Submitted by smile on

Cerita dilanjutkan.

 
Sebenarnya aku sendiri juga sedang butuh siraman rohani yang bisa menguatkan aku dari krisis yang kualami dalam hidupku belakangan ini.Tapi bak seorang pahlawan, aku mengesampingkan itu semua, dan mengatakan kepadanya bahwa aku siap menjadi teman curhatnya, menjadi teman berbagi nya, dalam menghadapi semua permasalah yang dia alami.
 
Akhirnya tak tahan juga hanya melihat tulisan demi tulisan yang menghiasi layar monitor laptopku, aku berkata padanya bisakah aku menelpon dia saja. Dia pun mengatakan, boleh, tapi setelah dia pulang kantor nanti. Akhirnya kami pun janjian untuk bicara lewat telepon jam 7 malam ini.
 
* * * *
 
Lalu saat malam sudah menunjukkan jam 7 lewat satu menit, aku menelpon dia.


“Halo, sapaku....”
Lalu disebelah sana putri menyahutiku, dan mengatakan kalau dia baru saja selesai makan. Kebetulan, pikirku.


Lalu aku mengatakan, Mari Putri, kita lanjutkan chatingan tadi siang....
Dia mengiyakan,...selesai itu, kembali dia melanjutkan keluh kesahnya tanpa malu malu lagi...
 
“Bagaimana aku bisa melupakan perlakuan nya selama ini padaku, Ko ?” …
Susah sekali mengiklhlaskan , apalagi mengampuni”
 
“Saat dia masih nganggur, dan masih hidup dalam kesusahan, saya selalu hadir menemaninya,…”
 
“Tapi sekarang saat dia sukses dan punya banyak harta, kenapa dia meninggalkan dan mencampakkan saya seperti sampah, saya tidak rela!”
 
Aku sendiri bingung, harus memulai darimana untuk berkata pada putri. Kubiarkan saja dia mengeluarkan semua uneg unegnya, agar bisa mengurangi beban yang menghimpit dan menyesakkan hidupnya.
 
“Dulu saat susah, dia selalu baik kepadaku, dan selalu berlaku manis padaku,”
"Kubantu dia mencari pekerjaan, berulang dan berulang, sampai akhirnya dia menemukan pekerjaan yang cocok buat masa depannya dan dari situlah aku yang mengatur keuangannya, menyimpankan dan juga dari penghasilanku kutambahkan untuk menabung buat usaha kami yang akan kami mulai setelah punya cukup modal."


"Hampir 10 tahun aku menjadi akuntan pribadinya, sekaligus menjadi pemberi dana buatnya, tapi sekali lagi, aku dicampakkan setelah kesuksesan berpihak kepadanya.”
"Aku merasa itu semua adalah jerih payah kami berdua, tapi,….sialan!!!”
 
Aku masih terdiam, menunggu dia bercerita lagi....paling hanya berkata, hmmm...hmmm...ya...oh....
 
Aku cuma bisa bilang, teruskan,.."keluarkan semua uneg unegmu,…."
 
“Bayangkan, ko,…dia juga suka memaki aku terlebih diakhir akhir hubungan kita,”
"Kata kata kotor juga selalu menghiasikata katanya.”
“Aku malu pada diri sendiri ketika mengingatnya, begitu perih hati ini mendengarnya,….”


Bangsat, Anjing, goblok, tolol, perek, pelacur,..suka keluar dari ucapannya.


Aku terdiam,…menghela napas panjang…aku makin miris mendengar ceritanya,..entah mau mulai dari mana untuk menasehatinya, dan memulai pelayanan ku sebagai penyiram rohani buatnya…


Ya Allah, mampukan aku,..beri aku petunjuk,…..aku benar benar bingung. Bicara mudah, tapi menjadi berkat dan semangat buat orang lain itu tidak sekedar hanya pandai berkata kata saja, tapi harus disertai kasih dan campurtanganMu, agar kepahitan itu bisa hilang menjadi sukacita.


Aku belum bisa menasehatinya, hanya mengajaknya berdoa saja,..aku mengatakan kepadanya, beri aku waktu untuk bisa memberi sharing dan masukan yang berguna buatmu.
 
Semoga Allah yang Kuasa, Memberi petunjuk, dan blogger blogger memberi juga masukan.
 
Bersambung
Sembari menunggu petunjuk….
 
 
Dia memarahiku ( Bagian2)


smile
Juni 25th-2010
Friday