Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

The Relationship's Rules

callmefay's picture

Jangan terkecoh liat judulnya hehehe... Aku ga bakal ngasih aturan-aturan yang bener dalam relationship, coz aku belon ngejalanin jadi ga mau di-cap om-do hehehe... Aku cuman mo share aja tentang hal ini...

Dari pengalamanku mengamati 'n juga denger curhat orang, jarang banget ada gereja atau komunitas yang sehat yang membahas tentang relationship secara detail. Aku sendiri juga banyak tahu lewat baca artikel-artikel atau buku-buku tentang relationship trus dicocokin ama apa yang aku liat di realitas. Padahal relationship adalah hal yang sangat esensi. Tapi mungkin agak terlupakan karna ada kesan bahwa gereja atau komunitas rohani itu seharusnya lebih berurusan dengan hal-hal "rohani", hubungan vertikal ama Tuhan, praise and worship, bahas Firman, dll... Aku ga bilang bahwa itu ga penting, itu juga esensi, tapi menjadi tidak seimbang kalo masalah relationship ini diabaikan. Banyak orang yang sudah kenal Tuhan atau aktif dalam kegiatan-kegiatan "rohani", but when it comes to relationship, they became clueless... No heart feeling, aku ga lagi ngejudge, ini cuman pengamatanku aja... Coz aku sendiri juga ngerasa kalo masalah ini tidak menempati posisi yang seharusnya dalam gereja.

Tentu saja sudah bukan rahasia lagi kalo titik awal dimana iblis mulai merusak seseorang itu adalah di lingkungan keluarga. Banyak orang yang mempunyai masalah emosional ternyata berakar dari hal-hal buruk atau masalah yang dia alami dalam keluarganya, misalnya pelecehan seksual oleh anggota keluarga, tindakan kekerasan oleh orangtua, perceraian, orang tua yang terlalu otoriter, orang tua yang terlalu sibuk dan menyerahkan perawatan anak sepenunya pada pengasuh, orang tua yang berjudi, suka mabuk, dan masih banyak lagi... Semua itu akan berlanjut seperti lingkaran yang tidak berujung kalau tidak ada yang menghentikannya dan mengundang Dia untuk campur tangan dan melakukan pemulihan. Dan kalau semua itu ditarik mundur, darimanakan sebuah keluarga itu berawal? Darimanakah pasangan suami istri itu berawal? Dari relationship yang dijalin oleh dua orang single. Inilah yang akhirnya membuat aku bisa berkata bahwa relationship adalah hal yang sangat esensi. Kita perlu mengetahui kebenaran-kebenaranNya tentang relationship, karena kehidupan yang kita jalani ini utuh, tidak bisa dipisah-pisahkan sehingga kita mengatakan bahwa relationship itu bukan hal yang cukup "rohani".   

Ingat ini? "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1). Apapun yang kita lakukan dengan tubuh kita (termasuk apa yang kita pikirkan, karena otak juga bagian tubuh kita, dan juga apa yang kita rasakan, karena emosi, jiwa dan hati kita juga bagian tubuh kita) adalah persembahan yang hidup bagi Dia... termasuk juga didalamnya adalah bagaimana kita menjalani satu hal yang berjudul relationship...

Ada banyak hal-hal dalam relationship yang kita hadapi, mulai dari bagaimana menjaga hati, memulai pendekatan, mempertimbangkan untuk berkomitmen, kesiapan untuk menikah, dan juga masalah-masalah seperti ketergantungan emosional yang terlalu berlebihan, terlalu cepat memutuskan untuk menjalin hubungan, sex before married, married by accident, abusive relationship, hubungan yang "ngambang" (atau mungkin lebih cocok kayak lagunya Melly "Gantung" itu hehehe) karna tidak mempunyai tujuan dalam menjalin relationship, pertengkaran yang sebetulnya tidak perlu terjadi kalau saja mereka mengetahui bahwa pria dan wanita itu memang berbeda, dll... There are still a lot of them! Dan masalah-masalah ini hanya menimbulkan sakit hati, luka, kekecewaan, kepahitan, ... semua itu berhubungan dengan hati kita.

