Submitted by PlainBread on

Tulisan ini mendadak saya buat. Karena ada dua kejadian berturut-turut yang inti di dalamnya sama, yaitu soal perilaku manusia.

Kisah pertama saya baca di sebuah surat kabar. Mengisahkan bagaimana salah seorang tokoh politik, anggota parlemen RI yang terkenal akan suaranya yang sering mengedepankan kejujuran dan anti korupsi, malah didakwa melakukan tindak pidana korupsi karena menerima traveller's cheque sebesar 1 milyar rupiah lebih.

Kisah kedua berasal dari sini. Roy Ashburn, senator Amerika yang selama menjadi senator selalu menentang perkawinan sejenis alias anti kaum homo, hari ini mengaku bahwa dia sebenarnya adalah seorang homosexual.


Bukan hal yang baru, karena selain pernah saya tulis di dalam blog saya mengenai perilaku manusia, ilmu psikologi juga mengenal tindak tanduk manusia seperti itu adanya. Sudah dibuktikan secara sejarah. Pemuka agama yang anti pelacuran, ternyata diam-diam melacur. Pemuka agama yang anti kekayaan, ternyata diam-diam menerima sogokan dalam jumlah besar. Pemuka agama yang anti judi dan mabuk-mabukan, ternyata adalah pemabuk berat. Tokoh politik yang sering mengatasnamakan wakil dari demokrasi, ternyata membuat kecurangan dalam politik.

Sebentar, sebentar!

Mungkin anda pikir mereka semua busuk, munafik, dan patut diberikan hukuman seberat-beratnya. Saya setuju.

Tapi ada satu hal yang mungkin orang sering lupakan. Bahwa ini adalah perilaku manusia pada umumnya. Terkejut? OK. That's good. Tapi kalau anda belum terkejut juga, ini mungkin bisa membuat anda sedikit berpikir: Perilaku yang saya ceritakan di atas, adalah hal yang saya dan anda lakukan juga!

Loh, kok?

Betul. Manusia pada umumnya, memiliki perilaku yang umumnya menjadi pola, trend atau pattern.

Kalau saya melakukan sesuatu dan menyukainya, namun saya tahu itu salah secara moral atau agama, selanjutnya akan ada pertentangan di dalam diri saya. Ketika hal ini berlanjut terus menerus, maka saya bisa dibilang sebagai addict, atau pemakai, atau orang yang ketagihan. Sampai sini saya yakin anda menganguk-nganguk setuju.

Tapi masalahnya bukan di situ. Masalahnya adalah jika saya adalah seorang aktivis agama, aktivis politik, aktivis masyarakat, aktivis gereja, atau bahkan pemuka atau pemimpin agama. Orang pada umumnya lebih peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentang diri mereka. Dan ketika saya dikenal orang, saya ingin orang mengenal saya menurut apa yang saya mau mereka ketahui.

Saya pernah harus mendobrak kamar teman saya yang juga adalah ketua sebuah yayasan Kristen, karena dia pingsan. Dia yang anti alkohol, anti dosa seksual, anti masturbasi, anti memakai obat, ternyata saya temukan dalam keadaan telanjang. Detailnya tidak perlu saya beritahukan. Saya takut anda akan muntah.

Pelajaran yang berharga buat saya.

 

Sejak saat itu, dan juga melihat berbagai pelajaran berharga yang lain, saya menjadi ekstra hati-hati. Saya anti sesuatu? Jangan-jangan hal yang saya "anti"-kan itu yang saya diam-diam lakukan dan menikmatinya, tapi saya tidak mau orang lain tahu.

Supaya orang lain lebih percaya atau lebih yakin bahwa saya tidak melakukan hal tersebut, sebagai layaknya manusia pada umumnya, saya akan berteriak, berkata bahwa hal tersebut anti saya lakukan. Saya akan menatap rendah orang-orang yang tertangkap basah melakukan hal tersebut. Saya akan menasihati dan mengkotbahi mereka bahwa itu tidak pantas mereka lakukan. Berhasil? Iya, saya berhasil mengelabui banyak orang, bahwa diam-diam saya melakukan yang sama. Yang penting adalah mereka tidak mengetahui diri saya yang sebenrnya.

Benar berhasil? Belum tentu.

 

Saya bisa saja anti kekerasan, anti doktrin, anti rok mini, anti judi, anti kemewahan, anti kemunafikan, anti debat, anti dosa seksual, anti glamour, anti barang mahal, anti barang murah, anti ini dan anti itu. Tapi saya harus jujur terhadap diri sendiri. Jangan-jangan itu hanyalah cerminan dari diri saya, alias diam-diam saya sebenarnya menyukai hal-hal tersebut. Cerminan dari diri saya, bahwa saya memiliki masalah besar di situ.

 

Dan tulisan ini juga merupakan pesan buat anda sebagai pembaca.

(Namun jika anda adalah tipe orang kristen yang sering mendengarkan kotbah di gereja dan berpikir "kotbah ini bagus buat si A, si B, si C", berarti tulisan ini memang bukan buat anda. Bukan, ini benar-benar bukan buat anda, tapi buat orang lain. Bukan anda).