ALKITAB
Ketika membaca alkitab terbitan Lai, apa yang ada dibenak kita? Tentu saja Firman Allah. Firman yang benar dan tidak salah.Kita membaca alkitab terbitan Lai dalam bahasa Indonesia, karena kita orang Indonesia.Bangsa besar yang bahasanya diberikan tempat khusus didunia internasional.Lalu ada apa dengan bahasa Indonesia dalam Alkitab?Kurang tepat mengartikan dari nas yang aslinya? Kurang benar,kurang bermakna, tidak bermakna sedalam nas aslinya? Kalah dengan pengartian dalam Bahasa Inggris? Lalu kita ini orang apa? Orang barat? Orang Bule? Bukan!!!
Kita ini orang Indonesia. Yang mempunyai Bahasa Indonesia. Untuk apa ada Sumpah Pemuda, kalau kita tidak mempercayai Bahasa Indonesia sebagai Bahasa yang benar dan diakui oleh dunia internasional? Untuk apa mempersatukan Nusantara menjadi satu bangsa, satu tumpah darah dan satu bahasa, INDONESIA.
Mungkin perlu saya petikan lagi bunyi Sumpah Pemuda, yang dibacakan pertama kali tanggal 28 Oktober 1928, demikian bunyinya :
Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku
bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku
berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia,
menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Banyak yang mengatakan bahwa Nas asli Alkitab tidak seperti yang telah diterjemahkan oleh LAI. Jika LAI adalah sebuah lembaga resmi, yang diakui sejak dahulu, dan diakui juga oleh negara Indonesia, lalu kenapa jadi menyangsikan apa yang sudah dikerjakan oleh LAI selama ini?
Perlukan Alkitab LAI direvisi, layaknya seperti hukum di Indonesia yang sudah seharusnya bukan hanya direvisi, melainkan diganti karena itu adalah buatan Belanda? Jawabannya akan ya, jika ternyata alkitab yang diterbitkan dengan LAI banyak memuat ketidakbenaran dan ketidakakuratan pengartian sehingga bergeser maknanya dari pengertian yang asli dari bahasa Ibrani. Jika benar adanya demikian, lalu bagaimana nasib pembaca alkitab dalam bahsa Indonesia? Bukankah mereka harus kembali membaca ulang semua yang sudah pernah dibacanya? Pentingkah? Seberapa penting?
Jawabannya adalah sangat penting. Bagaimana Firman itu bisa dibaca, dimengerti, dan pada akhirnya diamalkan jika ternyata apa yang kita baca, kita mengerti dan akhirnya kita amalkan itu adalah bukan isi dari Nas yang sebenarnya. Mendengar mereka mengatakan membaca alkitab lebih baik dalam bahasa aslinya, atau dalam bahasa Inggris, karena diartikannya jauh lebih mengena dan lebih akurat daripada bahasa Indonesia. Apakah benar demikian.
Mari kita pikirkan bersama.Siapakah yang menulis semua nas nas yang akhirnya menjadi suatu kumpulan tulisan yang disebut Alkitab? Mereka adalah Orang Orang yang hidup sebelum dan sesudah Yesus.Siapakah mereka? Mereka adalah orang orang yang berasal dari Timur Tengah. Apa bahasa mereka? Bahasa Yunani, Bahasa Ibrani, Bahasa Aram. Untuk lebih jelasnya saya akan kutipkan dari nara sumbernya bisa anda baca DISINI, juga bisa anda baca seperti yang dikutipkan dibawah ini lengkap dengan nara sumbernya.