And what He said about our hearts? "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Kita tidak bisa mengasihi diri kita sendiri dan orang lain jika hati kita tercemar, dan satu hal lagi... orang yang terluka akan selalu melukai orang lainnya, lagi... walaupun dia tidak bermaksud untuk melukai... Coz that's the way it goes... kecuali lingkaran itu dihentikan dengan mengijinkan Dia campur tangan dan memulihkan, dan yang juga melibatkan kita untuk mau taat, mengampuni, dan move on to a new chapter... Karena dari hati-lah timbul motivasi kita untuk melakukan segala sesuatu, kita bisa saja menyangkalnya dengan pikiran kita, tapi kita tidak bisa membohongi hati kecil kita, dan kita tidak bisa menyembunyikan apapun dari Dia... I've been through this, saat hatiku terluka, aku menanamkan luka itu dalam tulisanku, Thanx to Him coz ada temenku yang nyadarin itu 'n negur aku... See the effect? Kita ini diciptakan sebagai saluran, apa yang kita bagikan lewat hidup dan tindakan kita akan terus mengalir ke orang yang lainnya. Pertanyaannya adalah, apakah kita mau menjadi saluran yang mengalirkan hal-hal baik atau hal-hal buruk?

Kalo tadi aku share tentang kekurangpedulian gereja / komunitas akan issue relationship, kali ini tentang pengamatanku dan hasil share ama beberapa temenku tentang gereja atau komunitas yang terlalu otoriter dalam mengatur relationship jemaatnya... Sekali lagi ini pengamatanku 'n pendapatku aja, ga ada niat menilai atau ngejudge, karna keputusan untuk submit atau enggak terhadap aturan-aturan itu adalah hak pribadi setiap orang. Ada gereja yang mewajibkan jemaatnya untuk lapor ke pemimpin rohani kalau dia merasa bahwa dia mulai menyukai lawan jenisnya (baru menyukai, belum pdkt), ini hanya satu contoh aja, masih banyak lagi aturan-aturan yang ditetapkan gereja... yang kadang dalam beberapa hal aku rasa terlalu "kaku", atau sudah terlalu melewati batas privacy atau kehidupan pribadi seseorang...

Tapi kembali lagi, ini adalah masalah pilihan... Dan orang yang dewasa tahu bahwa dia bisa mempertanggung-jawabkan setiap pilihannya. Mungkin ada orang-orang tertentu yang merasa aturan-aturan itu baik untuk menyeimbangkan gaya hidup dan karakternya, then it's good for him/her. Tapi yang perlu diingat di sini adalah setiap orang berbeda. Aturan-aturan yang lebih spesifik kadang hanya berhasil jika dilakukan oleh orang-orang tertentu, sementara bagi orang-orang lainnya aturan-aturan itu terasa seperti overdosis, yang malah menyebabkan mereka jadi tidak berani melangkah, takut membuat kesalahan, dll yang akhirnya membuat mereka takut / enggan untuk maju melangkah ke masa kehidupan mereka yang berikutnya... Kasus-kasus seperti ini sudah banyak terjadi, dan itu agak memprihatinkan... 

Mungkin masih banyak masalah-masalah atau issue-issue yang luput dari pengamatanku huehehe... yah maklum matanya cuman dua hehehe... Intinya siy masing-masing dari kita harus get connected ama Dia (seperti 2 paragraf terakhir di tulisanku sebelumnya ini), supaya kita tahu apa rencana spesifikNya buat kita, dan juga mengenal diri kita sendiri, sehingga kita tahu apakah kita tipe yang perlu di"rem" atau di"gas" dalam area relationship ini hehehe... Coz He always want the best for us, in every area of our life, include in relationship area... Jadi mulai libatkan Dia dalam area relationship, sama intens-nya dengan melibatkan Dia dalam area kehidupan kita yang lain, coz keutuhan hidup kita adalah sebuah persembahan yang sangat berharga untukNya, and we are wiling to give the best offering for Him too, rite?

Zia you folks! Hehehe...

__________________

--------------------------------------- 

Come join me at www.jawaban.com community!