Sejak kecil saya memang menyukai pesawat terbang. Hampir setiap hari selalu ada pesawat latih yang berputar-putar di atas rumah. Seya selalu terkagum-kagum menatap besi terbang itu. Kadang benda berbentuk capung itu terbang sangat rendah sehingga kami bisa melihat kepala pilot menyembul di balik kokpit. Kadang pesawat itu bermanuver di angkasa dan menghilang di balik awan-awan. Sesekali suara pesawat tidak mendengung tetapi meletup-letup seperti uap air mendidih.
Itu sebabnya, saya pernah punya cita-cita menjadi pilot. [Nampaknya itu bukan murni ide saya. Ambisi dan harapan orangtua turut memupuk tumbuhnya cita-cita ini]. Seiring beranjak dewasa, cita-cita itu memudar. Meski begitu tapi kesukaan terhadap pesawat tak pernah luntur.
Maka ketika pak Agus mengajak terbang menggunakan pesawat ultra ringan miliknya, tanpa berpikir panjang saya langsung mau. Sabtu pagi [5/9], kami sedang menyiapkan bantuan untuk korban gempa bumi di Tasikmalaya. Pak Agus meminjamkan truk beserta dengan sopir dan BBM. Dia juga menyumbang beberapa bahan makanan dan selimut. Saya lalu menghubungi beberapa pihak untuk menambah jumlah bantuan. Akhirnya, seluruh kapasitas truk itu akhirnya dapat dipenuhi dengan muatan barang.
"Siapa yang mengantarkan bantuan ini, pak Wawan" tanya pak Agus melalui HP.
"Saya sendiri akan menumpang truk itu," jawab saya.
"Selasa pagi saya punya rencana untuk pergi ke sana menggunakan pesawat, apakah pak Wawan mau ikut?" tanyanya.
"Tentu saja, dengan senang hati," jawab saya girang.
****
Minggu siang, pak Agus mengirim SMS supaya saya menanyakan cuaca di Tasikmalaya. Saya menghubungi pak Cahya dan pak Philipus. Menurut mereka, cuaca di Tasikmalaya cerah. Ini berbeda dengan ramalan cuaca di sebuah situs yang menerka bahwa di Tasikmalaya sudah turun hujan.
"Sehari sebelum terbang kita cek ramalan cuaca. Semakin dekat dengan hari keberangkatan biasanya ramalannya lebih akurat," kata pak Agus.
Senin malam, sehari sebelum keberangkatan, ramalan cuaca masih menunjukkan cuaca di Tasikmalaya tidak membaik. Ini berbeda dengan laporan teman di Tasikmalaya yang mengabarkan cuaca cukup cerah.
"Semoga cuaca besok cukup baik," kata pak Agus ketika menunggui kami menaikkan barang-barang bantuan ke atas truk.
"Berapa persen peluang kita bisa terbang besok?" tanya saya.
Pak Agus tertawa.
"Pak Wawan khawatir tidak bisa terbang besok, ya?" katanya.
"Bukan begitu," kata saya tersipu. Ketahuan kalau saya ingin sekali naik pesawat itu. "Jika peluangnya tipis, maka saya akan ikut pergi dengan truk ini," lanjut saya menutupi malu.
"Kita berdoa saja semoga cuaca cukup baik."
Pukul 21.00, truk bantuan meluncur ke Tasikmalaya. Ada dua relawan yang menyertainya yaitu Januar dan Doddy.
Kami segera berpamitan pulang ke rumah masing-masing. Sejurus kemudian, saya on line untuk mengecek respon teman-teman di Facebook dan di Sabdaspace. Tiba-tiba, saya merasakan tubuhnya saya seperti bergoyang-goyang. "Wah, aku sudah kecapekan ini," batin saya, "kepala saya mulai vertigo."
Saya memutuskan untuk segera tidur karena besok harus bangun pukul 4:30 WIB. Ternyata saya salah sangka. Goyangan tadi adalah gempa bumi. Saya baru menyadarinya setelah Dinna menelepon. Newsticker di televisi dan status teman-teman di FB memastikannya. Telah terjadi gempa bumi berpusat di tenggara Wonosari.
Astaga, itu adalah kampung saya. Saya segera menelepon rumah orangtua untuk mengecek keadaan mereka. Puji Tuhan, mereka tidak apa-apa. Saya lalu mengirim SMS kepada dua orang kenalan yang ada di wilayah pegunungan seribu. Mereka mengabarkan baik-baik saja. Saya merasa tenang, tetapi tidak bisa tidur lelap.
Selepas subuh, saya sudah bersiap menunggu jemputan. Segelas teh hijau telah membuatku benar-benar terbangun meskipun kurang tidur dan kurang istirahat. Keletihan tak terasa karena dilimputi antusias untuk terbang.
Perjalanan dari Klaten menuju landasan udara Adisucipto cukup lancar karea jalanan masih lengang. Beberapa truk merayap pelan. Pak Agus memacu Toyota, meliuk-liuk sambil menelepon sopir truknya. Truk pembawa bantuan itu sudah memasuki Tasikmalaya.
