Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Sukacita Sejati

Lily Ika Loesita's picture

Sukacita Sejati

Sudah lama sekali saya tidak menulis, sejak saya tidak bisa lagi mengunakan laptop saya, dan hanya mengunakan HP sebagai penganti laptop. Sebagai penyandang cacat yang harus bergantung sepenuhnya kepada pertolongan orang lain, memang kurang praktis bagi saya untuk mengunakan lapotop. Orang harus mengambilkan laptop dari lemari dan menaruh di dekat tempat tidur saya, memasang kabel, mouse, dan modem. Dan harus membereskan semuanya dan mengembalikannya lagi ke dalam lemari setelah saya selesai memakainya. Sungguh sangat merepotkan! Sedangkan HP bisa selalu diletakan di tempat tidur saya, dan hanya membutuhkan pertolongan orang lain untuk mencas ulang jika batrenya sudah habis.

 

Namun beberapa hari ini hati saya tergerak untuk menulis kembali. Saya ingin menuliskan apa yang akhir-akhir ini Tuhan ingatkan kembali kepada saya tentang betapa sukacita dan damai sejahtera yang sejati hanya bisa kita dapatkan di dalam Tuhan. Dunia dan segala isinya hanya dapat memberi kita sukacita yang sifatnya sementara, dan jika kita hanya mengharapkan sukacita dari dunia, kita akan menjadi kecewa. Saya sangat bersyukur karena Tuhan mengingatkan saya akan kebenaran ini, dan saya ingin menuliskannya agar bisa menjadi berkat bagi orang lain.

 

Akhir-akhir ini saya menjadi "tempat sampah" yang setia bagi teman dan adik perempuan saya. Teman saya baru menikah beberapa bulan, sedangkan adik saya sudah memiliki 3 orang anak, tetapi mereka sama-sama tidak merasa bahagia dalam pernikahan mereka, dan justru pernikahan membuat mereka merasa sengsara.

 

Mereka menceritakan problem rumah tangga mereka masing-masing kepada saya, dan meskipun masalah yang mereka hadapi dalam pernikahan berbeda, namun saya bisa melihat penyebab yang sama untuk "kesengsaraan" yang mereka rasakan, yaitu karena mereka merasa pasangan mereka tidak lagi dapat membahagiakan mereka. Kebahagiaan yang mereka harapkan bisa didapatkan dari pernikahan tenyata tidak mereka dapatkan.

 

Dulu sewaktu berpacaran, pasangan mereka begitu memperhatikan mereka. Memanjakan, dan berusaha memenuhi semua keinginan mereka. Mereka diperlakukan seperti princess, dan itu membuat mereka bahagia bagaikan terbang ke awan.

 

Tetapi setelah menikah, pasangan mereka tidak bisa terus memperlakukan mereka seperti princess, tetapi memperlakukan mereka seperti istri rakyat biasa yang harus bekerja keras, berhemat, dan harus bisa menghormati suaminya. Pendeknya, mereka dibawa turun dari awan dan harus menjalani hidup yang membumi. Dan itu membuat mereka tidak lagi bahagia.

 

Mereka menceritakan kepada saya tentang "kekurangan-kekurangan" yang membuat mereka tidak bahagia. Bahkan teman saya sampai menangis karena menceritakan "penderitaannya". Mereka lupa , bahwa selain kekurangan-kekurangan yang membuat mereka tidak bahagia, mereka masih mempunyai banyak hal lain yang seharusnya bisa membuat mereka berbahagia.

 

Sebenarnya mereka masih punya banyak hal yang tidak saya miliki. Jika mereka mau sebentar saja untuk tidak memandang kepada diri sendiri, dan melihat kepada saya yang mereka jadikan "tempat sampah", tentu mereka akan melihat bahwa mereka memiliki jauh lebih banyak daripada yang saya miliki. Mereka punya rumah, mobil, juga baju-baju bagus yang bisa dipakai. Sedangkan saya hanya bisa memakai baju tidur. Terlebih lagi mereka memiliki tubuh yang sehat, dan bisa pergi kemana saja mereka kehendaki. Sedangkan saya harus hidup dengan rasa sakit, dan harus menghabiskan hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun hanya dengan berbaring di tempat tidur.

 

Sebagai seorang kakak dan sahabat, saya berusaha sebaik mungkin untuk menghibur dan memberi nasehat kepada adik dan teman saya itu. Karena meskipun saya belum menikah, saya banyak membaca buku-buku tentang pernikahan dan keluarga. Tetapi terlintas dalam pikiran saya, kenapa mereka yang berkeluh kesah kepada saya, bukannya lebih pantas jika saya yang berkeluh kesah kepada orang lain, mengingat apa yang selama ini saya alami. Saya sudah lumpuh selama 20 tahun, dan secara medis tidak ada harapan untuk sembuh. Namun saya tidak pernah mengeluh kepada orang lain.

