Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Empat Tahun Kepergian Gregorius Sidharta Soegijo

Indonesia-saram's picture

Empat tahun lalu, dunia seni rupa Indonesia harus kehilangan salah seorang senimannya. Gregorius Sidharta Soegijo tutup usia pada umur 73 tahun. Sosok yang dianggap sebagai pembaru dalam dunia seni rupa, khususnya seni patung ini, meninggal setelah mengalami sesak napas akibat kanker paru-paru, pada tanggal 4 Oktober 2006 di Rumah Sakit Dr. Oen, Solo.

Siapakah Gregorius Sidharta Soegijo?
Gregorius Sidharta SoegijoGregorius Sidharta Soegijo (GS) dilahirkan pada 30 November 1932. Ia mengenyam pendidikan seni rupa dari Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta (kini bernama ISI Yogyakarta) mulai tahun 1950 sampai 1953, lalu melanjutkan ke Jan Van Eyck Academy of Visual Arts di Maastricht, Belanda hingga tahun 1957. Di Belandalah ia menghadapi modernisme dan formalisme, sesuatu yang ia bawa kembali ke Indonesia di tengah pergolakan politik anti-Barat.

Seorang pria yang keras, tangguh, dan disiplin. Begitulah GS dikenal oleh anak-anaknya. Ia disebut sangat menekankan disiplin dan sopan santun. Istrinya, Maria Sri Noerna Sidharta, bercerita bahwa GS sangat mendisiplinkan diri ketika mengajar di ITB. Tidak pernah GS bersantai sebelum berangkat. Pukul 7.00 pagi, ia sudah tampak rapi.

GS diakui sebagai pembaru dunia seni rupa. Ketika pertama kali membuat patung dari kayu yang sebagian permukaannya dipoles cat dengan warna-warna primer, ia dianggap menyalahi pakem seni patung yang kala itu lebih menekankan menunjukkan kualitas materi patung. Salah satu karyanya saat itu diberi judul ”Warna dengan Dimensi” (1971). Bagi GS, patung tidak lagi dianggap sebagai sekadar eksplorasi bentuk formal dengan mengekspos kualitas bahan, tetapi juga sikap rasional terhadap bentuk bercampur dengan ekspresi emosi.

Karya-karya
GS merupakan salah seorang seniman yang ditugasi Bung Karno untuk membuat mural mozaik untuk Hotel Indonesia. Tugas ini terbilang berat karena harus dikerjakan dalam tempo yang singkat, yaitu diumumkan pada bulan April, dan harus selesai pada bulan Desember 1961. Konon anggaran pembangunan ini sebesar Rp2 juta.

Tidak ada satu pabrik keramik pun yang sanggup memenuhi permintaan GS untuk proyek besar ini. Sampai industri keramik kecil di Tulungagung (sebelumnya bernama Lembaga Penyelenggara Industri Negara) pimpinan Henricus Sandy Moerdani (yang merupakan kakak kandung istri GS) bersedia memenuhi permintaan GS. Ibu Noerna, istri GS, menyebut ini sebagai tindakan bunuh diri. Sebab praktis kakaknya itu menghentikan kegiatan pabriknya yang tiap tahun mendatangkan pemasukan sekitar enam jutaan rupiah demi menyelesaikan mural mozaik tersebut.

Maka mural mozaik sepanjang 36 meter dan setinggi 4 meter itu menjadi karya seni mozaik pertama di Indonesia. Dan Sowarjono yang meliput kegiatan penyelesaian itu menyebut anggaran yang disediakan pemerintah jelas tidak sebanding dengan hasilnya.

Pada tahun 1966, GS juga membuat karya besar lain. Ia membuat patung Garuda Pancasila tiga dimensi dari tembaga berukuran 500 x 600 x 160 cm. Patung ini ditempatkan di ruang sidang utama Gedunga DPR-MPR RI.

