PREDESTINASI ALA BINTANG SEVEN
(tulisan ini memang rada panjang tapi bukan berarti gak ada yg mau baca kan hehe.... krn klo ada yg betah main biliard berjam2 bintang seven dah rela nulis ini juga berjam2 di komputer... have ur jorney selamat menikmati...)
Tidak adil! Demikian reaksi orang mengenai doktrin predestinasi, mengapa Allah memilih hanya sebagian untuk diselamatkan dan sisanya menuju kebinasaan? Bukankah Para calvinis menjadikan Allah yg kejam?
Bintang seven menjawab apakah Allah tidak adil? Pertama2 aku bertanya apakah ada diantara kita yg tidak berdosa? adakah yg bisamembohongi hati nuraninya bahwa ia berdosa? lebih2 lagi Firman Tuhan yg berkata Karena semua manusia telah berdosa (roma 3:23) krn semuanya dah berdosa tentu krn perwakilan adam, maka sudah selayaknya semua manusia masuk neraka! Mengapa kita yg berdosa memikirkan surga? mengapa bertanya dimana keadilan Allah dlm memilih bukan mengecek diri sendiri yg kotor dan najis? Bagaimana jika Allah yg gantian bertanya: "bukankah dosa pemberontakanmu sudah setinggi gunung?"... bukankah seorang yg telah bersalah lebih bijak jika ia meminta ampun bukan malah menuntut? Tuhan memang panjang sabar dan penuh kasih setia tapi IA tidak sekali-kali membiarkan hukum dan keadilanNYA dilecehkan.
Calvinis menjadikan Allah yg kejam? Mungkinkah mereka membolak-balik ayat untuk kepentingan doktrin mereka sendiri? Jika bintang seven bisa membolak-balik ayat dg indah dan lihai tanpa ketahuan lalu buat apa membuatnya dg menjadikan Allah yg kejam? Justru akan dibolak-balik spy menguntungkan perut sendiri dan tidak menuai banyak protes..biar gak repot kata gus dur, justru calvinis menunjung tinggi otoritas alkitab dan membiarkan nya berbicara atas namanya sendiri, jadi biarkan alkitab membela dirinya sendiri. Semua yg diajarkannya adalah untuk kita dan anak cucu kita sampai selamanya. Disinilah kita diuji jika alkitab mengajarkan sesuatu yg melampaui akal dan perasaaan kita apakah kita akan berkata : “ayat2 itu tidak masuk akal dan menyedihkan aku pasti itu salah!” dg begitu kita membuang ayat krn alasan akal dan perasaan… padahal sebenarnya bukan tidak masuk akal tp melampaui akal kita yg terbatas sbg manusia. menurut bintang seven Mau bagaimana kek tuh kebenaran alkitab bentuknya mau lonjong /bulat/persegi/mau runcing kayak bambu maukah kita dg rela menerimanya? Tritunggal Allah adalah salah satu contohnya. banyak yg menolak tritunggal krn alasan akal dsb ttp tidak bisa membunuhnya krn telah teruji ribuan tahun. Bintang seven juga masih tidak bisa menjelaskan dg akal bagaimana mungkin 5 roti dan 2 ikan bisa ngempanin makan 5000 orang dan masih sisa 12 bakul? Tp aku percaya itu benar! Hanya krn tidak masuk akal kah lalu kita dg bebas menolak dan menerima Firman Tuhan? Akal diperlukan untuk kita menyelidiki dan menggali Firman Tuhan shg kita mengertinya. akal rasio kita Bukanlah untuk menilai2 Firman Tuhan lalu memilihnya sesuai kehendak kita.
Maju kedepan ada lagi pertanyaan mengapa hanya sebagian?
Bintang seven menanggapi: mengapa harus semuanya? Jika semuanya, maka itu = Allah tidak memilih! Tentu hal tersebut tidak sesuai kitab suci! Apakah harus semuanya dipilih? Tidak! Allah memilih sesuai dg kerelaan kehendakNYA untuk menyatakan kasihNYA ttp ada orang2 yg dibiarkanNYA krn mereka semua mengikuti hawa nafsu dan tdk mau bertobat adalah untuk menunjukkan keadilanNYA, disinilah peranan penginjilan sangat penting sbg tanggungjawab manusia. Walau bintang seven mengatakan tidaklah begitu tepat disebut hanya tanggungjawab krn memang sudah seharusnya kita bersyukur atas keselamatan yg besar yg dianugerahkan pada kita. Jika kita mengharapkan dipilih semuanya maka tentu dosa harus sudah tidak ada lagi diantara semua manusia! Kenyataannya tidak semua orang bertobat dan meninggalkan dosa! Jika engkau ingin semuanya maka menginjillah setiap detik mungkin masih cukup waktu untuk semuanya!
