Submitted by Purnomo on

Kalau Yesus mengikuti ibadah Minggu, Ia pasti datang seperempat jam sebelum kebaktian mulai. Lalu merasa heran melihat betapa lengangnya gedung itu. Sementara sang kosterpun masih sibuk mengatur kursi dan bunga-bungaan.

“Selamat pagi,” kata-Nya kepada koster.
“Pagi,” jawab koster tanpa berhenti menyapu kursi sehingga debu beterbangan dan Yesus terbangkis-bangkis.
 
“Mengapa kurang sepuluh menit gedung ini masih sepi begini?”
“Itu hal yang biasa. Bapak sebenarnya baru boleh bertanya begitu kalau sudah sepuluh menit lewat jam tujuh.”
“Tetapi jam begini anda juga belum selesai dengan pekerjaan anda.”
“Masih banyak waktu sampai jam tujuh.”
“Anda anggota jemaat di sini?”
“Mana bisa. Justru pada hari Minggu saya paling banyak sibuk.”
“Tentu orang-orang di sini ingin anda menjadi anggota jemaat, bukan?”
“Ya, dan sayapun sebenarnya cukup punya keinginan. Tapi kami tak dapat mencari jalan keluar bagaimana supaya koster bisa ikut kebaktian dengan tenang pada hari Minggu.”
“Anda mengalah?”
“Ini penghasilan saya.”
 
Lalu terdengar suara nguiiiiing, keras sekali.
“Apa itu?”
“Itu testing pengeras suara.”
“Tapi ini sudah kurang dua menit.”
“Sudah saya katakan, Bapak baru berhak bertanya begitu kalau sudah jam tujuh lewat sepuluh menit.”
 
Tak lama kemudian, Ia bertanya lagi.
“Sekarang sudah jam tujuh. Mengapa mereka belum mulai juga?”
“Wah, Bapak orang baru rupanya. Jam tujuh lewat sepuluh menit nanti paling baru mulai.”
“Mengapa?”
“Banyak alasannya. Majelis yang datang baru seorang, padahal diperlukan paling sedikit tiga orang. Mungkin juga mereka menunggu pemain organ. Atau tidak jarang pak pendeta datang terlambat. Dan maklum saja, acara akhir pekan di tivi selalu menarik.”
“Astaga!!”
“Mengapa astaga? Mengapa Bapak begitu mericuhkan soal beberapa menit?”
“Soalnya bagi saya adalah soal disiplin, soal perhatian, soal kesungguhan, dan kerinduan mereka beribadah. Bisakah anda menjadi koster yang baik tanpa disiplin, kesungguhan dan kegembiraan kerja? Saya sangsi mereka bisa menjadi orang Kristen yang baik tanpa disiplin dan kesungguhan.”
 
Benar saja, ibadah itu berjalan tersendat-sendat karena begitu banyak yang datang terlambat. Suasana menjadi sedikit riuh rendah oleh suara sepatu yang berdetak-detak. Perhatian tersebar pada pameran berjalan, bagai suasana di fashion show.
 
“Mengapa anda terlambat?” Dia bertanya kepada seorang jemaat.
“Masih untung saya bisa bangun.”
“Tapi anda terlambat!”
“Sudah pasti tidak. Kotbah toh belum mulai. Acara yang lain itu ‘kan begitu saja setiap Minggu. Pokoknya saya masih sempat mendengar kotbah, memberi kolekte dan mendapat berkat.”
 
Kemudian setelah kotbah selesai, Ia mendatangi seorang lelaki yang duduk di sudut.
“Anda mendengar kotbah tadi?”
“Sedikit-sedikit. Soalnya kotbahnya begitu sih”
“Apakah anda mengantuk?”
“Dua-duanya.”
“Jadi tidak ada yang anda peroleh selama ibadah tadi?”
“Tentu saja ada. Yaitu bahwa saya sudah ke gereja minggu ini, sehingga isteri saya tidak mengomel lagi. Dan Tuhan juga memberi berkat. Saya ketemu teman saya di gereja, dan saya mendapat order dagang yang cukup lumayan.”
“Astaga!!”
“Mengapa astaga?”
“Ya, hanya astaga itulah komentar saya.”
 
