Submitted by
Hannah
on
Selama perjalanan hidup saya yang baru segelintir tahun saja, saya melihat adanya kontradiksi dari peran Sang Juruselamat yang biarpun sudah begitu sering didengungkan di mimbar tapi masih sering saya renungkan dengan harapan saya bisa benar-benar mengertinya.
Sejak manusia jatuh dalam dosa, Allah sudah menubuatkan apa yang akan terjadi di kemudian hari, akan adanya keturunan manusia yang akan meremukkan kepala si ular.
(Demi untuk kemudahan, saya memulai tulisan ini dengan menggunakan istilah ‘Si Penakluk’ untuk menggambarkan karakter misterius yang meremukkan kepala ular ini).
Tapi ternyata nubuat Allah tidak sampai di situ saja. Seiring waktu Allah memberi manusia informasi tambahan mengenai Si Penakluk itu. Ibarat seorang pria yang jatuh cinta dengan seorang wanita dan tidak bisa menahan rahasia hatinya dari wanita itu, Allah sedikit demi sedikit membuka tabir rahasia yang menyelubungi karakter dan peranan Si Penakluk dalam rencana besar-Nya.
Tapi ternyata nubuat Allah tidak sampai di situ saja. Seiring waktu Allah memberi manusia informasi tambahan mengenai Si Penakluk itu. Ibarat seorang pria yang jatuh cinta dengan seorang wanita dan tidak bisa menahan rahasia hatinya dari wanita itu, Allah sedikit demi sedikit membuka tabir rahasia yang menyelubungi karakter dan peranan Si Penakluk dalam rencana besar-Nya.
Beberapa ribu tahun sejak kejatuhan manusia pertama dalam dosa, Musa merujuk kepada Si Penakluk sebagai seorang nabi dan Allah sendiri meneguhkan nubuatnya itu.
“Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan.” (Ul 18:15)
18 “seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.
19 Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.” (Ul 18:18-19)
Selain itu Bileam bin Beor, seorang ahli nujum dari Mesopotamia, menubuatkan akan adanya keturunan dari Yakub yang begitu memukau sampai diibaratkan seperti sebuah ‘bintang’.
“Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel, dan meremukkan pelipis-pelipis Moab, dan menghancurkan semua anak Set.” (Bil 24:17)
Lalu ada pula nabi Yesaya yang menggambarkan Si Penakluk sebagai seorang penasehat, bapa, raja, bahkan Allah.
Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. (Yes 9:5-6)
Lengkap sudah imej hebat si Penakluk di mata saya sampai saya menemukan kontradiksi dalam nubuat Yesaya di kesempatan lain.
Okelah kalau Yesaya bilang Si Penakluk itu tidak tampan bahkan buruk rupa. Keadaan lahiriah mungkin tidak terlalu penting kalau diimbangi dengan karakter yang hebat dan bisa mengundang simpati banyak orang.
Tapi ternyata kemudian Yesaya menggambarkan Si Penakluk seperti orang yang kena tulah, tertindas, sebuah korban penebus salah dan tidak berdaya.
2 Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.
3 Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.
4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.
5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (Yes 53:2-5)
10 Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.
11 Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul.
(Yes 53:10-11)
Belum selesai masa perenungan saya, saya dapati para penulis Injil pun menggambarkan Si Penakluk dari berbagai sisi yang berbeda.
Matius menggambarkan Si Penakluk, yang ternyata bernama Yesus (dalam bahasa ibu saya), sebagai keturunan dari Raja Daud yang penuh karisma. Dia pulalah satu-satunya penulis kitab Injil yang mencatat keberadaan 3 bangsawan asing yang datang dari negeri yang jauh untuk menghormati Yesus saat dia baru lahir. Mereka bahkan menyembahnya dan menyebutnya ‘raja’.
Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." (Mat 2:1-2)
Tapi kemudian penulis lain, Markus, menggambarkan Yesus sebagai seorang hamba Allah.
Saat saya membaca pasal 1 dari kitabnya, tanpa basa basi saya langsung dihadapkan dengan permulaan misi pelayanan Yesus.
Saya jadi teringat keluhan yang hampir setiap pagi saya gumamkan dalam hati setiap kali saya pagi-pagi disambut oleh manajer saya yang ganteng: “Datang-datang langsung ngomongin kerjaan.” Agak OOT tapi kurang lebih itulah yang ada di pikiran saya sewaktu saya membaca kitab Markus itu.
Di pihak lain Lukas menggambarkan Yesus secara begitu manusiawi. Yesus memiliki tante, sepupu, ikut memelihara budaya daerahnya bahkan sewaktu masih belia Yesus ternyata suka berkeliaran seperti anak seumurannya hingga sempat hilang dari pengawasan orang tuanya.
Membaca kitab Injil berikutnya, kitab Yohanes, serasa seperti naik roller coaster karena dikatakan bahwa Yesus adalah Allah sendiri.
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. (Yoh 1:1)
Masih banyak penulis lain dalam Alkitab yang menuliskan peran-peran lain yang Yesus miliki tapi karena keterbatasan waktu, tempat dan daya, saya tidak bahas semuanya satu per satu.
Dari mengamati berbagai perbedaan peran yang Yesus miliki – seorang raja, penasehat, bapa, Allah, nabi, imam, korban penebus salah, hamba, gembala, manusia - saya jadi melihat apa yang dia buat dan katakan secara berbeda dari sebelumnya karena biarpun dia sama manusiawinya seperti saya, ternyata dia tidak sama dengan saya.
Biarpun dia tau rasanya menderita, kesusahan dan kelaparan seperti saya, dia bukan saya dan reaksinya jauh berbeda dengan saya.
Tiap perbuatannya didasari oleh berbagai peran dan karakter yang dia miliki sedangkan saya memiliki peran yang terbatas.
Tidak perlu jauh-jauh bicara mengenai peran saya dalam rencana besar Allah, peran saya dalam hidup saya sehari-hari saja sangat terbatas.
Tidak perlu jauh-jauh bicara mengenai peran saya dalam rencana besar Allah, peran saya dalam hidup saya sehari-hari saja sangat terbatas.
Saya hanyalah orang sederhana dan pekerja harian yang setiap hari pergi pagi pulang malam, berusaha bekerja sebaik-baiknya demi sedikit uang untuk biaya hidup dan berusaha menabung demi masa depan yang kelihatannya berkabut.
Perusahaan tempat saya bekerja mungkin cukup besar tapi saya hanyalah orang kecil di dalamnya yang bersama ribuan orang lainnya terus berlomba meraih posisi yang lebih baik karena takut dipangkas kalau berada di bawah terus.
Perusahaan tempat saya bekerja mungkin cukup besar tapi saya hanyalah orang kecil di dalamnya yang bersama ribuan orang lainnya terus berlomba meraih posisi yang lebih baik karena takut dipangkas kalau berada di bawah terus.
Setelah mengaca ke diri sendiri, kalau saya masih meniru perbuatan Yesus tanpa benar-benar mengerti kemajemukan peran yang dia miliki saya ibaratnya sedang melihat dengan satu mata tertutup.
As of 05/20/2010
"Literary interpretation is in the eye of the beholder."