Langit kelihatan cerah dengan awan berserakan. "Cuacanya memang tidak bagus sekali, tetapi masih aman untuk penerbangan," kata pak Agus sambil menatap langit Jogja.
Menjelang pukul enam pagi, kami sudah memasuki kompleks lanud Adisucipto. Dengan menunjukkan pengenal kartu anggota PASI, kami bisa masuk kompleks landasan udara militer. Kami mampir sejenak di kantor meteorologi untuk mendapatkan ramalan cuaca. Berdasarkan foto satelit, tidak banyak awan yang menutupi pulau Jawa.
"Cuaca cukup bagus. Kita bisa terbang," kata pak Agus sambil menyetir menuju hangar.
"Apakah setiap penerbang wajib meminta ramalan cuaca lebih dulu ke Meteorologi?" tanya saya.
"Tidak harus," jawab pak Agus, "waktu masih muda dulu, saya tidak pernah meminta ramalan cuaca. Saya main tabrak saja dan langsung terbang. Waktu itu, saya memang nekat. Itu mungkin karena saya masih dikuasai oleh kesenangan untuk terbang. Akibatnya saya pernah mengalami cuaca yang sangat buruk. Sejak saat itu, saya mulai berhati-hati," ujar bapak dua anak yang penah menerbangkan fotografer majalah National Geographic ini. Dia juga penah diminta menerbangkan cameraman stasiun TV nasional untuk mengambil gambar gunung Merapi dan dampak gempa di Bantul.
Sesampai di hangar, kami sudah ditunggu oleh pak Giyono. Dia telah menyiapkan pesawat ultra ringan yang akan kami tumpangi. Bentuknya mirip dengan pesawat umumnya, dengan baling-baling tunggal di depan. Sesuai namanya, pesawat ultra ringan ini benar-benar ringan, sehingga bisa didorong oleh satu orang dewasa saja. Hampir semua badan pesawat terbuat dari serat fiber yang memiliki kekuatan besar, tapi cukup ringan.
Pak Agus memeriksa kesiapan pesawat lebih dulu. Pertama-tama, dia mengukur bahan bakar yang ada di kedua sayap. Pesawat ini menggunakan bahan bakar bensin Pertamax Plus yang dijual di SPBU biasa. Setelah itu membuka penutup mesin di begian depan untuk mengecek kondisi mesin. Kendali sayap dan ekor menjadi sasaran berikutnya. Akhirnya, dia meniriskan segelas bahan bakar di bagian pembuangan. Ini untuk memastikan tidak ada air yang menyusup ke dalam bahan bakar.
Dia memuat tas-tas bawan kami ke dalam kompartemen bagasi, lalu mengikatnya supaya tidak bergeser-geser. Kami tidak boleh membawa muatan yang terlalu berat karena pesawat sendiri sudah sarat dengan bahan bakar. Pak Agus memutuskan untuk mengisi penuh tanki pesawat untuk delapan jam perjalanan. Dengan demikian tidak perlu mengisi bensin lagi di Tasikmalaya.
Setengah tujuh pagi, persiapan terbang sudah selesai. Saya duduk di kursi sebelah kanan. Sabuk pengaman dan alat komunikasi sudah terpasang. Mesin dinyalakan. Baling-baling berputar kencang menimbulkan angin kencang. Pak Agus menghidupkan GPS dan menekan beberapa tombol di kokpit. Meskipun pesawat ultra ringan, tetapi pesawat buatan Jerman ini dilengkapi dengan peralatan canggih. Selain GPS, pesawat ini juga dilengkapi dengan fasilitas auto pilot. Begitu mengudara, alat ini akan mengambil alih kerja pilot. Kita cukup memasukkan data-data yang diperlukan, maka alat canggih ini akan menghantarkan kita pada tujuan. Pesawat ini juga dilengkapi dengan transponder yang akan mengirimkan data-data penerbangan ke menara pengawas.
Pesawat dengan nomor registrasi PK-S 777 ini siap lepas landas. Cuaca di Yogyakarta cukup bagus. Pilot Agus meminta lalu izin menara pengawas. Sayangnya, izin belum bisa diberikan. Alasannya jarak pandang di landasan Wiriadinata Tasikmalaya hanya 4 km. Menurut peraturan, jarak pandang harus 5 km. Kami harus menunggu ada perubahan di Tasikmalaya. Hal ini membuat kami kecewa karena cuaca dapat berubah sewaktu-waktu. Kami khawatir cuaca ini akan berubah buruk. Secara teori, jarak pandang 4 km sebenarnya sudah cukup aman untuk penerbangan, namun karena peraturan menentukan angka 5 km, maka petugas di menara tidak dapat memberikan izin terbang.
Apakah penerbangan pertamaku dengan pesawat ultra ringan ini harus batal?
[Bersambung]
Untuk melihat videonya, lihat di sini:

Baca Juga:


