"Apa itu pajak?" demikian pria paruh baya itu bertanya pada atasanku.
"Pungutan pemerintah," atasanku menjawab singkat. Jawabannya langsung tertelan suara seratus orang lebih yang ada di dalam ruangan itu. Mereka tampaknya sedang sibuk memperbincangkan sesuatu dengan suara rendah. Namun serendah apa pun, tetap saja suara itu terdengar.
"O.. jadi pemeritah itu kejam ya?" Bapak paruh baya yang adalah pejabat kantor pajak itu meninggikan suaranya. Kali ini usahanya berhasil. Para pendengar mulai benar-benar mendengarkan.
"Ehm... ya... agak pak. Sedikit," begitu jawab rekanku ragu.
***
Sejak Desember lalu, urusan pajak memang sedang panas dibicarakan si tempat kerja saya, dan di banyak tempat kerja lain. Pemerintah benar-benar menunjukkan semangatnya untuk menertibkan rakyatnya membayarkan pajak. Alhasil, Desember tahun lalu ketika batas akhir Sunset Policy tiba, kantor pajak diserbu oleh ratusan orang untuk mengurus NPWP -- Nomor Pokok Wajib Pajak. Jujur saja, saya adalah salah satunya.
Menertibkan. Agaknya kata yang kurang pas digunakan untuk para wajib pajak yang tentu saja berusia dewasa. Kata lain seperti menghimbau atau menganjurkan yang terkesan lebih lembut agaknya labih enak digunakan. Bila kata itu yang digunakan, berarti banyak orang dewasa wajib pajak yang tidak bersikap dewasa karena melalaikan tanggung jawabnya.
Bila ingat pendapat teman saya yang mengatakan pemerintah itu kejam karena menarik pajak, saya jadi tergelitik. Apakah benar demikian? Kalau ditilik lebih lanjut, uang itu juga kembali ke rakyat secara tidak langsung dalam bentuk infrastruktur dan pelayanan-pelayanan publik lain macam pendidikan, kesehatan dan keamanan. Selain itu, uang itu juga menjaga jalannya roda kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadi, apakah pemerintah kejam? Ah, tidak. Sama sekali tidak. Yang kejam adalah pihak-pihak yang mengelola pungutan itu dengan tidak benar, dan itulah yang perlu diawasi.
Lagipula, membayar pajak adalah hal yang diperintahkan Yesus. Bukankah Yesus pernah berfirman untuk memberikan pada kaisar apa yang menjadi hak kaisar? Berarti kita wajib membayar pajak bukan?
***
"Masih ingat lambang Sunset Policy? Lebah. Ya, pajak itu seperti lebah. Bila dibayarkan dengan taat, ia akan menghasilkan madu yang manis. Bisa dinikmati. Tapi kalau tidak, lebah itu bisa menyengat," begitu penggalan prakata dari salah satu petinggi tempatku bekerja.
Ya jelaslah... kalau terlambat menyetorkan SPT bisa kena denda yang lumayan besar. Jadi, mari buru-buru setor SPT sebelum akhir bulan ini. Bukan karena denda semata, tapi karena kita adalah warga negara yang dewasa dan tahu kewajibannya.
Submitted by
clara_anita
on