Sedang asyik-asyiknya makan siang tiba-tiba kerongkonganku terasa tercucuk sesuatu, rasa sakit dan sangat tidak enak, segera aku menghentikan makanku, aku sadar ada sesuatu yang tersangkut dikerongkonganku dan bisa dipastikan tulang ikanlah yang sudah bersarang disana. Dengan menelan sisa makanan dimulutku aku berharap tulang ikan ikut tertelan juga tetapi ternyata tulang itu tetap bertahan dikerongkonganku rasanya sakit dan sangat mengganggu.
Merasa tidak ingin menganggu teman lain yang sedang makan, buru-buru aku lari ke kamar kecil, masuk kemudian mengunci pintu, aku mulai mencoba memuntahkan tulang yang ada di kerongkonganku, namun sepertinya ada yang salah, kamar kecil yang aku pilih sebagai tempat yang aku pikir sangat aman karena selain tak terlihat oleh orang, suara-suara anehpun pasti tidak akan terdengar, namun sayang dugaanku meleset, pilihanku salah karena saat ini aku sedang mencium aroma khas yang masih tersisa, pastilah tadi beberapa saat sebelum masuk ada orang yang baru keluar BAB dari tempat ini,aroma khas itu pun mengundang isi perut ku untuk keluar, sehingga bukan hanya tulang ikan yang aku muntahkan, sebagian dari makanan yang baru aku telanpun ikut keluar, merasa sudah terlanjur akhirnya aku memuntahkan makananku.
Setelah menyelesaikan muntahan terakhir buru-buru aku keluar dari kamar kecil untuk kembali ketempat makananku semula, terlihat teman-teman yang sangat menikmati makanannya sementara selera makanku sudah hilang.
Duduk dan terdiam sejenak memandangi nasi dan lauk pauk yang sudah terlihat setengah di piring, aku jadi teringat beberapa teman yang sangat tidak setuju ada makanan yang tidak dihabiskan, teman-teman yang selalu berkomentar apabila melihat orang tidak menghabiskan makanannya, bahkan pernah sewaktu makan diwarung bersama salah satu dari mereka, temanku itu meminta pemilik warung untuk membungkus sisa makanan ku yang tidak habis dan memintaku untuk kembali memakannya apabila nanti lapar, katanya "kita harus bertanggung jawab terhadap makanan yang sudah kita pesan, kalau tidak habis ya pesannya sedikit jangan porsi normal” , aku hanya menurut meski akhirnya makanan sisa itu tidak aku makan juga karena waktu membuka bungkusan itu kembali makanan didalamnya sudah terlihat tidak layak untuk dimakan, karena tercampur dan sudah dingin.
Namun aku tak merasa bahwa hal itu salah, dari mereka aku belajar bagaimana menghargai makanan, aku menyetujui pendapat mereka, apalagi setelah beberapakali menonton berita tentang kelaparan, salah satunya tentang orang-orang tidak mampu disalah satu daerah hanya bisa membeli nasi aking (nasi sisa yang dikeringkan untuk pakan ternak) untuk makanan sehari-hari, mengingat hal ini kembali aku merasa harus menghabiskan makananku, mencoba menenangkan perasaanku, setelah beberapa saat akupun mulai memaksakan makanan masuk dimulutku, mencoba mengunyah dan menelannya, suapan berikut seperti memakan makanan aneh aku menelan makanan tanpa mengunyah dan menahan penciumanku sehingga tidak mencium apapun, cara ini sepertinya berhasil namun aku sudah benar-benar tidak tahan, sisa aroma di kamar kecil masih jelas di ingatanku, sehingga tetap saja makananku tidak bisa habis.
***