Teks-teks Perjanjian Lama
1.Teks Masoret
2.Teks Pentateukh Samaritan
3.Teks Qumran
4.Teks Yunani
5.Targum
6. Pesyitta
7.Terjemahan-terjemahan dalam Bahasa Latin
Petikan :
Sampai sekitar tahun 250 M bahasa Yunani merupakan bahasa pengantar resmi di seluruh kerajaan Romawi. Namun di beberapa provinsi, misalnya di Afrika Utara, bahasa Latin masih menjadi bahasa pergaulan masyarakat, sehingga dibutuhkan penerjemahan kitab suci ke dalam bahasa Latin untuk masyarakat yang berdiam di provinsi-provinsi tersebut. Terjemahan-terjemahan kitab suci ke dalam bahasa Latin tersebut mulai muncul pada awal abad ke-2 M. Tradisi penerjemahan yang tertua adalah terjemahan dari Afrika, dan yang lebih muda adalah terjemahan dari Italia. Terjemahan-terjemahan Latin ini disebut dengan nama "Vetus Latina" atau oleh orang Galia-Selatan disebut dengan nama "Itala" (versio Itala). Penerjemahan-penerjemahan ini berdasarkan teks LXX.
Paus Damasus (366-384) memutuskan untuk merevisi Alkitab latin dan hasil dari perevisian ini akan menjadi teks resmi gereja Katolik. Untuk mewujudkannya, dia memerintahkan kepa-da Sophronius Eusebius Hieronimus (347-419) untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa latin atau sedikitnya merevisi teks-teks latin yang sudah ada. Hieronimus menyelesaikan penerjemahannya pada tahun 406. Terjemahan Alkitab ke dalam bahasa latin tersebut disebut Vulgata. Pada tahun 801 Vulgata kembali direvisi oleh Abt Alkuin.
Melalui keputusan pada Konsili Vatikan II Vulgata direvisi kembali dan revisi tersebut selesai pada tahun 1979. Hasil revisi Vulgata tersebut disebut Nova Vulgata.
Sumber : Perjanjian Lama
Teks -Teks Perjanjian Baru
Kata "Perjanjian Baru" merupakan terjemahan dari bahasa Latin Novum Testamentum, yang merupakan terjemahan Yunani ?????? ???????, I Keni Diathiki.
Untuk lebih jelasnya bisa dibaca pada sumbernya dibawah ini :
Sumber : Perjanjian Baru
Begitu banyaknya sumber yang harus kita ketahui hanya untuk mengetahui tentang sejarah dari nas nas asli alkitab tersebut.
Butuh waktu berapa lama dalam hidup kita?
Butuh kemampuan yang bagaimana sehingga kita bisa mencari dan menelitinya? -Butuh bantuan teknologi yang seberapa canggih juga pengetahuan yang luas untuk mendukung acara perburuan nas nas asli guna mengetahui kebenaran yang sesungguhnya?
Kenapa sebegitu rumit dan butuh waktu yang panjang, penantian yang lama, penelitian dan usaha yang cukup banyak untuk bisa merealisasikan semuanya itu? Seberapa fasih kita bisa menguasai bahasa bahasa diluar bahasa Indonesia tersebut?
Berapa lama LAI sudah berkarya di Indonesia? 49 tahun.....!
Apa yang sudah LAI kerjakan?
TIDAK ADA selain daripada menerbitkan kebohongan dan juga menerbitkan suatu ketidakbenaran dari isi Firman Allah. Benarkah LAI melakukan kebohongan kebohongan yang bisa mengaburkan makna asli dari nas aslinya?
Mari kita membahasnya. Dibawah ini saya berikan link tentang :
Demikian petikan ringkasnya:
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) didirikan tanggal 9 Februari 1954 atas prakarsa beberapa tokoh gereja dan masyarakat, yaitu Dr TSG Mulia, Ds MK Tjakraatmadja. Ds Pouw Ie Gwan, Dsi PD Latuihamallo, Ds R. Saptojo Judokusumo, Willem AEZ Makaliwe, E. Katoppo, Mr Giok Pwee Khouw, Ny Tjitjih Leimena.
LAI mengembangkan kerja sama dengan lembaga-lembaga oikoumenis di arah nasional, seperti Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, Konferensi Waligereja Indonesia, Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia, Persekutuan Injili Indonesia, Bala Keselamatan: Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, Persekutuan Baptis Indonesia, juga dengan instansi Pemerintah yang terkait.
