Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Urip iku mung mampir ngombe

victorc's picture

Shalom, selamat malam saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus. Beberapa hari lalu saya sedang merampungkan versi akhir Jurnal Teologi dari kampus almamater tempat saya kuliah dulu. Untuk editorial, saya mengutip sebuah pepatah kuno yang merupakan salah satu butir kearifan khas orang Jawa dahulu: Urip iku mung mampir ngombe...

berikut ini adalah artikel editorial saya:

===

Ungkapan "Urip iku mung mampir ngombe" cukup dikenal di kalangan orang-orang Jawa dahulu. Seorang rekan yang kebetulan seorang pendeta menceritakan asal-usul ungkapan itu:

"Pepatah ini sudah sangat tua ada di masyarakat Jawa. Ketika pepatah ini muncul dulu, relasi inter anggota masyarakat Jawa sangat terbuka dan akrab. Setiap rumah pasti menyiapkan kendhi atau teko tanah tempat air minum dan ditempatkan di depan rumah dekat jalan. Setiap orang yang lewat di jalan situ boleh minum dari air itu sepuasnya. Tuan rumah akan memeriksa kendhi itu secara berkala. Kalau air di dalamnya habis, ia akan segera mengisinya. Yang sedang berjalan tidak perlu repot harus bertamu, yang punya rumah juga tidak perlu repot menyiapkan tamunya. Nah, meminum air dari kendhi-kendhi di pinggir jalan itulah yang disebut mampir ngombe (mampir minum)."[1]

 

Tentu ada berbagai pemaknaan yang mungkin atas ungkapan tersebut:

a. Pemaknaan literal: jika hidup hanya untuk minum-minum (alkohol), jadinya ya bisa kena kanker liver,

b. pemaknaan kiasan: hidup ini hanya singkat dan sangat sementara, seperti mampir minum saja.[2]

c. Pemaknaan dari sudut budaya keramahan: hidup yang singkat ini bukan milik kita, kita hanyalah orang yang mampir menikmati kebaikan cuma-cuma dari Sang Tuan Rumah dan Pemilik hidup, yakni Tuhan Yang Maha Esa.

d. Namun ada pemaknaan lain, yakni pemaknaan teologis: hidup ini memang singkat dan seperti mampir minum, namun apa yang kita minum itu yang akan menentukan masa depan kita dalam kekekalan. Apakah kita memilih untuk minum:

- anggur kesenangan duniawi: kalau kita menghabiskan waktu untuk kesenangan atau kerap disebut gaya hidup hedonistik, maka kita akan dihukum setimpal dalam kekekalan.

- anggur baru dari Tuhan: jika kita melewatkan hidup ini dengan minum anggur baru dari Tuhan, yaitu hidup bergaul karib dengan Yesus Kristus, Sang Tuhan dan Juruselamat sejati, maka kita akan memperoleh hidup yang kekal kini dan kelak.

Makna "mampir minum" yang keempat inilah yang kiranya ditawarkan Yesus sebagai Sang Air Kehidupan. Yesus menawarkan air yang membuat kita tidak akan pernah haus lagi, seperti dalam percakapan dengan perempuan Samaria di sumur Yakub:

 

Yohanes 4:10-14

    10  Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." 

    11  Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? 

    12  Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?" 

    13  Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, 

    14  tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." 

 

Jika kemudian kita sudah meminum dari Air Kehidupan itu, lalu apa selanjutnya? Tentu kita mesti menyelesaikan tugas kita di dunia ini, meskipun ada banyak hal menarik yang bisa dikerjakan selain itu. Seperti dikatakan oleh Robert Brault, ada satu alasan mengapa kita dilahirkan di bumi, namun kita terlalu sibuk untuk hal-hal lainnya:

"There is a reason you were born and a bunch of things you've got to do today regardless." - Robert Brault.[3]

***

Sehubungan dengan pepatah Jawa yang dikutip di atas, Amreta dalam bahasa Sansekerta berarti air kehidupan. Menurut Prof. Dr. FX Eko Armada Riyanto, Rektor STFT Widya Sasana:

Di kamus Amrita (mungkin bukan Amreta) adalah "beverage of immortality" (Air keabadian). Terminologi "Air" tentu langsung merujuk kepada Kebijaksanaan. Asal usul nama itu mengingatkan kita akan "Bima Suci" yang mencari air perwito sari, yang tidak lain adalah Kebijaksanaan yang membawa kepada kehidupan sejati. Kalau mau dihubungkan dengan teologi, itu relevan dengan Kisah Perempuan Samaria yang mencari air dan bertemu dengan Kristus. Silakan mengurai sendiri kisah itu.  

Kiranya Jurnal Amreta ini dapat dimaknai sebagai upaya nyata untuk membumikan wacana teologi Pentakostal ke alam berpikir masyarakat Indonesia.

Tema yang diangkat untuk edisi perdana Jurnal ini adalah: "Pentecostalism & Demonology." Tujuan tema ini adalah untuk mengupas segi-segi demonology yang berhubungan dengan kehidupan nyata umat Kristen, khususnya dalam perspektif Pentakostal-Karismatik.

 

***

Jurnal Teologi Amreta adalah berkala semi-ilmiah bilingual (Indonesia dan English) yang dirancang untuk turut mengembangkan dan memajukan karya tulis di bidang biblika, teologi, misiologi, pelayanan, filsafat, psikologi, kepemimpinan, dan bidang terkait lainnya. Meskipun visi dan misi institusional bercorak Pentakosta-Kharismatik, jurnal ini tetap membuka diri terhadap karya tulis bermutu yang bernuansa lintas denominasi.

Jurnal ini bersifat diamond open access (tidak memberlakukan biaya berlangganan baik kepada penulis maupun pembaca). Jurnal ini direncanakan terbit dua kali setahun (semi-annually) dalam versi cetak maupun daring.

Terima kasih atas partisipasi para kontributor edisi ini, dan terimakasih atas kesediaan Anda meluangkan waktu membaca Jurnal ini.

Salam dalam kasih Kristus,



[1] Terimakasih kepada Bp. Pdt. Chrysta B.P. Andrea dari GKJW.

[2] http://piwulangluhur.blogspot.co.id/2011/03/makna-ajaran-wong-urip.html

[3] http://www.quotegarden.com/life.html

 

===

* Catatan: bagi pembaca yang ingin tahu lebih mendalam tentang Jurnal Amreta, bisa unduh secara cuma-cuma di link berikut: Jurnal Teologi Amreta, Edisi perdana, vol. 1, No. 1. Tema: Pentecostalism & Demonology. (Desember 2017). url: https://www.academia.edu/35444374/Jurnal_Teologi_Amreta_vol.1_no.1_dec2017

__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.