Malam mulai merangkak naik
sang rembulan menampakkan wajahnya
semilir angin berhembus menyelimuti daging dan kalbuku
aku bertanya:
mengapa malam, rembulan dan semilir angin ada di otakku?
cuma satu alasan, karena aku ingin berpuisi.
kalau nggak ngapain juga gw mikirin malam, mau dia merangkak, mau dia loncat2 gw gak perduli. apalagi semilir angin, huh, sorry klo gak ingin berpuisi gw akan bilang di kamar gw udah ada kipas anginnya pake remote lagi.
aku mencintai malam, rembulan dan semilir angin,
tapi apalah artinya tanpa senyum di wajahmu? pahit bagai kopi basi.
mengapa engkau tak menyambut rembulan dg senyuman?
karena hatimu gundah gulana? atau engkau sedang risau dg otakmu? cobalah tersenyum.
aku cinta senyummu yg sudah lama tak kulihat.
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
senyummu itu jujur, meluap dari hati.
tidak seperti tukang apel yg kutemui di pasar, katanya 2 kg rp.10 ribu
tak tahunya kurang 2 ons. tukang buah penipu! walau banyak senyum.
walau banyak yg tak suka dg senyummu. aku berkata tetaplah tersenyum karena itu penghiburan buat hatiku.
mengapa tak semua orang bisa tersenyum seperti engkau?supaya indah duniaku.
jadi kapan engkau dapat tersenyum? tak perlu menunggu rembulan dan malam yg merangkak bukan?
senyumlah dari hatimu...itu sudah cukup buatku.
puisi ini buat si sahabatku smile, yg banyak menginsirasi gw. thx bro...keep on making me smiling..gbu.