Submitted by anakpatirsa on

Satu persatu pelayat menyalaminya. Mereka menunjukkan duka dengan pakaian yang lebih hitam dari jubah nenek sihir. Anak, menantu dan cucu berderet di samping gundukan tanah, menyambut tangan-tangan yang tidak berani menyunggingkan senyum. Badoi tidak bisa membohongi dirinya sendiri, ia tidak begitu sedih. Sebagai suami yang barusan kehilangan istri, mukanya memang harus kelihatan sedih. Tidak begitu sulit, di infotainment, penyanyi dangdut yang hanya bisa pamer pantat pun bisa mengeluarkan air mata buaya. Apalagi ia yang otaknya ada di kepala. Tetapi ia tidak harus seperti itu, ia hanya perlu menahan senyum setiap kali menyambut uluran tangan.

"Kita pulang, Yah," kata Elina, putri bungsunya yang sedang menggendong bayi pertamanya. Si bungsu ini sudah siap menerima kehilangan ini. Badoi bersyukur istrinya pergi saat anak-anak dewasa, setelah punya urusan keluarga masing-masing. Semua orang pasti mati, masalahnya hanya kapan. Saat terbaik untuk mati adalah ketika anak-anak sudah punya suami atau istri.

Amel, putri kedua, menarik lembut tangannya. Ketiga anaknya membuat hatinya berkecamuk. Betapa berbedanya bila ibu mereka pergi lima belas tahun lalu. Ia harus menghibur bukan hanya dua anak gadis, ada si sulung yang mungkin menjadi anak bermasalah bila tidak ada ibunya. Betapa berbedanya sekarang, mereka bertiga berusaha menguatkannya.

Badoi bersyukur ibu mereka tahu kapan harus meninggal.

***

"Ayah tinggal bersama kami saja," kata putri keduanya. Penguburan sudah lima hari lewat. Lali pulang dua hari lalu, dan si bungsu baru pulang kemarin. Sekarang giliran Amel.

"Kami sudah membicarakannya, bapaknya anak-anak sangat setuju," lanjut putrinya.

Bapaknya anak-anak sangat setuju? Ia jadi ingat pernah tidak menyukai pria ini. Pernah berharap hubungan itu putus begitu saja.

"Nanti ayah pikirkan, ya?" jawab Badoi. Amel bukan pilihan yang buruk. Anak-anak juga pasti sudah berunding. Si sulung memang lebih mapan, tetapi ia tidak berminat menanti peti matinya di ibu kota yang bisa membuat menantu lebih judes dari nenek sihir. Si bungsu memang anak yang paling ia sayangi, tetapi baginya Elina masih si bungsu. Ia tidak sanggup bergantung pada wanita yang sepuluh tahun lalu selalu masuk kamar tanpa terlebih dahulu mengetuk pintu.

Rumah kembali sepi. Benar kata orang, kehilangan baru benar-benar terasa saat para kerabat kembali ke rumahnya masing-masing. Benar kata orang, kehilangan baru terasa bila sudah tidak bisa menjangkaunya lagi. Saat anak-anaknya pergi itulah Badoi merasakan tidak ada lagi istri sakit yang hanya bisa berbaring tanpa bergerak. Saat istrinya menghembuskan nafas terakhir, ia merasa ini demi keadaan yang lebih baik. Sekarang, setelah dua minggu, ia baru bisa merasakan kehilangan itu.

Ia mulai mencari kesibukan, mulai membereskan rumah. Membakar barang-barang tidak berguna yang ia yakini tidak mengandung kenangan bersama. Barang-barang pribadi istrinya mulai ia kumpulkan. Ada beberapa buku harian. Selama ini sama sekali tidak tertarik membukanya. Bahkan kadang jengkel melihat istrinya duduk di depan meja rias menulis buku harian. Baginya, itu pekerjaan orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan.

Sekarang pun ia tidak berniat membacanya. Waktu mau memasukkan salah satu buku harian itu ke koper, selembar foto terjatuh. Foto anak-anak yang masih kecil. Saat mengembalikannya, matanya melirik sekilas sebuah halaman. Sesuatu menahan matanya, membuatnya membaca sekilas:

    Kadang aku berharap suamiku mengajak keluar lalu membelikan aku minuman. Bukan sekedar memanggil pelayan untuk memesan minuman. Aku ingin ia melakukannya seperti saat pertama kali kami keluar. Saat itu kami baru duduk beberapa menit ketika ia beranjak dari kursinya, menghilang di antara penonton. Ia kembali dengan dua botol Coca-Cola. Aku menolaknya karena ingat pesan ayah, jangan menerima minuman apapun dari cowok yang baru kukenal. Orang kota begitu jahat, suka mencampur minuman dengan obat perangsang.

    Setelah lama pacaran, ia tidak pernah lagi menawari aku minuman yang tidak jelas asal usulnya. Saat ini anak pertama kami, Lali, sudah berumur lima tahun. Aku sudah membuang harapan itu.

Setelah membaca dua paragraf ungkapan hati istrinya, Badoi tidak bisa lagi berhenti. Ia masih ingat kejadian di gelanggang olah raga itu. Hanya saja, baru sekarang tahu mengapa Liana menolak botol yang ia berikan. Ia pikir Liana hanya tidak suka minuman bersoda. Badoi sedih, kalau saja tahu, ia bisa berbangga punya pacar yang begitu bisa menjaga diri.

