Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Sambutan...

cahyadi's picture

Sambutan adalah omong kosong yang dilembagakan. Demikian kata seorang Romo kepadaku. Pertama kali mendengar penyataan ini aku terkaget-kaget. Sesaat melintas sebuah ide di kepalaku untuk membuat tulisan tentang pernyataan ini. Dan inilah sedikit perenungan tentang hal itu.

Sambutan seperti yang biasa kita dengar, selalu menjadi salah satu bagian dalam perhelatan suatu acara. Entah itu acara resmi, semi resmi atau acara yang tidak resmi sekalipun. Semua pasti tidak lupa mencantumkan satu, dua, atau beberapa sambutan. Yang paling umum biasanya sambutan ketua panitia (penyelenggara acara), sambutan dari yang punya ‘kuasa’,  yang berkaitan dengan acara tersebut, sambutan dari tamu undangan ‘penting’ dan beberapa sambutan yang lain. Kadang sambutan begitu enak didengarkan karena bisa dimengerti, lucu dan membuat orang terbangun dari rasa ‘kantuk’ namun tak jarang pula sambutan berubah menjadi sesuatu yang begitu membosankan.

Sebenarnya apakah setiap mengadakan suatu acara perlu selalu diberikan sambutan? Ya dan tidak. Ya jika sambutan itu memang sungguh-sungguh perlu dan penting untuk di’omong’kan (yang ndak penting ndak usah di’omong’kan!). Tidak jika sambutan berubah menjadi ungkapan ‘basa-basi’ yang kemudian malah membuat orang menggerutu dalam hati, “Ngomong soal apa tho ini, kok ngalor-ngidul ndak karuan?” Sehingga hal ini menjadikan kita lebih selektif dalam memilih sambutan. Mana yang perlu ditampilkan dan mana yang tidak. Jangan sampai acara yang sudah kita susun dengan baik, pada akhirnya hanya menjadi sebuah parade sambutan.

Jika kita kaitkan dengan hal yang lebih jauh (yang berhubungan dengan kehidupan kita), ada satu nilai yang bisa kita ambil dari sebuah sambutan. Bahwa berkata-kata di dalam seluruh hidup kita hendaknya selalu keluar dari hati yang terdalam dan dilandasi kesetiaan akan kebenaran. Sehingga perkataan kita sungguh menjadi sesuatu yang penting demi kebaikan hidup bersama. Bukan hanya sebagai kalimat ‘basa-basi’ yang malah bisa menjadi sumber pertikaian.

 

Purnawan Kristanto's picture

Sambutan adalah komunikasi

 Sambutan adalah salah satu bentuk dari komunikasi lisan. Even ini diadakan karena ada kebutuhan untuk menyampaikan ide kepada orang banyak. Khotbah pendeta, homili para romo dan nubuatan nabi termasuk dalam kategori ini.

Masalahnya, sekarang ini kurang ada kreativitas di dalam isi dan cara penyampaian sambutan. Dimana-mana polanya klise. Pasti di bagian awal selalu diucapkan begini: "Pertama-tama mari kita panjatkan syukur kepada Tuhan YME atas berkah rahmat-Nya telah mengumpulkan kita....bla...bla...bla"

Nah yang diperlukan sekarang peningkatan mutu orang-orang yang memberi sambutan supaya mereka tidak menghabiskan waktu para hadirin untuk mendengarkan kata-kata basi yang itu-itu saja. Kalau perlu diadakan inovasi/terobosan dalam gaya penyampaian maupun isi pidato. Asyik tuh kalau ada yang mau memberi sambutan dengan gaya nge-rap.

 

__________________

 

Tulisan PurnawanFoto Purnawan  Video karya Purnawan

y-control's picture

upacara bendera

apa mungkin itu karena kebiasaan di upacara bendera ya? waktu sekolah, acara paling santai dalam upacara bendera malah amanat pembina upacara yg biasanya isinya nyeneni (memarahi) anak-anak.. hehehe... yg lain.. yah seperti itu, milteristik... kalo sempet liat siaran pencalonan atau inagurasi obama kayaknya paling sambutannya 'tengkyu tengkyu' gitu trus langsung pidato...

 

y-control, laki-laki, 27 th, pekerja berbayar

__________________

Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega (Pengkhotbah 7:3)

Ari_Thok's picture

Sambutan Wujud Penghormatan?

Sambutan itu bukannya memberikan kesan "ngajeni" atau menghargai dan menghormati terhadap yang lebih tua atau yang lebih berkuasa (jabatan)?

Sambutan juga bisa berarti untuk menunjukkan bahwa mereka itu "penting" dan punya pengaruh (andil) di acara tersebut, walo kadang wujudnya hanya memberikan kata sambutan.  Makanya tidak heran sambutan selalu diawal acara bukan diakhir acara. 

*yuk comment jangan hanya ngeblog*


*yuk ngeblog jangan hanya comment*

 

__________________

*yuk komen jangan cuma ngeblog*


*yuk ngeblog jangan cuma komen*

y-control's picture

format

kepada yang terkajen saudara ari_thok yang saja ajeni, bahwasanya mengingat dan menimbang daripada mangsud yang diutaraken saudara cahyadi yang juga saya ajeni, barangkali jika berkenan saya mohon daripada izin untuk mengutaraken sebuah arti, bahwa yang bikin pingin nggebuk daripada sebuah pembaca sambutan itu adalah format daripada sambutan itu sendiri, sehingga bapak-bapak ibu-ibu selalu mengucapken yang sama dan sama dan sama padahal tanpa daripada itu semua juga ora pateken, begitu kiranya semoga saudara ari_thok bisa daripada memaklumi daripada bahaya laten setan gundul bernama format sambutan itu.. terima kasih, semoga taufik hidayat  turun ke atas daripada anda, merdeka

 

y-control, laki-laki, 27 th, pekerja berbayar

__________________

Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega (Pengkhotbah 7:3)

Ari_Thok's picture

Gak Sesuai Tujuan?

Hahaha, sorry kalo menurutmu komentarku gak sesuai tujuan si penulis ya Y :) Lha yang tak tangkep pertama yang ini dulu kok

Sebenarnya apakah setiap mengadakan suatu acara perlu selalu diberikan sambutan?

Masalah setan gundul ya tugasnya pakar pendidikan bahasa Indonesia kali, supaya nyusun teori baru bagaimana menulis pidato yang nyentrik nan menarik. :)

*yuk comment jangan hanya ngeblog*


*yuk ngeblog jangan hanya comment*

 

__________________

*yuk komen jangan cuma ngeblog*


*yuk ngeblog jangan cuma komen*