Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Oskab

victorc's picture

Shalom, selamat pagi saudaraku. Kali ini izinkan saya menulis tentang kota kami. Salah satu kegemaran orang-orang di kota kami adalah "oskab." Kalau Anda bingung apa itu oskab, cobalah mengejanya dari belakang, maka akan ketemu kata "bakso."
Ya, bakso adalah salah satu makanan favorit di sini. Di mana-mana dengan mudah Anda akan menjumpai orang menjual bakso baik yang permanen atau dengan sepeda motor. Selain itu ada versi jumbo dari bakso ini yang disebut "bakso tenis," ukurannya sekepalan tangan orang dewasa. 

Bahasa balikan
Sengaja saya menulis oskab (bukan bakso), karena kegemaran lain warga kota kami adalah mengeja berbagai kata secara terbalik. Konon bahasa balikan ini dulunya digunakan oleh para preman pasar, mirip dengan asal-usul bahasa prokem di Jakarta. Intinya adalah menggunakan bahasa sebagai kode yang hanya dikenal oleh kalangan khusus tersebut. Namun kini bahasa balikan juga dikenal oleh kebanyakan anak SMA dan mahasiswa, khususnya yang merupakan penduduk asli kota kami. Saya sendiri mulai mengenal bahasa balikan tersebut sejak duduk di bangku SMP.
Salah satu contoh bahasa balikan adalah "umak" untuk kamu. Kata-kata lain yang sering dibalik adalah kawan (nawak), polisi (silup), pulang (ngalup), makan (nakam), ipok (kopi), tidak main (kadit neam), dan tidak mengerti (kadit itreng). Penggunaannya misalnya: nawak ewed (Ind. kawan sendiri). Ada juga kata-kata dalam bahasa jawa yang biasa dibalik seperti luwe menjadi "ewul" (lapar), dan sego pecel menjadi "oges lecep" (nasi pecel).

Tapi tidak semua kata lazim dibalik-balik seperti ini. Maka jarang Anda jumpai orang mengucapkan bahasa balikan: isan, uhat, otos, etas, atau het, meskipun kata-kata ini memenuhi aturan pembalikan tersebut.


Hilangnya ciri kota kami
Sebagai salah satu warga yang lahir dan tumbuh di kota ini, saya merasakan banyak hal yang telah hilang dibandingkan saat dulu. Misalnya saja, makin banyak ruko tersebar di sekujur penjuru kota, sehingga kota kami layak disebut sebagai "kota ruko." Selain itu jalanan sering macet, terutama pada hari-hari libur besar seperti sekarang, karena luberan mobil pengunjung dari berbagai kota lain. Kadang-kadang bisa macet total selama sejam atau lebih.
Dulu kota kami dikenal sebagai kota bunga, namun kini mungkin lebih tepat dijuluki kota plastik, karena bunga-bunga di taman kota ini telah diganti dengan bunga plastik yang dibeli khusus dari Tiongkok.
Dan akhir-akhir ini ada suatu peristiwa yang cukup meresahkan sebagian penduduk kota kami, yaitu patung Ken Dedes setinggi 6 meter lebih yang merupakan kebanggaan kota kami, oleh petugas dicat putih-putih dengan alasan yang tidak jelas. Padahal bangunan candi di mana pun di nusantara ini selalu berwarna hitam, karena dahulu belum ada cat. Karena itu sebagian warga kota berencana untuk mengembalikan warna patung tersebut ke warna aslinya.

Penutup
Sebagai penutup, warga kota kami berharap -sebagaimana juga banyak kota dan kabupaten lainnya di seluruh Indonesia- agar Pilkada tahun depan akan menghasilkan para pemimpin daerah yang tidak saja mumpuni, jujur dan bersih, namun juga mampu mengembalikan ciri budaya dan atribut-atribut kebanggaan kota dan kabupaten masing-masing. Bisa jadi suatu hari nanti istilah pengamat budaya di kota kami akan memperoleh julukan baru yaitu: "tamangep ayadub" :-)
Saya sendiri yakin, jika ciri dan keunikan budaya di tiap daerah dikembangkan dan bukan diseragamkan, maka negeri ini akan memiliki keunggulan budaya (cultural advantage) dibandingkan dengan banyak negara lain di bumi ini. Tentang keunggulan budaya ini pernah kami presentasikan di prodi pascasarjana Studi Pembangunan UK Satya Wacana, sekitar oktober 2008 (1).

Bagaimana pendapat Anda?

Versi 1.0: 1 juli 2016, pk. 19:45
VC

catatan: artikel ini ditulis untuk sahabat lama saya, Sujarwo.

