoni, Emannuel Dapaloka, Slamat P Sinambela, Wahyu Pramudya, Martha Pratana, Joko Prihanto, Bayu Probo, Ayub Bansole, David Andreas, Fanny Lesmana, Gurgur Manurung, I.M. Zega, Mundhi Sabda Hardiningtyas, Stefanus Rahoyo, dll
- Aku bersyukur untuk Smart (bukan promosi lho), karena hanya dengan Rp. 333 ribu, aku bisa internetan sepuasnya selama 6 bulan.
- Aku bersyukur karena bisa memasuki usia ke-38 tahun. Aku bersyukur karena Allah telah menyertaiku selama ini dengan berkat-berkat yang melimpah.
- Aku bersyukur karena akhirnya bisa menyelesaikan daftar "38 Syukurku." Tentu saja berkat-berkat Tuhan jauh lebih banyak daripada daftar ini. Seperti dalam syair lagu: "Andaikan laut tintanya, dan langit jadi kertasnya. Andaikan ranting kalamnya dan insan pun pujangganya; Takkan genap mengungkapkan hal kasih mulia; Dan langit pun takkan lengkap memuat kisahnya."