Setelah kebaktian, ada rapat majelis gereja. Dan yang menarik bagi Yesus ialah, karena rapat kali ini akan berbicara tentang perayaan-perayaan Natal.
“Apakah persiapan-persiapan Natal kita sudah beres?” tanya ketua majelis.
“Sudah. Anggaran belanja dan acara sudah tersusun. Pembagian kerja juga sudah diatur,” jawab seorang majelis yang menjadi ketua panitia.
“Baik. Apa kira-kira tema kita tahun ini?”
“Tema?”
“Ya. Maksud saya, bagaimana kita akan menjiwai Natal kita tahun ini?”
“Pertanyaan saudara ketua itu agak aneh. Jiwanya tentu sama saja seperti tahun-tahun lalu.”
“Apa lagi?”
“Apa lagi? Arti Natal ‘kan ya begitu-begitu saja, bukan? Hanya dalam penyajian acaranya saja ada sedikit variasi.”
 
“Saya ingin bertanya, katakanlah sedikit usul. Bagaimana kalau Natal tahun ini kita jadikan titik tolak supaya kegembiraan Natal dapat juga dinikmati oleh saudara-saudara kita yang kekurangan?”
“Usul saudara ketua majelis itu telah kami perhatikan. Dalam anggaran itu, kami akan menyelenggarakan acara dan bingkisan khusus bagi saudara-saudara kita yang miskin.”
“Usul saya lebih dari itu. Yaitu bagaimana menggunakan anggaran panitia yang tujuh puluh juta rupiah itu bukan hanya untuk menyenangkan mereka setahun sekali. Tetapi mengusahakan proyek yang dapat menolong mereka sepanjang tahun. Mungkin kita tidak merayakan Natal seperti tahun-tahun lalu, tetapi kembali merayakannya dalam suasana kandang yang miskin dan pengap.”
 
“Pendapat saudara ketua itu saya tentang dengan keras. Pertama, kita telah menyalahgunakan persembahan anggota-anggota jemaat kita. Kedua, mengangkat nasib saudara-saudara kita yang kekurangan itu, menurut hemat saya, bukanlah tugas kita tetapi tugas Depsos. Dalam hidup ini ‘kan harus ada orang kaya dan orang miskin. Tuhan membiarkan mereka. Mengapa kita harus terlalu merisaukannya?”
“Astaga!” tiba-tiba Yesus nyeletuk.
“Mengapa astaga?” tanya ketua panitia.
“Hanya astaga, itulah komentar saya.”
 
KetikaIa keluar, Ia berjumpa dengan seorang wanita sedang sibuk.
“Saudari siapa?” tanya Yesus kepadanya.
“Saya anggota majelis di sini.”
“Tapi mengapa tidak ikut rapat?”
“Saya ditugaskan masak hari ini.”
“Jadi tidak ikut rapat?”
 
“Ya. Apalagi rapat begitu membosankan. Biar saja mereka rapat. Apa pun keputusannya saya nurut-nurut saja. Saya sih malas kalau disuruh debat-debat.”
“Tapi saudari anggota majelis gereja, bukan?”
“Ya. Tapi saya senang begini, daripada duduk berjam-jam mendengar orang ngomong yang tinggi-tinggi. Dulu ketika saya diminta jadi majelis, saya juga sudah diberi tahu bahwa tugas wanita dalam majelis ya paling-paling masak, melawat, ikut mengubur dan sebagainya. Kalau ada rapat, ya dengar saja. Tidak ikut ngomong juga tidak apa-apa.”
“Astaga!”
“Mengapa astaga?”
“Ya, hanya astaga, itulah komentar saya.”
 
Lalu Yesus pun melihat-lihat kertas di papan pengumuman. Daftar kotbah, daftar pembagian tugas, susunan majelis gereja, susunan acara dalam sepekan, grafik dan statistik, laporan keuangan dan sebagainya. Dan, Ia berkata dalam hati:
 
“Astaga! Alangkah rapi dan teraturnya. Untuk ini, gereja ini memang harus mendapat nilai seratus atau sembilan puluh paling sedikit. Sebagai mesin mereka memang mesin yang baik, yang berjalan serba otomatis. Tapi gereja toh bukan mesin. Ia harus merupakan tubuh yang selalu menghayati akan makna kehadirannya sebagai gereja. Mereka rajin menghidupi gereja sebagai institusi, tetapi mengabaikan esensi dan makna eksistensinya. Mereka senang dengan bungkus dan bukan isinya. Mereka senang dengan etiket tapi tidak terlalu hirau akan kwalitet. Padahal, apakah gunanya etiket yang tidak menjamin kwalitet?”
 
Yesus tiba-tiba terkejut karena pundak-Nya ditepuk orang.
“Saudara anggota jemaat di sini?”
“Saudara siapa?”
“Saya pendeta di sini.”
“Tapi mengapa saudara bertanya apa saya anggota di sini?”
“Maaf, jemaat di sini terlalu besar sehingga saya tidak mengenali lagi mereka satu persatu.”
 