Dalam hidup sehari2 bintang seven pun sering mengalami ditipu, dicurangi, dibohongi orang tp tetap bersabar, ingin rasanya memukul mereka semua yg bermulut manis, pura2 suci tp hatinya busuk itu sampai mati, benci benar rasanya disakiti oleh mereka, benci rasanya melihat dosa, lebih2 lagi Allah yg maha suci. Tidakkah Allah berhak menghukum dosa manusia yg kurang ajar itu?
Teologi nano2 juga maju mencoba menenangkan doktrin ini hingga mengaburkan maksudnya: teologi ini mengatakan Tuhan memang memilih ttp ia memilih berdasarkan barang siapa yg bisa beriman, bertobat, bertekun dan setia sampai mati. Teologi ini mengajarkan semua orang dilihat dari atas oleh Allah kalau2 manusia berkehendak dan berusaha untuk bertobat maka bala bantuan Allah pun datang. Dalam memilih pun Allah tidak memilih sembarangan, dg mengutip ayat mereka mengatakan Allah memilih yakub daripada esau krn keunggulan yakub yg cerdik, tenang & berisi, yg pernah bergumul dg Allah dan menang. jadi berusahalah menjadi kristen yg unggul supaya engkau terpilih shg menjadi bau yg harum bagi Kristus.
Bintang seven pun berkata ah andai si nano2 itu benar tentu tidak akan ada lagi kata Allah tidak adil, mari kita selidiki dg seksama apa kata Kitab suci: dlm Roma 9:
“(1) Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, (2) bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. (3) Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani. (4) Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. (5) Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaanNya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!
Paulus menyatakan kesedihannya karena banyak orang Yahudi, yang sebetulnya adalah bangsa pilihan, menolak Kristus, sehingga tentu tidak akan selamat
AYAT 6: “Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel”.
‘Firman Allah tidak mungkin gagal’ditekankan oleh Paulus, karena ia takut bahwa kesedihannya dalam ay 2-3 ditafsirkan seakanakan rencana / firman Tuhan tentang Israel gagal. Karena itu sekarang ia menjelaskan bahwa ‘tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel’Dengan ini ia menunjukkan bahwa janji / firman Tuhan tentang pemilihan Israel memang tidak pernah dimaksudkan untuk seluruh Israel. Jadi, adanya banyak orang Israel yang menolak Kristus tidak membuktikan gagalnya rencana / firman Allah. MESKIPUN BANYAK YG MENENTANG DOKTRIN PREDESTINASI ATAU MENERIMANYA DG BERSEDIH TTP FIRMAN TUHAN YG MELAMPAUI AKAL DAN PERASAAN MANUSIA ITU TETAP TIDAK AKAN GAGAL.
AYAT 7-9: “(7) dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: ‘Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu.’ (8) Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar. (9) Sebab firman ini mengandung janji: ‘Pada waktu seperti inilah Aku akan datang dan Sara akan mempunyai seorang anak lakilaki.
Untuk membuktikan kebenaran kata-katanya dalam ay 6, maka dalam ay 7 ini Paulus mulai membahas dari Abraham. Dari ay 7-9 ini terlihat bahwa sekalipun Abraham mempunyai banyak anak, tetapi yang merupakan pilihan Tuhan hanyalah satu yaitu Ishak.
AYAT 10-13: “Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita.” “Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belummelakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya” “dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda, “seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.”
‘Bukan hanya itu saja’ artinya: bukan hanya kasus pemilihan Ishak dan penolakan Ismael, tetapi ada juga kasus lain, yaitu pemilihan Yakub dan penolakan Esau. Ini ditambahkan karena dalam persoalan Ismael dan Ishak, orang bisa berkata bahwa Ismael ditolak karena ia adalah anak seorang hamba.
Sekarang dalam ay 10 Paulus memberikan contoh tentang Ribka yang mengandung dari satu orang yaitu dari Ishak, dan bahkan melahirkan anak kembar, tetapi dari kedua anak kembar itu yang satu dipilih dan yang lain ditolak! Jadi terlihat dengan lebih jelas bahwa penggenapan janji Tuhan tidak terjadi pada semua anak secara daging / jasmani.
Ay 11: “Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya”.
