Submitted by Purnomo on

Saya tahu yang di dalam sekolah teologi ada yang merasa terhina bila disamakan dengan orang yang kuliah di kedokteran, farmasi, teknik apalagi sastra. Mereka yang masuk teologi adalah orang-orang yang berhasrat melayani Tuhan sepanjang hidupnya sedangkan yang lain hanya akan melayani perutnya sendiri. Komunitas Kristen juga mengamini. Buktinya, mahasiswa teologi lebih mudah mendapatkan beasiswa daripada mahasiswa non-teologi. Buktinya, mahasiswa teologi masuk dalam daftar doa syafaat dalam ibadah Minggu di gerejanya sedangkan yang lain boro-boro didoakan, diingat saja tidak.

– o –
          “Pendeta itu bukan profesi, tetapi panggilan,” jawab seorang istri pendeta yang lulusan sekolah teologi papan atas menjawab pertanyaan itu. “Panggilan untuk melayani Tuhan,” ia menjelaskan.
          “Jika saya masuk fakultas ekonomi dengan cita-cita mengentaskan orang-orang desa dan pedalaman dari kemiskinan, apa boleh setelah lulus saya menyebut diri sarjana ekonomi karena panggilan?”
         “Itu motivasi, bukan panggilan.”
          “Kemudian setelah sama-sama lulus, sang pendeta bekerja di kota besar dan menjadi kaya karena mengoplos minyak urapan dan menjualnya sedangkan sang ekonom menjual rumahnya untuk mendirikan koperasi simpan pinjam di banyak desa. Siapakah yang telah mendapat panggilan untuk melayani Tuhan?”
          Dan selalu saja bincang-bincang bertopik “pendeta: profesi atau panggilan” berubah menjadi “adu pokoke”. Pendek kata, singkat kata, pokoke, pendeta itu panggilan bukan profesi. Titik! Biar ramai saya juga ngotot mengatakan pendeta itu profesi yang tidak beda dengan dokter, insinyur, programmer, designer atau pedagang. “Pendeta adalah panggilan” adalah slogan KKR jaman dulu dalam memobilisasi kaum muda Kristen masuk sekolah teologi.
 
         Saya tahu yang di dalam sekolah teologi ada yang merasa terhina bila disamakan dengan orang yang kuliah di kedokteran, farmasi, teknik apalagi sastra. Mereka yang masuk teologi adalah orang-orang yang berhasrat melayani Tuhan sepanjang hidupnya sedangkan yang lain hanya akan melayani perutnya sendiri. Komunitas Kristen juga mengamini. Buktinya, mahasiswa teologi lebih mudah mendapatkan beasiswa daripada mahasiswa non-teologi. Buktinya, mahasiswa teologi masuk dalam daftar doa syafaat dalam ibadah Minggu di gerejanya sedangkan yang lain boro-boro didoakan, diingat saja tidak. Buktinya, ketika mahasiswa teologi lulus langsung diminta bekerja dengan honor paling tidak 3 juta rupiah ditambah akomodasi dan uang transport, sedangkan yang non-teologi kesana kemari mengiba-iba meminta pekerjaan. “Tak apa di bawah UMR. Yang penting gue dapat kerjaan biar calon pacar tidak mencibir,” kata seorang fresh graduate yang sampai dua bulan belum juga dapat job dengan memelas.
 
          Mengapa kata profesi haram dilekatkan pada baju pendeta padahal menurut KBBI profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (ketrampilan, kejuruan, dsb) tertentu/khusus? Dari rumusan ini jelas pekerjaan pendeta tidak berbeda tuntutannya dengan pekerjaan programmer karena butuh pendidikan keahlian khusus. Kamus kuno The American College Dictionary (edisi 1951) mengatakan bahwa proffesion is vocation requiring knowledge of some department of learning or science, especially one of the three vocations of theology, law and medicine. Tiga disiplin ilmu yang disebut menunjukkan bahwa proffesion hanya dipakai untuk pekerjaan yang menyangkut kepentingan setiap orang. Dulu seorang petani bisa saja tidak butuh pedagang atau insinyur pertanian. Tetapi ia tidak bisa lepas dari kebutuhan bantuan ahli medicine, law dan thelogy dalam hidupnya.
 