“Mengapa saudara masih berusaha memperbesar jemaat saudara? Mengapa tidak dibuat saja jemaat-jemaat kecil tersebar di mana-mana?”
“Tetapi, bukankah setiap pendeta menghendaki bekerja di jemaat besar? Apalagi kalau jemaat itu kecil, keuangannya payah. Orang-orang masih selalu tertarik untuk bangga menjadi anggota jemaat yang besar, sekali pun kurang terpelihara, daripada menyumbangkan tenaga mereka di jemaat yang kecil dimana sebenarnya tenaga mereka akan lebih berharga. Ini realita, saudara. Tak usah kita ganggu gugat.”
 
“Astaga!”
“Mengapa astaga?”
“Ya astaga, itulah komentar saya.”
“Tapi saudara belum menjawab pertanyaan saya. Saudara anggota jemaat di sini?”
“Maaf saja. Jawab saya adalah tidak.”
“Tapi saudara mengikuti rapat kami. Saudara sebenarnya tidak berhak.”
“Saudara tidak mengusir saya bukan?”
 
“Astaga!” teriak pendeta itu.
“Mengapa saudara sekarang yang mengatakan astaga?”
“Ini menyalahi peraturan organisasi!”
 
“Astaga!”
“Mengapa astaga?”
“Karena saudara rupanya lebih tepat mengurusi organisasi daripada sebuah gereja,” dan Yesus pun keluar dari gedung gereja itu.
 
(the end)
 
Pengumuman, pengumuman!
Dengan ini diumumkan bahwa artikel di atas bukan karya Purnomo.
Eladalah, lha kok Purnomo mulai ikut-ikutan kurang ajar melanggar tata-tertib Sabdaspace.
Betul! Tetapi Purnomo masih lebih baik daripada yang lain. Ia bersalah dan jujur mengakuinya sebelum ditegur orang lain. Lalu maunya ‘gimana?
 
Begini.
Menjelang tengah malam kemarin, saya telah menyiapkan kado untuk Pak Wawan. Boleh dianggap upeti kepada raja baru Sabdaspace. Tetapi gara-gara sibuk dengan PR, baru pukul 02.00 dini hari saya bisa masuk ke situs ini. Ternyata raja lama telah mewariskan semua “job des”nya kepada penggantinya. Pak Wawan sedang bergadang menjagai situs ini. Seperti biasa saya merespon dulu-dulu beberapa komen lalu bersiap menghaturkan kado. Saya kecele karena Pak Wawan sudah menggelar 38 kredo syukurnya yang komplitplit yang menyaingi database anggota pisbuk bahkan data diri selebriti. (Pak Wawan apa bermaksud mengumpulkan “balung pisah”?) Ibarat orang punya gawe, ia sudah memasang tenda biru di halaman rumahnya untuk menampung tamu yang datang menghantar kado.
 
Ketika mata saya menelusuri kredo itu sampai kepada maklumat bahwa Pak Wawan kenal banyak penulis (biasa ‘kan? Masak penulis kenalannya lebih banyak tukang tambal ban?) saya merubah rencana. Saya mencari arsip-arsip artikel lama. Nah, ketemu artikel yang pas dengan topik yang sedang ramai ditulis dan dikomentari selama 7 hari ini.
 
Saya telah googling di internet untuk mencari apakah artikel ini pernah diunggah. Ternyata saya tidak menemukannya. Di dalam buku-buku yang saya miliki juga tidak ada. Yang saya ingat, artikel ini saya salin dari sebuah majalah pemuda gereja. Artikel ini saya simpan karena darinya saya mengadopsi cara bertuturnya.
 
Kado untuk Pak Wawan berbeda dengan yang berikan untuk Raissa dan AES. Karena beliau penulis kawakan, memiliki banyak buku, kenal banyak penulis-penulis Kristen serta badan penerbit Kristen, kado saya berupa pertanyaan: Siapakah nama penulis artikel itu dan dari mana Anda mengetahuinya.
 
Apabila dalam waktu 7 hari Pak Wawan berhasil menjawabnya, hadiahnya adalah saya menyerahkan artikel ini kepada Pak Wawan untuk disampaikan kepada yang bersangkutan karena saya yakin beliau juga tidak menyimpan arsipnya. Pak Wawan kenal baik kok. Lalu saya akan menerakan nama penulis aslinya di blog ini dan mempersilakan Admin melakukan tindakan tertib lalu lintas atas blog ini.
 
Blogger lain boleh ikutan quiz ini untuk meramaikan pesta ultahnya Pak Wawan. Hadiahnya seperti yang diberikan kepada tamu pertama tenda birunya. Pak Wawan menyediakan handuk. Tempat pengambilan hadiah di alun-alun kota Klaten.
 
Salam.