Mulai ayat ini Paulus tidak hanya menekankan pemilihan / predestinasi, tetapi juga menekankan bahwa pemilihan itu tidak tergantung perbuatan baik manusia, tetapi hanya tergantung pada kehendak Allah. Ini ditekankannya dengan menyatakan 2 hal yaitu:
-
Dengan kata-kata ‘Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat’ (ay 11a). Dengan kata-kata ini, Paulus menunjukkan bahwa dalam Allah melakukan pemilihan, Ia sama sekali tidak dipengaruhi oleh perbuatan orang itu, karena pemilihan dilakukan sebelum perbuatannya dilakukan.
-
Dengan kata-kata ‘supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya’ (ay 11b). Ini lebih-lebih lagi menunjukkan bahwa dalam melakukan predestinasi, Allah sama sekali tidak terpengaruh oleh perbuatan manusia!
Ay 12: “dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’”.
a) Ay 12 ini menunjuk pada Kej 25:23.
b) Perhatikan istilah ‘tua’ dan ‘muda’ dalam ay 12 ini. Dari Kej 25:25-26 kita tahu bahwa Esau adalah anak sulung. Dan juga Ro 9:12 ini secara explicit menyebutkan hal itu, karena ayat ini mengatakan ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda’. Jadi Yakub sebetulnya bukan saja tidak mempunyai kelebihan apapun atas Esau, tetapi sebaliknya bahkan lebih rendah dibandingkan dengan Esau, karena Esau adalah kakaknya. Tetapi Tuhan toh memilih dia, dan jelas pemilihan ini didasarkan pada
kehendak Allah, bukan pada apapun yang baik dalam diri Yakub (Ro 9:11).
Ay 13: “seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’”.
Jika Allah berdaulat melaksanakan kehendak dan rencanaNYA lalu dimana kah arti kebebasan manusia? Bukankah Allah menginjak2 kebebasan mns dan memaksanya hidup spt robot atau wayang?
1.Justru disinilah calvinisme mengajarkan kebenaran alkitabiah bahwa kebebasan manusia berdampingan dg kedaulatan Allah, sama2 ada dan tidak saling menginjak. Sekalipun Calvinisme mempercayai kedaulatan Allah yang menentukan keselamatan seseorang dan bahkan juga menentukan segala sesuatu yang lain, tetapi Calvinisme tetap mempercayai kebebasan manusia. Mengapa? Karena dalam Kitab Suci kita melihat bahwa sekalipun segala sesuatu terjadi sesuai kehendak / rencana Allah, tetapi pada waktu manusianya melakukan hal itu, ia tidak dipaksa, tetapi melakukannya dengan sukarela.
Misalnya:
• Pada waktu mengutus Musa kepada Firaun, Tuhan berkata bahwa Ia akan mengeraskan hati Firaun (Kel 4:21 7:3). Ini menunjukkan bahwa Tuhan sudah menentukan bahwa Firaun tidak akan melepaskan Israel. Tetapi pada waktu Musa sampai kepada Firaun, dikatakan bahwa ‘Firaun mengeraskan hatinya sendiri’ (Kel 7:22 8:15,19,32 9:34-35 14:5).
• Yudas mengkhianati / menyerahkan Yesus sesuai dengan ketetapan Allah (Luk 22:22), tetapi pada waktu Yudas melakukan hal itu, ia betul-betul melakukannya dengan kehendaknya sendiri. Kita tidak melihat bahwa Allah memaksa dia untuk mengkhianati Yesus.
• Orang-orang yang membunuh Yesus melakukan hal itu sesuai dengan apa yang sudah Allah tentukan dari semula (Kis 4:27), tetapi pada waktu mereka melakukannya, mereka betul2 bebas, dan melakukannya atas kehendak mereka sendiri. Karena Predestinasi tidak membuang kebebasan manusia, maka Predestinasi juga tidak membuang tanggung jawab manusia.
2. Manusia harus bertanggung jawab / dihukum karena ketidaktaatannya. Kalau manusia tidak bebas (seperti robot / wayang), maka ia tidak bertanggung jawab atas tindakannya. Tetapi karena ia bebas, maka ia bertanggung jawab.JI PACKER “ Kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia diajarkan berdampingan dalam Alkitab yang sama; bahkan kadang-kadang dalam text yang sama.”
Andaikata Paulus menganggap bahwa karena adanya kedaulatan Allah / Predestinasi maka manusia tidak lagi perlu bertanggung jawab, maka ia akan menjawab dengan berkata: ‘Siapa bilang bahwa Allah menyalahkan kamu? Karena Ia yang menetapkan segala sesuatu dan karena kehendakNya pasti terjadi, maka Ia tidak akan menyalahkan kamu kalau kamu berbuat dosa atau tidak percaya’.