          Mari kita lihat sekeliling menyimak 3 bidang pekerjaan ini. Dalam bidang medicine sekarang sudah muncul nasihat miring, “Orang miskin dilarang sakit!” Orang kaya pun bisa jatuh miskin bila sakit dan dokternya mengutamakan uang. Ketika ayah saya di rawat di rumah sakit, dokter menyodorkan sebotol cairan infus berwarna kuning yang harganya sekitar 1 juta rupiah. Saya tanya apakah dengan cairan ini Ayah akan sembuh. Dokter menggelengkan kepalanya. Lalu buat apa saya membelinya?
 
          Ketika kasus malpraktek yang membawa maut terjadi dan si korban tidak bisa menggalang massa melalui internet, ke manakah ia harus pergi? Ke pengadilan? “Tak usahlah, nanti malah tambah repot,” begitulah yang mereka katakan. Dokter atau rumah sakit memberi uang tali asih sekedarnya, selesai. Hampir setiap hari surat kabar berkisah tentang ahli hukum yang melanggar hukum.
 
         Jika begitu, bagaimana bila kita sebagai korban datang menghadap pendeta? Harusnya begitu. Sayang kenyataannya membuat kita berpikir “apa harus?” Ketika harapan kita begitu besar tertuju kepada pendeta, ternyata mereka sekarang ini sedang mengalami krisis kredibilitas yang tampaknya semakin parah saja. Gembala yang telaten merawat domba-dombanya karena tahu domba-domba itu milik Allah adalah produk purbakala. Yang sekarang ada adalah gembala yang hobi menyantap domba-dombanya karena merasa memiliki domba-domba itu. “Sekolahnya saja butuh uang puluhan juta, masa mau digaji UMR?” seorang calon pendeta pernah mengeluh demikian kepada saya. “Nanti saya carikan sabetan,” kata saya yang selalu punya ide gila bila sedang menemani orang gila.
 
          Dengan keadaan yang seperti itu apakah 3 bidang pekerjaan ini masih pantas disebut profesi menurut kamus The American College Dictionary? Proffesion is vocation requiring knowledge of some department of learning or science, especially one of the three vocations of theology, law and medicine. Lalu menurutnya, apakah vocation itu? Kata kamus itu, vocation is divine call to God’s service; particular occupation, business or profession. Jelaslah istilah “panggilan” lengkapnya berbunyi divine call to God’s service.
 
          Sering kita memilah pekerjaan menjadi dua. Yang pertama untuk Allah, pro Deo. Kata prodeo juga berarti cuma-cuma sehingga dulu penjara sering dijuluki hotel prodeo. Yang kedua bersifat duniawi atau profan, pro fana. Fana menurut KBBI berarti dapat rusak, hilang, mati; tidak kekal. Dalam kamus Inggris kuno tersebut di atas profane means not sacred or not devoted to sacred purpose.
 
          Jadi tidak salah mengatakan pendeta adalah panggilan suci. Di pihak lain saya tidak bisa disalahkan bila bersikukuh mengatakan pendeta adalah profesi. Yang membingungkan sebetulnya adalah tidak sedikit orang gemar berkreasi mengaduk yang prodeo dengan yang profan. Tidak sedikit mereka yang ada di ranah profan diam-diam juga berkiprah prodeo. Sejarah kedokteran Indonesia mencatat beberapa nama dokter yang dalam menjalankan profesinya dengan tulus melaksanakan divine call to God’s service. Di pedalaman dan desa terpencil juga ada dokter-dokter muda yang diam-diam melayani Tuhan di bidang keahliannya.
          Tidak sedikit pedagang yang tidak berani mengambil untung banyak untuk barang-barang kebutuhan pokok karena takut akan Tuhan seperti yang pernah saya tulis dalam blog berjudul “The war of the waroengs”.
 