Referensi:
(1) Victor Christianto & Florentin Smarandache. Cultural advantage for cities: an alternative for developing countries. Url: http://vixra.org/abs/1003.0200

__________________

Publikasi:
1. Sangkakala Sudah Ditiup (sept. 2016). Dapat dipesan melalui: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
2. Menggugat Eisenman (Nov. 2016). Dapat dipesan melalui email: admin@nulisbuku.com

Pak Tee's picture

yk juga punya bahasa walikan

Jogja juga punya bahasa walikan. Kalau pernah ke YK mungkin pernah dengar "jape methe", "dab", atau "dagadu". Kuncinya aksara jawa ciptaan raja ajisaka, hanacaraka (kalau tertarik Anda bisa gooling untuk mengerti bagaimana pembentukannya). Dagadu yang menjadi merk dagang itu sebenarnya berarti umpatan anak-anak muda jogja. Macam "dian***" umpatan yg akrab di jawa timur / surabaya, nakal tapi akrab. Nice post!

__________________

Seperti pembalakan liar, dosa menyebabkan kerusakan yang sangat parah dan meluas. Akibatnya sampai ke generasi-generasi sesudah kita. Aku akan menanam lebih banyak pohon!

victorc's picture

Trims komentarnya, @Pak Tee...

Memang saya hanya menuliskan apa yang saya ketahui saja. Memang pernah ke Jogja beberapa kali, tapi belum sempat mengamati fenomena bahasa walikan di sana. Kalau boleh usul: bagaimana kalau Pak Tee menulis blog tentang topik bahasa walikan di Jogja? Saya yakin bakal menarik lho...;-)
Jbu,
VC
__________________

Publikasi:
1. Sangkakala Sudah Ditiup (sept. 2016). Dapat dipesan melalui: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
2. Menggugat Eisenman (Nov. 2016). Dapat dipesan melalui email: admin@nulisbuku.com

billy chien's picture

Ni ts nya aremania

Ni ts nya aremania kah????

Kalo iya sama dgn saya wehehehehe

__________________

Kerjakanlah Keslamatanmu dengan takut dan gentar...

victorc's picture

@Billie...salam dan welcome back

Trims komennya, salam kenal ya, saya senang ternyata ada juga yang aremania ;-)
Namun maksud tulisan di atas bukan untuk promosi aremania lho, namun untuk mengajak kita peduli akan budaya dan kota kita.
Banyak perubahan yang tidak kita sadari sedang berlangsung di depan hidung kita, termasuk jalanan makin macet, makin banyak ruko dll.
Btw Anda skrg tinggal di mana? Tadi siang saya mampir ke depot inggil yg di jl. Gajahmada. Ada museum tempo doeloe, tapi belum sempat masuk dan lihat2.
ayo, tulislah blog tentang kesan-kesanmu di kota ;-)
Jbu, VC
__________________

Publikasi:
1. Sangkakala Sudah Ditiup (sept. 2016). Dapat dipesan melalui: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
2. Menggugat Eisenman (Nov. 2016). Dapat dipesan melalui email: admin@nulisbuku.com

billy chien's picture

Inggil... rumah makan dgn

Inggil... rumah makan dgn ornamen jadul....saya suka juga masakan di sana... mantab

Kalo museum nya blm pernah masuk juga sih... ngomong2 kerja apa di malang vic? Greja dimana?

__________________

Kerjakanlah Keslamatanmu dengan takut dan gentar...

victorc's picture

@Billie...

Oh, kamu suka kuliner juga ya? :-)
Saya bergereja di gereja yg calvinis moderat, namun gereja kami kecil jadi tidak sanggup bayar tenaga kategorial. Jadinya saya ditunjuk jadi parttimer saja. Waktu selebihnya untuk penerrjemahan buku, menulis paper dll.
Kalau kamu bergereja di mana? Dan bekerja apa di mlg?
Jbu, VC
__________________

Publikasi:
1. Sangkakala Sudah Ditiup (sept. 2016). Dapat dipesan melalui: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
2. Menggugat Eisenman (Nov. 2016). Dapat dipesan melalui email: admin@nulisbuku.com

billy chien's picture

saya wiraswasta

saya wiraswasta bro..

berdagang kecil2an ...

saya di GBi bro

:D

__________________

Kerjakanlah Keslamatanmu dengan takut dan gentar...

victorc's picture

@Billy...

Ok, selamat berwiraswasta.
di GBI mana? Apakah yang di jalan ciliwung? Saya beberapa kali ikut seminar di sana, di antaranya seminar tentang akhir zaman.
btw, berminat untuk kopdar? Tapi kalau kopdar berdua kurang seru ya, enaknya kalau kopdar bertiga atau lebih he he he.
Jbu, VC
__________________

Publikasi:
1. Sangkakala Sudah Ditiup (sept. 2016). Dapat dipesan melalui: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
2. Menggugat Eisenman (Nov. 2016). Dapat dipesan melalui email: admin@nulisbuku.com