Andaikata Paulus memang tidak setuju dengan kedaulatan Allah yang menetapkan segala sesuatu, maka ia akan menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata: ‘Allah tidak menetapkan apa-apa, karena itu kamu bertanggung jawab’. Tetapi Paulus tidak menjawab seperti itu. Perhatikan jawaban Paulus dalam Ro 9:20-21:
“Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: ‘Mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?”.
J. I. Packer mengomentari ayat ini dengan berkata:
“Apa yang harus dipelajari oleh orang yang mengajukan keberatan itu adalah bahwa ia, seorang makhluk ciptaan dan seorang berdosa, tidak mempunyai hak apapun untuk tidak puas / berkeberatan dengan jalan Allah yang dinyatakan. Makhluk-makhluk ciptaan tidak berhak menyatakan keluhan / ucapan yang menyatakan ketidakpuasan tentang Pencipta mereka. Kita dilarang untuk ‘menguatirkan hari esok’ (Mat 6:34), tetapi ‘jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman’ (1Tim 5:8). Tidak ada domba Kristus yang bisa binasa (Yoh 10:28-29), tetapi orang kristen diperintahkan untuk membuat ‘panggilan dan pilihannya teguh’ (2Pet 1:10). ... Hal-hal ini tidaklah bertentangan tetapi saling melengkapi: yang satu menyeimbangkan yang lain. Demikian Kitab Suci menyatakan kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia] kedaulatan Allah dalam kasih karunia adalah satu hal yang mencegah supaya penginjilan tidak menjadi tanpa arti. Karena itu menciptakan kemungkinan - bahkan kepastian – bahwa penginjilan itu akan berbuah.”
Charles Hodge: “Allah bisa mengontrol tindakan-tindakan bebas dari makhluk2 \ rasionil tanpa menghancurkan kebebasan ataupun tanggung jawab Mereka sampai detail-detail yang sekecil-kecilnya, tanpa menghancurkan kebebasan manusia! Bagaimana Ia bisa melakukan hal itu, merupakan suatu misteri bagi kita, tetapi yang jelas Kitab Suci menunjukkan bahwa Allah memang menentukan dan menguasai segala sesuatu, tetapi manusia tetap mempunyai kebebasan.”
J.I PACKER “ Jika kebebasan manusia dan kedaulatan ilahi sungguh-sungguh bertentangan, maka sedikitnya salah satu dari mereka harus dibuang”
Robert L. Dabney: “... Allah melaksanakan rencanaNya yang berkenaan dengan tindakan manusia, bukan menentang tetapi melalui dan dengan kehendak bebas manusia. Dalam menghasilkan tindakan-tindakan yang baik secara rohani, Ia ‘bekerja dalam manusia untuk menghendaki dan melakukan’ dan menentukan bahwa ia ‘akan mau pada hari kuasaNya’. Dan untuk menghasilkan tindakan2 yang jahat, Ia hanya membiarkan orang berdosa itu dalam keadaan sedemikian rupa sehingga ia melakukan, hanya dari dirinya sendiri, tetapi dengan pasti, memilih yang jahat / salah)
semua yg manusia lakukan, ia lakukan sesuai dengan ketetapan Tuhan, tetapi pada saat yang sama, ia tetap melakukan itu karena itu memang adalah kehendaknya/keputusannya. Ia tidak dipaksa oleh Allah untuk melakukan kehendak / ketetapan Allah tersebut. Ia akan secara sukarela melakukan ketetapan Allah tersebut. Bahkan pada saat manusia itu dipaksa untuk melakukan sesuatu, ia tetap melakukan sesuai keputusan / kehendaknya sendiri. Misalnya: seseorang ditodong dan dipaksa untuk menyerahkan uangnya. Ia bisa saja memutuskan untuk melawan, apapun resikonya. Tetapi setelah ia mempertimbangkan resiko kehilangan nyawa / terluka, maka ia mengambil keputusan untuk menyerahkan uangnya. Ini tetap adalah keputusan / kehendak bebasnya. Jadi, kalau kita melakukan sesuatu, itu karena kita mau / menghendaki untuk melakukan hal itu. KARENA MANUSIA MEMILIKI KEBEBASAN MAKA IA BERTANGGUNGJAWAB PADA ALLAH ATAS KEBEBASANNYA, WALAU KEDAULATAN ALLAH TETAP BERJALAN DAN TIDAK AKAN GAGAL. KEDUANYA ADA BERSAMA2 DAN TIDAK BOLEH DIABAIKAN. Soli deo gloria.