          Di pihak lain, apa yang terjadi pada ranah prodeo dalam profesi pendeta? Sangat keterlaluan bila seorang pendeta yang sudah berpenghasilan di atas 5 juta rupiah mencari sabetan di luar gerejanya, bukan? Tetapi apakah ia bersalah bila ada orang yang meminta ia memimpin sebuah seminar dan setelah berceramah selama 3 jam ia disodori uang 1 juta rupiah? Apakah ia bersalah bila keberhasilannya mencari 25 orang yang mau berwisata ke Holy Land menghasilkan bonus sebuah sepeda motor baru?
 
          Lebih sulit lagi mengatakan benar atau salah bila menyangkut diri pendeta di gereja kecil. Kasihan istri mereka yang harus bekerja di ranah profan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Ada yang menjadi jururawat, ada yang menjadi guru SD, ada yang menjadi guru musik, ada yang memberi les privat, ada yang berkeliling menjual produk MLM. Ada juga yang buka warung fotocopy.
          “Lumayan,” ceritanya, “dari warung fotocopy ini anak-anak bisa masuk SMA di ibukota propinsi.”
          Karena warungnya berada di halaman depan pastori dan pastori itu menempel gedung gereja, saya bertanya, “Apakah tidak sulit memilah biaya listrik yang harus dibayar gereja dengan yang harus dibayar oleh warung Ibu?”
         “Rekening listriknya ‘kan atas nama gereja. Jadi yang bayar semua ya gerejalah.”
          Ah, kecerdikan seorang merpati.
 
          Para penatua gereja di kota kecil mulai was-was begitu pendetanya minta ijin sekolah lagi mengambil S2. Dan kekuatiran mereka selalu terbukti. Pendetanya pindah ke kota (lebih) besar setelah bergelar master. Mendengar keluhan penatua yang berkepahitan ini saya coba menghiburnya, “Kalau pendetamu terbang ke kota besar itu artinya ia menuruti nasihat ‘Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun kecukupan makanan.’ Kalau burung tetap di tanah, makannya tak enak karena tidak bervariasi. Cacing melulu. Begitu juga dengan pendeta. Di kota kecil little-little to me but salary not up-up. Di kota besar pendeta tinggal menulis SOP di atas kertas dan para aktivis gereja tak berbayar yang mengerjakannya. Makanya gereja kecil jangan sombong. Cari pendeta tak perlu pakai test IQ. Otak isi setengah tak apa asal hati isi penuh. Karena biasanya ketika otak isi penuh hati kosong melompong.”
 
          Namun demikian janganlah satu dua kasus jelek itu membuat kita melakukan globalisasi dengan mencurigai semua pendeta brengsek karena mengutamakan “panggilan” uang. Ketika membicarakan kejelekan pendeta kepada seorang pendeta saya berkata, “Dalam ruang tertutup, bau wangi seratus dupa tak bisa mengalahkan bau busuk bangkai seekor tikus.” Walau bukan orang India, beliau menggeleng-gelengkan kepala dengan mulut mengiyakan.
 
          Karena itu mari kita melihat masalah ini tidak dalam ruang tertutup. Bukalah jendela lebar-lebar. Perluas wawasan. Lihatlah ladang-ladang di luar kamar yang sumpek. Saya tidak peduli orang bilang pendeta itu profesi atau panggilan. Saya hanya ngotot mengatakan pendeta itu profesi bila selera beragumentasi saya sedang kumat di mana saya lebih mengutamakan kenikmatan berdebat daripada menelisik esensinya.
 
          Apapun pekerjaan kita – yang profan terlebih lagi yang proDeo – mari kita kerjakan dengan profesional karena it has to be devoted to sacred purpose: the divine call to God’s service.
 
(the end)