Submitted by
Purnomo
on
Jika dulu sepuluh jerawat di wajahnya tak pernah diurusnya, sekarang setitik noda hitam di pipi sudah membuatnya stress. Jika dulu dia meyakini bersih-bersih rumah adalah tugas ibunya, sekarang tanpa disuruh dia rajin menjaga kebersihan dan kerapian ruang tamu rumahnya. Jika dulu bisa-bisanya ia pergi kuliah tanpa sikat gigi, sekarang satu sikat gigi sudah rusak sebelum satu minggu. Tak perlu tanya mengapa. Everyone knows the reason.
– o –
Di kantin gereja saya melayani para nasabah bank titil (mengambil secuil-secuil) – begitulah seorang teman menamai kegiatan diakonia bayangan yang kami lakukan di gereja setelah melihat saya mengumpulkan uang dari para donatur seusai ibadah pagi. Di sektor beasiswa beban bank titil ini tidak lagi berat sejak Departemen Pendidikan gereja yang merasa disaingi mulai berbenah diri dengan menaikkan jumlah santunannya. Ketika Departemen masih memberikan santunan ala kadarnya maka jumlah santunan yang dibagikan oleh bank titil jauh di atas jumlah santunan legal. Hampir seluruh siswa yang kami santuni adalah penerima santunan beasiswa gereja yang kami saring berdasarkan nilai prestasi sekolah dan kerajinannya menghadiri ibadah di gereja. Bila SPP-nya 100 ribu rupiah dan ia telah menerima 40 ribu rupiah dari gereja, maka kami memberi kekurangannya sebesar 60 ribu rupiah. Bila nilai prestasinya di atas rata-rata kami menambah bonus 5% sampai 15% dari SPP-nya.
Hana menyodorkan fotokopi pelunasan SPP-nya. Gadis ini sekolah di SMK. Saya memberikannya selembar kwitansi dan uang santunannya.
“Setelah lulus SMK mau kuliah di mana?” tanya saya.
“Ekonomi Satya Salatiga,” jawab gadis berwajah cantik ini.
“Berarti kamu harus kos dan itu butuh biaya yang tidak sedikit. Lalu biayanya dari mana?”
“Oom saya yang di Surabaya yang membiayai.”
Saya menoleh ke arah Rianto siswa SMK Otomotif yang berdiri di belakang kursi Hana.
“Ri, kalau kamu mau melanjutkan ke mana?”
“Tidak tahu,” jawabnya.
“Kurang 5 bulan kamu masih tidak tahu mau kuliah ke mana?”
“Saya mau bekerja.”
“Kok saya tidak ditanya, Oom?” tanya Meme yang berdiri di samping saya didampingi 2 cewek of her gang.
“Ngapain tanya-tanya kamu? SMP saja belum selesai.”
“Ya tanya dong, mau ke SMA mana nanti?”
“Santunan berhenti kalau kamu masuk SMA.”
“Kalau gitu tanyalah mau ke SMK mana?”
“Selesai SMP kamu mau masuk sekolah pembantu jururawat? Setelah lulus kamu bisa jadi baby sitter.”
“Nggak mau, nggak enak. Belum menikah masa mengurusi bayi.”
“Tapi kalau orangtuanya kaya enak Me,” komentar temannya. “Kalau sekeluarga pesiar ke luar negeri kamu pasti diajak.”
“Kalau papinya godain aku, gimana?” tanyanya sambil memiringkan kepala.
“Halah, ge-er banget kamu. Mentang-mentang paling cantik se-RT,” kata saya sambil menyodorkan uang dan kwitansi yang harus ditandatanganinya.
Ketika Rianto menyerahkan kwintansi penerimaan santunan, para gadis sudah pergi. Ia pendiam. Karena itu saya pikir ia bisa berterus terang bila tidak didengar banyak orang.
“Kamu ingin bekerja sebagai apa?”
“Kalau saya kuliah apa masih akan dibantu biayanya?”
“Kamu mau kuliah di mana?”
“Teologi,” jawabnya mengagetkan saya.
“Kamu mau jadi pendeta?” tanya saya. Siapa tahu dengan gelar STh ia hanya ingin bekerja sebagai guru agama, guru BP atau karyawan kantor gereja.
Ia menganggukkan kepala.
Saya bingung. Bagaimana orang yang hanya ke gereja untuk menghadiri ibadah remaja saja ini bisa punya cita-cita jadi pendeta?
