Submitted by PlainBread on

Blog kali ini saya tulis untuk membunuh waktu yang berjalan lambat. Tugas saya malam ini hanyalah duduk selama 8 jam di depan kamar seorang pasien. Seorang pasien yang sedang tidur. Rekan saya yang juga mendapat tugas yang sama di tempat berbeda barusan mengirimkan sms ke saya,"a monkey can do our job." Dan saya balas,"yup, a monkey can definitely do our job."

 

Akhir pekan lalu saya dan istri pergi clubbing, hal yang sudah lama tidak kami lakukan sejak kami menikah. Di sana kami bertemu dengan seorang teman lama. Namanya Arianna. Seorang butch. Penampilannya seperti biasa, memakai celana 3/4, kaos sederhana yang agak ketat, dan sedikit makeup. Di mana-mana pakaiannya selalu seperti itu. Mungkin tidak di setiap tempat, karena saya belum pernah bertemu dengannya di resepsi pernikahan, di gereja, atau di acara pemakaman. Orangnya cantik, masih muda. Rambut hitam pendek, wajahnya agak oval dan kulitnya putih seperti Lady Di, selalu berdandan tomboy dan pada saat yang sama bisa tampil menarik. Setidaknya di mata saya.

Yang paling mengesankan saya saat itu adalah matanya yang berwarna hijau dan selalu berbinar. Kapan lagi saya bisa lihat seorang wanita berambut hitam yang memiliki mata berwarna hijau? Tidak sering. Setiap kali ngobrol dengan saya, bukan hanya bibirnya yang selalu tersenyum melainkan kedua bola matanya. Pertama kali saya bertemu dengannya, saya memperkirakan bahwa dia seorang lesbian (dari potongan rambutnya). Dugaan saya salah. Ketika saya ngobrol dengannya. "Saya bukan lesbian." Wow. Saya belum berpacaran dengan istri saya waktu itu. Kesempatan bagus, pikir saya. "Saya bisexual," katanya. Ahh!

Ketika saya dance dengan istri saya, saya bisikkan ke telinganya,"kamu mau gak kalo kita threesome sama Arianna?" Dia langsung menepuk kepala saya,"Gila kamu!" Suatu frasa yang sering diucapkannya sebagai tanda cintanya ke saya. Oh well, just a thought, dear.

 

Sebenarnya bukan itu yang mau saya bahas. Melainkan hal dibalik penampilan teman kami Arianna. Kalau melihat penampilannya, tidak banyak yang akan menyangka bahwa namanya pernah masuk majalah Time karena keberhasilannya dalam bidang yang digelutinya. Belum lagi keberhasilannya tembus dalam jajaran para mahasiswa paling berhasil di kampusnya, sementara kampusnya dan fakultasnya termasuk hitungan 5 besar secara nasional. Terakhir saya dengar, dia mendapatkan undangan jamuan makan malam di Washington DC bersama US 1.

Arianna mengingatkan saya dengan salah satu dosen di kampus saya. Setiap dia mengajar, kata fu*k, sh*t, atau balls sucker, selalu meluncur keluar dari mulutnya. Saya pernah menghitung kata-kata tersebut sewaktu beliau suatu pagi mengajar di kelas saya. Ada 495, dan itu lebih. I stopped counting after 495. Siapa sangka selain sebagai dosen yang sangat disegani di kampus, dia adalah aktivis kemanusiaan dan dosen tamu di sebuah universitas kristen terbesar yang mencetak para pendeta dan bishop.

 

Ada lagi cerita mengenai dosen saya yang lain. Saya pernah mengobrol dengan seorang mahasiswa lain. Sepertinya dia mahasiswa baru karena tampak lebih muda dari saya. Saya tanya kelas apa saja yang dia sedang ambil sekarang. Dia menyebutkan semua kelas prerequisites, alias kelas MKDU. Siapa sangka dia hadir di kelas saya dan langsung mengambil marker dan menuliskan topik mata kuliah di papan di depan kelas? Saya sendiri tidak menyangka. Tidak pernah seumur hidup saya memiliki dosen yang usianya masih belum kepala 2, bahkan lebih muda dari saya.

 

Banyak pelajaran yang saya ambil di hidup ini, bahkan pastinya ada lebih banyak yang belum pernah saya pelajari. Tapi setidaknya saya tahu, buah tidak selalu bisa dinilai dari luar. Seseorang tidak bisa begitu saja bisa langsung dinilai dari pakaian yang dikenakan seseorang, dari pemilihan kata-kata yang digunakan.

Dunia sekarang sudah kompleks. Yang kaya terlihat miskin, pakai celana pendek atau kaos oblong. Yang miskin malah tampak seperti orang kaya, seperti seorang copet yang dahulu saya lihat digebuki masyarakat, pakaiannya bagus, berjas, berdasi, membawa koper seperti laiknya seorang direktur. Tapi kenapa naik bus PPD? Mungkin karena mobilnya mogok.

 

Buah asli dan buah plastik memang tidak mudah dibedakan di jaman ini. Mungkin ini pertanda akhir jaman, di mana Yesus akan datang kedua kali. Sayangnya ini tidak tertulis di alkitab.