Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Orang yang "Menderita" (Gali Kata Alkitab dari Tinjauan Tulisan Ibrani Kuno)

Hery Setyo Adi's picture

Kata “menderita” berpadanan dengan kata Ibrani ‘ani (disusun dari huruf-huruf: Ayin-Qames-Nun-Hiriq Yod). Kata tersebut antara lain berarti juga: “yang diliputi oleh kekurangan”, “lemah” atau “miskin”, “hina”, atau juga “rendah.”

Kata Ibrani ‘ani diturunkan dari akar-kata induk ‘N (Ayin-Nun). Dalam piktograf Ibrani kuno, huruf Ayin berbentuk gambar mata, sedangkan huruf  Nun berupa sebuah gambar benih yang berarti kelangsungan atau kelanjutan. Gabungan dua gambar tersebut berarti “mata kelangsungan.”

Petani nomadik dengan seksama mengawasi binatang ternak dan tanamannya. Ia menjaga  dengan mata yang terus-menerus tertuju kepada ternak dan tanamannya itu. Jika hewan piaraannya diserang binatang buas, maka ia langsung mengetahuinya dan membelanya, karena matanya terus mengawasinya. Jika tanaman atau hasil panenan didatangi perusak atau pun pencuri, ia pun segera mengetahuinya dan melawannya, karena ia mengamatinya terus-menerus. Matanya terus melihatnya demi kelangsungan hidup hewan piaraan atau pun tanamannya itu. Jika mereka tidak dibela, maka mereka akan mati di tangan musuh.

Dengan demikian makna kata “menderita” berarti suatu keadaan seseorang atau sesuatu yang diliputi kekurangan, lemah, miskin, hina, dan rendah, yang memerlukan “mata kelangsungan”. Mereka membutuhkan “mata kelangsungan” dari pihak lain agar pihak lain tersebut terus-menerus melihatnya demi kelangsungan hidupnya.

Etika Sosial Umat Tuhan

Musa memagari umat Israel dengan etika sosial, di antaranya mereka harus melaksanakan kewajiban sosial terhadap sesamanya. Misalnya, mereka dilarang memeras pekerja harian yang miskin dan menderita, baik orang asing apalagi sesama bangsanya (Ulangan 24:14).

Dalam perikop Ulangan 24: 6-22 didaftar kelompok orang yang perlu mendapatkan perhatian dari sesamanya. Di samping pekerja harian yang miskin dan menderita (ayat 14) tersebut,  inilah kelompok sosial yang wajib dilindungi: orang miskin (ayat 12), orang asing dan anak yatim, dan janda (ayat 17, 19, 20, 21).  Kebaikan umat Israel terhadap masyarakat tertindas itu akan mendatangkan berkat bagi umat itu sendiri karena doa mereka (ayat 13). Sebaliknya, pemerasan akan mendatangkan dosa bagi umat itu, karena doanya kepada Tuhan (ayat 15).

Implikasi

Seorang anak Tuhan, kenalan saya, memiliki sebuah pabrik di kawasan Jawa Barat. Pabriknya itu sampai hari ini masih beroperasi. Saya pernah mendengar kesaksiannya, bahwa dirinya sangat diberkati Tuhan. Ketika krisis global terjadi, ia pun bersaksi bahwa perusahaannya tidak goyah.

Namun saya mendengar berita yang kurang sedap didengar. Salah seorang karyawannya bercerita kepada saya, bahwa ia sangat pelit dalam hal menggaji karyawannya.  Gaji yang diterimanya sangat kecil, tidak cukup untuk menghidupi keluarganya.  Gaji karyawan di perusahaan itu tergolong paling kecil di antara gaji karyawan dari perusahaan-perusahaan lain di sekitarnya.

Saya memang tidak pernah menanyakan hal itu kepada kenalan saya. Jika berita itu benar, maka alangkah bersalahnya ia di hadapan Tuhan. Ia tidak bisa menjadi berkat jasmani bagi orang lain. Bahkan, ia tidak dapat memantulkan kasih dan berkat Tuhan yang telah diterimanya bagi para karyawan. Saya berpikir, “Wah, seandainya seorang anak Tuhan memiliki sebuah perusahaan dan mau menggaji karyawannya 10%, 20%, 30%, atau bahkan 50% di atas UMR (upah minimum regional), alangkah banyaknya doa-doa berkat akan disampaikan para karyawannya.”

Orang-orang yang menderita dihadirkan Tuhan untuk mendapatkan perhatian dan perlindungan kita. Mereka adalah orang-orang yang perlu “mata kelangsungan” agar kita memperhatikannya, sehingga mereka tetap hidup. Sudahkah orang-orang yang menderita itu mendapatkan “mata kelangsungan” dari kita?

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan rujukan dari berbagai sumber)