Orang tuanya bercerai. Bersama adiknya ia tinggal dengan mamanya yang bekerja serabutan. Penghasilan mamanya yang tidak seberapa menyebabkan ibu ayahnya membayari sewa rumahnya dan membantu biaya kebutuhan sehari-hari. Mamanya mengajar Sekolah Minggu dan ikut paduan suara kaum ibu. Tetapi Rianto? Selain pergi ke gereja untuk beribadah ia hanya bersepeda ke gereja pada hari lain untuk memboncengkan mamanya menghadiri kelas persiapan GSM. Apakah benar ia mendapat panggilan untuk menjadi pendeta? Atau, apakah ia mau masuk teologi sekedar kuliah tak berbayar? Ah, saya memang jahat, selalu negative thinking.
“Begini, Ri. Setahu saya Departemen Pendidikan gereja kita juga memberi santunan kepada anggota jemaat yang kuliah di teologi. Tidak banyak, hanya 300 ribu setiap bulan. Jika kamu ingin disantuni seluruh biayamu, juga biaya makan dan kos bila kuliahnya di luar kota, maka permohonanmu harus dirapatkan oleh sidang pleno majelis.”
“Kalau dananya dari Oom sendiri?” tanyanya berharap.
“Saya tidak bisa memberi jawaban sekarang karena harus berunding dengan teman-teman. Tetapi saya baru akan merundingkannya bila kamu sudah mengikuti kegiatan pelayanan di gereja yang selama ini tidak pernah kamu ikuti. Mulai Minggu depan jadilah guru Sekolah Minggu. Setelah 5 bulan melihat kamu mengajar, saya akan terlebih dahulu menulis surat kepada Departemen Pendidikan karena ini menyangkut jumlah uang yang tidak sedikit. Jangan mengira jadi guru SM itu gampang. Tugas GSM itu mirip pendeta. Tanya kepada Mama, siapa saja guru SM di gereja ini yang kemudian masuk teologi. Jumlahnya tidak sedikit. Oke?”
Ia hanya menganggukkan kepala sebelum pergi meninggalkan saya.
Ia tidak tahu, demikian juga warga gereja ini, bahwa konspirasi diaken bayangan ini sedang membiayai seorang yang kuliah di teologi. Gadis ini sudah bekerja dengan gaji bagus. Tetapi karena the divine call ia meninggalkan pekerjaannya dan pergi ke Malang. Menjelang keberangkatannya saya mencarinya.
“Sudah ada sponsor?” tanya saya.
“Sudah,” jawabnya.
Karena itu beberapa bulan kemudian saya terkejut diberitahu ayahnya dia akan berhenti kuliah. Cerita ayahnya selama ini biaya kuliah dan pondokan datang dari adik-adiknya yang sudah bekerja. Dia membohongi saya tentang adanya sponsor karena kuatir gereja menawarinya santunan. Ibunya sudah “bersumpah” tidak akan mau menerima beasiswa karena pernah sakit hati ketika anak-anaknya masih kecil beasiswanya dicabut gara-gara ia kelupaan datang ke gereja pada tanggal yang telah ditentukan untuk mengambilnya. Lagipula gereja pasti menolak membantunya karena dia masuk ke sekolah teologi yang tidak “direstui” denominasi gereja kami.
Adanya kenaikan biaya pondokan dan makin beratnya beban hidup adik-adiknya semenjak mempunyai anak-anak perdana, membuat dia ingin berhenti kuliah.
“Tolong kabari anakmu, jangan keluar dulu. Beri aku waktu 2 minggu untuk mencari orang yang mau menanggung biaya pondokan dan makannya,” saran saya.
Hanya butuh waktu satu minggu untuk mengatakan kepada ayahnya, “Kabari anakmu, jalan terus jangan berhenti. Bulan ini santunan mulai dikirim ke rekening tabungannya. Tidak ada pernjanjian tertulis, tidak ada ikatan. Maksudku, ada uang aku kirim, tidak ada uang aku kirim doa saja.”
Kegiatan yang dilakukan gadis ini selama bertahun-tahun di Sekolah Minggu dan Departemen Penginjilan gereja kami menunjukkan dedikasi pelayanannya yang tinggi. Inilah yang menjadi selling point saya ketika menodong beberapa orang. Begitu saya menyebut namanya, langsung mereka setuju jadi penyandang dana. Setiap bulan saya mengirim dana yang jumlahnya naik turun sekitar 900 ribu rupiah. Beban ini sangat berat sehingga saya tidak pernah berpikir akan bisa terus mengirim uang sampai kuliahnya selesai. Awal Juni 2010 saya melakukan pengiriman terakhir. Kuliahnya telah selesai dan dia akan praktek selama setahun di sebuah gereja sebelum diwisuda. Beberapa hari yang lalu dia menemui saya untuk memberikan sebuah surat yang ditujukan kepada para penyantunnya.