 

Pada saat itu, seolah Tuhan mengingatkan saya, bahwa meskipun saya sudah lumpuh selama 20 tahun, tetapi Tuhan telah memberikan sukacita dan damai sejahteraNya kepada saya, sehingga saya sanggup melewati hari-hari saya yang panjang dan berat. Dan bukan hanya itu, sukacita yang dari Tuhan membuat saya mampu menghibur dan menguatkan mereka "yang lebih beruntung" daripada saya. Seperti Alikitab berkata: 2 Korintus 1:1, 3-4 (TB) .

Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan,

yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.

 

Sukacita yang dari Tuhan bisa membuat saya berbahagia karena buku yang saya miliki, lebih daripada teman saya berbahagia atas mobil yang dia miliki. Musik yang saya dengar dalam kamar, membuat saya berbahagia, lebih daripada kebahagiaan yang teman saya dapat ketika dia berbelanja di mall.

 

Oleh sebab itu, saya sangat bersyukur kepada Tuhan, karena meskipun tidak banyak yang saya miliki, saya bisa bersukacita dan berbahagia dengan milik saya yang sedikit itu. jauh melebihi sukacita dan kebahagiaan yang dirasakan orang lain, sekalipun mereka memiliki segala sesuatu.

 

Memang, tidak mungkin saya bersukacita setiap saat. Tidak mungkin pula setiap bangun pagi saya akan berkata: "Halelluya, puji Tuhan untuk hari baru yang Tuhan berikan". Sejujurnya, ada saatnya hidup terasa begitu berat bagi saya, apalagi jika melihat kenyataan bahwa saya selalu menjadi beban bagi orang lain. Bahkan ada saatnya saya memohon agar Yesus membawa saya pulang ke surga. Sering kali saya juga mengawali hari baru dengan rasa sedih, kasihan kepada diri sendiri dan berkeluh kesah kepada Tuhan, terutama di malam-malam saat kaki saya terus-terusan kejang, dan membuat saya tidak bisa tidur barang semenit pun, dan saat pagi tubuh saya sangat sakit semua. Namun Tuhan tidak membiarkan saya berlarut-larut dalam lembah penderitaan. Tuhan akan memberikan kembali sukacitaNya kepada saya, sehingga meskipun saya sedang sedih, saya masih bisa memberikan minimal senyuman kepada orang lain.

 

Di dunia yang sedang menjerat manusia dalam gaya hidup konsumtif saat ini, banyak orang yang menjadi tidak bahagia karena mereka tidak atau belum bisa mendapatkan hal-hal yang mereka inginkan. Padahal keinginan manusia tidak mungkin pernah terpuaskan. Ibarat seseorang yang haus dan meminum air laut untuk melepaskan dahaganya, tetapi semakin minum, dia merasa semakin haus. Begitu juga keinginan manusia, ketika satu keinginan terpenuhi, akan segera muncul keinginan yang lain. Semakin banyak keinginan yang terpenuhi, semakin banyak pula keinginan baru yang muncul. Akibatnya, jika kita baru bisa berbahagia setelah mendapatkan apa yang kita inginkan, selamanya kita tidak akan bisa berbahagia! Karena keinginan baru terus akan datang, yang menyebabkan "penderitaan" baru bagi kita.

 

Kebahagiaan dan sukacita sejati hanya bisa dapatkan dalam Tuhan. Saat kita mau belajar untuk selalu bersyukur dan merasa puas dengan apa yang kita miliki, maka Tuhan akan memberikan sukacitaNya dalam hati kita, sehingga kita bisa bersukacita dengan apa yang kita miliki, meskipun tidak banyak yang kita miliki. Memang tidak mudah untuk selalu bersyukur dan merasa puas dengan apa yang kita miliki, karena manusia pada dasarnya cenderung untuk selalu merasa tidak puas. Tetapi, jika kita mau belajar untuk bersyukur dan merasa puas; Roh Kudus akan memampukan kita untuk hal itu. Bukankah untuk bisa selalu bersyukur dan merasa puas adalah perintah firman Tuhan. Ibrani 13:5 (TB) Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."  

 

Apa yang saya tuliskan ini adalah sebuah kebenaran sederhana. Dan saya yakin, sebagian besar dari kita, orang Kristen, sudah mengetahuinya. Namun, sebagai manusia, kita sering kali lupa kepada kebenaran-kebenaran sederhana yang sudah Alkitab ajarkan kepada kita. Dan sebagai manusia, kita perlu terus diingatkan untuk selalu kembali berpaling kepada Firman Tuhan, karena daya tarik dunia semakin kuat menarik perhatian kita untuk menjauhkan kita dari sukacita yang sejati.

 

Tuhan Membekati