Di buku yang sama, halaman lain, Liana menulis: "Aku sakit, berharap suamiku membuka kotak obat, merobek bungkusnya lalu memasukan obatnya ke mulutku. Tadi aku berkata, 'Malas minum obat yang pahit itu.' Ia malah menjawab, 'Kalau tidak mau sembuh, ya jangan minum obat.' Sakit yang kualami tidaklah sesakit mendengar tanggapannya. Dulu, waktu masih pacaran, aku tidak mau meminum obat yang ia berikan. Takut ia memberikan obat yang membuatku kecanduan obat bius. Waktu itu aku malah sampai berkata, 'Jangan memberikan aku obat yang sudah kamu buka tanpa kulihat.' Aku rasa ia tersinggung, tetapi aku tidak berani minta maaf. Sekarang, saat kami sudah menikah, aku ingin ia memaksaku meminum obat. Memang aneh dan bodoh, tetapi aku benar-benar ingin ia tahu aku sudah mempercayainya."

Badoi memang tersinggung saat itu. Mereka pacaran dua tahun dan Liana masih tidak mempercayainya. Jadi wajar sakit hati, tetapi sudah melupakannya. Buku harian inilah yang membuatnya kembali teringat. Kalau saja mereka membicarakannya setelah itu, Liana pasti bisa melupakan rasa bersalahnya.

Saat Amel masih dalam kandungan, istrinya menulis: "Aku sedang hamil, mood-ku naik turun. Aku cepat merasa capek, berharap Badoi menanyakan apakah aku baik-baik saja. Berharap pria yang menjadi suamiku ini bertanya, apakah bayi kami baik-baik saja. Aku ingin bercerita, sepertinya kali ini anak kami perempuan. Bayi kami tidak terlalu banyak bergerak. Badoi sama sekali tidak pernah bertanya. Aku menjadi malas membahasnya. Ia memperlakukan seolah-olah karena aku yang mengandung, aku juga yang harus mengurusnya bayi ini."

Badoi ingat, saat itu Lali berumur empat tahun. Istrinya yang sedang hamil tua suka duduk didepan jendela, memandang ke luar, melamun. Ia mengira kehamilan kali ini membuat istrinya lebih suka menyendiri. Ia tidak ingin mengganggunya. Menurutnya, wanita hamil memang suka bertingkah aneh.

Saat si bungsu masuk SMA, istrinya menulis:

    Sekarang aku hanya hidup untuk anak-anak. Tidak ada cinta di antara kami. Aku benar-benar meragukannya apakah memang cinta itu ada. Suamiku malah tidak pernah lagi membahas ulang tahun pernikahan kami. Aku juga sudah tidak peduli. Kami bisa tidak berbicara berhari-hari. Kadang terjadi pertengkaran, kami saling diam, aku berharap ia mengucapkan sesuatu yang mencairkan suasana. Hatinya benar-benar sekeras batu. Di depan orang lain, di depan tamu, ia membuat keluarga kami tampak bahagia. Ia bisa mengajakku berbicara banyak hal saat ada tamu. Saat tamu pergi, ia kembali ke sifat aslinya. Anak-anak bahkan tidak pernah tahu saat kami sedang bermasalah, karena di depan mereka, ia bisa mengajakku berbicara atau mengajukan pertanyaan.

    Hari ini aku sudah benar-benar tidak tahan. Aku sengaja pulang malam, berharap ia marah waktu melihatku. Betapa menyakitkannya ketika aku melihatnya tiduran di atas sofa sambil menonton televisi.

Liana tidak pernah tahu, ia sangat marah. Ia diam waktu itu karena marah dan cemburu. Berharap Liana mendatanginya, minta maaf, bukannya langsung masuk kamar tanpa sepatah katapun. Ia berharap, istrinya menjelaskan pergi kemana saja. Baru sekarang tahu, istrinya sedang mencari perhatian. Wanita ini tidak pernah tahu, ia berencana membayar orang untuk membuntuti istrinya bila pergi seperti itu lagi.

Di halaman terakhir, istrinya menulis: "Aku sudah tidak tahan. Suatu saat aku mati, aku berharap mati secepatnya. Aku bersyukur bila mati setelah menyelesaikan tanggung jawabku sebagai ibu. Apakah aku berbahagia? Aku tidak tahu. Sebagai ibu, aku merasa bahagia melihat anak-anakku. Merekalah yang membuatku tetap ingin hidup."

Badoi menutup buku harian almarhum istrinya. Menghela nafas. Apakah semua ini salahnya? Rasanya tidak adil. Seharusnya Liana mengungkapkan apa yang ia rasakan bukan pada sebuah buku. Ia merasa, istrinya juga salah karena hanya mengungkapkan apa yang ia rasakan pada sebuah buku. Kalau saja Liana minta perhatian saat hamil, akan ia berikan. Kalau mau dipaksa minum obat, akan ia hancurkan dulu obat itu di atas sendok dengan air. Kalau minta Coca-Cola, akan ia berikan.

Sayang, istrinya hanya bercerita pada sebuah buku.

***

Catatan:

Ini hanya sebuah cerita yang terinspirasi buku harian seorang wanita bernama Jossete Wenz dan sebuah artikel berjudul "Buku Harian Seorang Istri yang Kesepian."