Ada kalimat dalam suratnya yang menarik. “Saya melihat teladan yang indah yang Bapak/Ibu tunjukkan, melalui kerendahan hati Bapak/Ibu sekalian yang tidak ingin menyatakan jati diri Bapak/Ibu sekalian. Saya bersyukur dan berterima kasih untuk perhatian, bantuan dan teladan yang diberikan kepada saya dan biarlah segala kemuliaan hanya bagi Dia.”
Jangankan dia, sedangkan para donaturnya juga tidak saling mengenal. Selama 32 bulan dalam setiap laporan kas bulanan yang saya kirim kepada para donatur, nama mereka saya ganti dengan kode atau inisial. Saya tidak ingin yang memberi donasi terkecil merasa rendah diri dan sebaliknya. Hanya saya yang mengenal setiap mereka. Ups, seharusnya! Karena ada 2 donatur di antara mereka yang tidak saya kenal. Setiap bulan mereka memberikan uangnya melalui teman-teman saya.
Tetapi bagaimana saya harus “menjual” Rianto? Hal ini saya ceritakan kepada seorang pengurus Departemen Beasiswa. Keinginan Rianto ternyata telah sampai kepadanya. Mama Rianto berbicara kepada full timer gereja yang kemudian merekomendasikan ke Departemen Beasiswa untuk mendapat santunan penuh. Secara pribadi pengurus itu sependapat dengan saya, Rianto harus membuktikan kesungguhan panggilannya melalui kegiatan pelayanan di gereja.
Belum sampai 2 minggu kemudian ibunya melapor ke majelis bahwa Rianto stress berat karena ditekan oleh Purnomo. “Apa salah saya?” tanya saya kepada majelis yang menginterogasi saya. “Apa salah saya membuat aturan sendiri jika yang diminta uang saya? Lebih baik Departemen Beasiswa yang mengurusinya dimana majelis punya wewenang merubah kebijakannya. Silakan memberikan uang jemaat kepada orang yang masuk teologi tanpa menguji kesungguhan panggilannya terlebih dahulu agar majelis tidak dikritik sebagai kumpulan orang yang tidak berbelas kasihan.”
Untung Rianto membatalkan niatnya masuk teologi. Ini lebih baik daripada ia menjadi guru SM sekedar mendapatkan beasiswa. Bagi saya sama halnya dengan orang kasmaran, the divine call tanpa harus dibuktikan akan menampakkan diri kepada orang lain. Jika dulu sepuluh jerawat di wajahnya tak pernah diurusnya, sekarang setitik noda hitam di pipi sudah membuatnya stress. Jika dulu dia meyakini bersih-bersih rumah adalah tugas ibunya, sekarang tanpa disuruh dia rajin menjaga kebersihan dan kerapian ruang tamu rumahnya. Jika dulu bisa-bisanya ia pergi kuliah tanpa sikat gigi, sekarang satu sikat gigi sudah rusak sebelum satu minggu. Tak perlu tanya mengapa. Everyone knows the reason.
Dulu di SMP kelas 3 saya punya seorang teman yang kami juluki pendeta. Bukan hanya karena ia bisa membawakan renungan setiap Senin pagi di depan kelas, tetapi juga karena ia tidak mau bergabung dengan teman-temannya melakukan perbuatan yang melanggar peraturan sekolah. Saya tidak suka berbicara dengannya karena selalu saja ia menyitir ayat-ayat Alkitab yang ia hafal luar kepala. Bahkan saya membencinya ketika ia mulai membujuk saya untuk datang ke kebaktian remaja di gerejanya. Minggu pagi menjelang pukul 6 ia naik sepeda ke rumah saya. Ibu membangunkan saya. Saya tidak mau beranjak dari tempat tidur dan menyuruh Ibu mengusirnya. Jika nanti di sekolah saya menegur perbuatannya yang mengganggu kenyamanan hidup saya itu, selalu saja ia berkotbah tentang perlunya saya menerima Yesus sebagai Juruselamat. Ia tak pernah kapok diusir Ibu setiap Minggu subuh. Sampai akhirnya Ibu membujuk saya untuk pergi dengannya karena Ibu takut tetangga menganggapnya perempuan judes.