Berbagai karya publik lainnya, misalnya Monumen Proklamasi yang dirancang dan dibangun bersama Nyoman Nuarta (1979), Monumen Tonggak Samudra di Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Priok (1980), patung Pipa-pipa dan Energi di Wisma Bakrie, Kuningan (1985), Salib di kampus Universita Katolik Atma Jaya (1986), patung perunggu St. Servatius, Kampung Sawah, Beksi (1996), patung Dr. Oen (1996).

GS banyak membuat salib. Entah itu salib dengan tubuh Kristus, salib polos, bahkan pernah pula ia membuat Kristus disalib tanpa salib. Karya terakhirnya diberi judul ”Salib Kedamaian”, yang dibuat awal 2006 dari perunggu. Beginilah kutipan catatan almarhum.

Keadaan dan suasana jauh berbeda dengan tahun-tahun yang lalu. Setelah mengalami sakit yang berat dan berkepanjangan sejak Agustus 2005, suasana kejiwaan saya berada dalam kepasrahan.

Kali ini saya menginginkan salib yang memberikan ketenangan dan keseimbangan. Saya memilih sikap tubuh yang santai seakan Kristus sedang beristirahat. Beristirahat dalam ketenangan dan kedamaian

Jogja, 23 Sept 2006
G. Sidharta Soegijo

Apresiasi
Minggu siang, 3 Oktober yang lalu mungkin merupakan titik awal perkenalan saya secara lebih dekat dengan GS. Kunjungan ke rumah Jalan Kusumanegara 187 itu sudah saya idam-idamkan sejak beberapa bulan lalu. Utamanya memang bukan untuk mengenal GS, melainkan berbincang-bincang dengan sang istri, Ibu Maria Sri Noerna Sidharta.

Jika sang suami merupakan seorang perupa ternama, sang istri ternyata tidak mau kalah dalam berkarya. Beliau menulis sejumlah novel yang kualitas isinya diakui oleh Korrie Layun Rampan. Hari Esok Masih Panjang (Grasindo, 2002) merupakan salah satu karyanya. Bahkan Sebebas Unggas Udara pernah menjadi pemenang sayembara menulis pada tahun 1970-an, kala itu diterbitkan oleh Cypress. (Sebebas Unggas Udara kemudian diterbitkan oleh Grasindo dalam dua volume).

Ibu Noerna banyak juga banyak bercerita tentang almarhum GS. Sesuatu yang membuat saya merasa cukup mengenal pribadi GS. Beliau bercerita bagaimana GS sering main ke Asrama Putri di Kebayoran, Jakarta. GS pernah hendak dicomblangi oleh Ibu Toeti, pimpinan asrama putri tersebut. “Kenapa waktu itu kau menolak tawaran Ibu Toeti?”, tanya Ibu Noerna. ”Jawabannya sinis sekali dan meledek,” begitu GS menjawab.

Di rumah itu pulalah saya menikmati sejumlah karya GS. Mulai dari lukisan dirinya sendiri, berbagai lukisan bernuansa abstrak, termasuk patung ”Topeng” yang pernah dipajang di Bentara Budaya Jakarta.

Meski tidak mengenal langsung, saya mendapat kesan yang kuat, betapa GS bukan sekadar orang yang getol berkarya, melainkan juga seorang suami yang sangat mengasihi keluarganya, seorang yang juga kocak, bahkan sangat memperhatikan cucu-cucunya.

Empat tahun sudah ia meninggalkan dunia, tetapi semangatnya masih diteruskan oleh semua orang yang mengenalnya, meskipun saat ini praktis hanya putranya, Gregorius Bima Bathara Sidharta yang tampaknya mengikuti jejak sang ayah untuk berkesenian.

Beliau dimakamkan di Pemakaman Keluarga Besar Moerdani di Bonoloyo, Mojosongo, Solo.

__________________

_____________________________________________________________
Peduli masalah bahasa? Silakan bertandang ke Corat-Coret Bahasa saya.