Shalom,
Seorang teman, pak Bahari, dulunya dari Protestan. Pertamakali mengikuti kharismatik setengahnya tidak percaya soal urapan. Dia sempat mengira bahwa seorang yang rebah dalam urapan itu lantaran didorong-dorong. Lalu suatu hari dia berdoa meminta pertanda dari Tuhan agar jika dia diurapi Tuhan, ada sesuatu yang dia boleh rasakan. Benar saja, tidak lama kemudian ketika dalam suatu ibadah diadakan pengurapan oleh seorang hamba Tuhan, dia memperoleh urapan, dan tubuhnya berguncang keras tanpa dapat dia kendalikan.
Lalu setiap kali dia mengalami pengurapan, selalu terjadi begitu, tubuhnya terguncang-guncang sebegitu kuatnya, sehingga terkadang ketika dipegangi oleh seorang pengerja, mereka bisa tumbang bersama-sama karena tenaga itu.
Ada berbagai respons yang mungkin dialami oleh seseorang pada waktu menerima urapan dari TUHAN.
Yang pertama, dia mengalami guncangan yang cukup kuat. Semakin berusaha ditahan, semakin ia tidak berdaya. Semula Muji sempat curiga jangan-jangan itu manifestasi roh jahat yang masih ada. Namun ternyata dapat dibedakan antara manifestasi oleh sebab roh jahat dan manifestasi urapan Roh Kudus.
Yang kedua, orang yang memperoleh urapan tidak harus tubuhnya terguncang-guncang. Namun ada sesuatu yang tiba-tiba membuatnya ingin menangis. Muji dan kakak Muji mempunyai respon yang lebih kurang sama pada waktu kami menerima urapan Allah. Kami tidak mudah menangis,bahkan ketika menyaksikan peristiwa kecelakaan, ataupun orang yang meninggal. Namun ketika ada urapan, kami terdorong untuk menitikkan airmata dalam kekaguman kepada kasih dan kebaikan Allah.
Apakah urapan perlu diterima setiap hari?
Muji menjawab: sangat perlu!!
Yesus menggambarkan murid-murid-Nya sebagai ranting anggur dan Dia sendiri sebagai Pokok Anggur yang benar. Ranting anggur menerima sari2 makanan setiap hari dari pokok anggur, dan secara kontinu.
Jika aliran sari2 makanan dihentikan, maka ranting anggur akan layu dan mengering, akhirnya mati.
Kristen yang setiap hari menerima urapan baru, yang dilakukan antara lain dengan bersaat teduh dan merasakan hadirat-Nya, maka ia menerima aliran-aliran "makanan" rohnya yaitu urapan baru yang dia dapat ketika berada dalam hadirat Allah. Itulah sebabnya setiap saat teduh, kita perlu dapat merasakan urapan-Nya, sehingga harus berada di hadirat-Nya.
Bersaat teduh semata-mata karena rutinitas, dapat menghambat kehadiran-Nya (Yesaya pasal 1), namun bersaat teduh dengan kerinduan, dengan rasa lapar dan haus akan Tuhan, akan mengangkat kita memasuki hadirat-Nya. Sebab Tuhan kita adalah Tuhan yang senantiasa ingin mengalami kebersamaan dengan umat kesayangan-Nya, umat yang telah ditebus-Nya, umat Perjanjian Baru milik-Nya.
Semakin sering kita tinggal dalam hadirat-Nya, semakin sering kita merasakan urapan-Nya, akan membuat roh kita berkembang, membesar, menggelembung.
Dalam level tertentu, dengan seringnya kita menerima urapan Allah, maka hadirat Allah akan terus menyertai kita, dan dalam level tertentu itu, maka seorang berdosa yang berdekatan dengan kita mungkin akan menangis dan secara tiba-tiba menyadari akan dosanya dan bertobat.
Masih ingat kisah perempuan berdosa. Ketika ia berada dekat dengan Yesus, maka kuasa urapan-Nya membuat wanita tuna susila itu menangis dan bertobat. Itulah kuasa urapan.
Dua cara orang menerima urapan. Pertama, didoakan orang lain. Kedua, berdoa sendiri, menyembah sendiri. Untuk yang kedua, pastikan diri seseorang sudah mengampuni semua orang lain, lalu meminta ampun untuk semua dosa dan kesalahan, dan percayai bahwa kuasa penebusan Yesus telah menghapus dosanya semenjak dia bertobat dan mempercayai Anak Domba Allah sebagai korban yang lengkap.
Tuhan Yesus memberkati.