Saya terpaksa bangun dan mandi. Ia memboncengkan saya yang masih terkantuk-kantuk. Selesai kebaktian remaja saya bilang tak mau lagi ikut dengannya. Saya tidak suka melihat yang hadir saling melempar kerikil waktu kotbah. Ruang kebaktian itu sedang dibangun sehingga lantainya masih berupa tanah bercampur kerikil. Tetapi Minggu berikutnya ia datang lagi menjemput saya. “Yok, kita pergi ibadah di kebaktian dewasa gereja lain,” bujuknya. Dan kemudian kami menjadi jemaat termuda di ruang ibadah itu. Ia rela meninggalkan komunitasnya untuk menemani saya.
Suatu kali ketika saya mengatakan ingin membaca seluruh isi Alkitab, dengan kegirangan yang teramat sangat ia meminjamkan miliknya. Mengetahui kertasnya sangat tipis saya menolak karena takut robek. Ia bilang tak mengapa asalkan saya mau membacanya. Ia bukan anak orang kaya. Ayahnya mencari nafkah melalui warung kelontongnya. Keluarga saya keadaan ekonominya tidak lebih baik darinya sehingga bila Alkitab itu rusak saya tidak mungkin bisa menggantinya. Tetapi ia memaksa saya membawa pulang Alkitabnya. Ia merelakan miliknya rusak bahkan hilang demi menginjili saya.
Saya lega ketika SMA kami tidak satu sekolah. Usahanya terakhir di SMP mengajak saya ikut katekisasi gagal karena saya lebih menyukai setiap Rabu sore berlatih yudo. Suatu saat pemilik tempat latihan itu pindah ke kota lain. Karena lupa, Rabu sore saya naik sepeda menuju sekolah yudo itu. Karena telah terlanjur di jalan, entah mengapa saya merubah arah menuju gereja. Saya masuk ke ruang di mana katekisasi sedang berlangsung. Saya bertanya kepada bapak pendeta apakah saya boleh ikut walau kelas itu sudah berlangsung setengah tahun. Pendeta memperbolehkan saya bergabung. Celaka! Ternyata teman yang menyebalkan itu ada di situ. Benar dugaan saya. Ia membujuk saya mengikuti kegiatan kespel. Lulus SMA ia masuk sekolah teologi dengan biaya sendiri. Sekarang ia adalah salah satu petinggi sinode denominasi gereja kami.
Tidak salah syair lagu First Love yang dinyanyikan oleh Nikka Costa:“Every one can see, there’s a change in me. They all say I’m not the same, kid I used to be.” Yes, everyone can see there’s the divine call in me. Tidak perlu berteriak-teriak “Aku mau jadi pendeta” apalagi mengatakan “Seperti Tuhan memanggil Samuel kecil, begitu juga Tuhan telah memanggil saya. Suatu malam ketika tidur saya mendengar Tuhan menyebut nama saya tiga kali.” Kalaulah Anda saat ini merasa mendapat panggilan untuk menjadi pendeta, sudahkah Anda mencermatinya dengan sungguh? Saya kuatir yang Anda sebut panggilan hanya sekedar emosi membuncah akibat menghadiri sebuah KKR yang gegap gempita. Atau, itu hanya dorongan hati semata-mata akibat melihat betapa seorang pendeta dimuliakan oleh banyak orang.
Is there any change in you? Do many people say you are not the same you used to be? Apakah Anda mencintai Firman Tuhan dan berusaha keras menaatinya seperti seseorang keep doing his best untuk menyenangkan hati kekasihnya? Apakah Anda mempunyai kerinduan yang sangat untuk membawa orang lain menerima Tuhan Yesus sehingga kerinduan itu Anda bawa dalam karya bukan karsa semata? Apakah Anda rela mengorbankan harga diri dan uang pribadi demi melakukan sesuatu yang berkenan kepada Allah? Apakah Anda tanpa paksaan orang lain menjalani hidup doa dan perenungan yang teratur?
Jika ya jawaban Anda, berarti Anda betul-betul memiliki the divine call untuk menjadi seorang pendeta. Go ahead dan yakinlah Tuhan akan meratakan jalan menuju ke sana.
(the end – 30.06.2010)
Catatan: Semua nama telah disamarkan.