Peranan lembaga-lembaga oikoumenis itu tampak antara lain dalam kehadiran utusan mereka di kepengurusan yayasan serta perangkat- perangkat keorganisasian LAI lainnya. Pelayanan LAI berdimensi oikoumenis, dalam arti LAI melayani seluruh umat Kristiani tanpa membedakan latarbelakang gereja.
Misioner dalam arti bahwa LAI menerjemahkan, menerbitkan, serta menyebarkan Kitab Suci yang di dalamnya berisi ajaran Kristiani untuk memandu umat dalam mengkomunikasikan berita kesukaan secara luas. Ciri pelayanan yang oikoumenis-misioner ini menjadi ciri unik dan spesifik dari LAI. Di sini pula letak kekuatan peranan LAI untuk tampil memainkan peran sebagai wahana perwujudan keesaan gereja di Indonesia.
Apakah Lai sendiri dalam bekerja? Tidak.
Apakah Lai menerbitkan alkitab penuh kebohongan? Tidak
Apakah Lai mengartikan semua yang tertulis dalam alkitab terbitan LAI dengan “ Ketidak akuratan?” TIDAK.
Jika YA,..salahkan semua yang namanya tertulis diatas. Semua wakil, semua pemuka agama, dan semua manusia yang terlibat didalamnya.
Membaca alkitab terbitan LAI, adalah membaca Firman Allah. sama dengan membaca Alkitab dalam bahasa Inggris, dan juga dalam bahasa Jawa sekalipun. Semua orang yang membacanya tentu mempunyai porsi yang sesuai sebagai seorang jemaat.
Jemaat yang kerjanya tidak menguliti alkitab helai demi helai.
Jemaat yang tidak semuanya jago berbahasa Inggris.
Jemaat yang tidak semuanya bisa main internet, Jemaat yang tidak bisa mengerti bahasa Ibrani, Yunani atau Aram.
Jemaat yang bahkan tidak bisa membaca.
Jemaat yang hanya bisa dan mengereti bahasa Indonesia.
Jemaat yang tidak mengerti apa itu istilah predestinasi, hermeneutika, freewill, dikotomi, trikotomi,was wis wus wes wos…dan lain sebagainya.
Sumbernya bagi mereka kebanyakan adalah Alkitab LAI. Jika lagi lagi sebagian pihak menyangsikannya, lalu tindakan apa yang seharusnya dilakukan agar banyak yang terselamatkan dari ketidak benaran?
Jika seandainya. Diulangi :“SEANDAINYA” memang diketemukan ketidakbenaran, ketidak akuratan dalam menerjemahkan, atau ketidaksesuaian pengartian karena mengunakan tafsiran atau ilmu hermeneutika,atau karena kosa kata bahasa Indonesia yang tidak seluas bahasa aslinya.maka tugas bagi yang menguasai bahasa-bahasa asli dari nas alkitab seperti bahasa aram, bahasa Yunani dan juga bahasa Ibrani, juga yang menguasai bahasa Inggris dengan fasih,yang bisa mempunyai waktu untuk menguliti alkitab helai demi helainya, yang bisa mencari sebanyak banyaknya data di internet, dan bisa melakukan semuanya itu dan punya cukup waktu, beritakan kepada mereka yang tidak tahu. Beranikan diri untuk mengungkapkan kebenaran sejati dimuka umum.
Dan tidak perlu melakukan tindakan tindakan untuk melawan LAI dengan cara melakukan penyuratan atau apapun itu namanya, melakukan somasi atau surat terbuka atau hal-hal tidak mungkin lainnya.
Kenapa saya katakan tidak mungkin?
Karena LAI bukan hanya satu lembaga kecil dengan orang orang kecil. Mereka terdiri dari para pemikir dan para orang pintar yang berpengaruh yang telah bekerja dengan begitu hebatnya dengan dukungan banyak tokoh lainnya serta diakui eksistensinya oleh negara serta disahkan olehnya.
Lalu apakah orang orang yang mengetahui rahasia lain, yang semuanya tidak ditulis oleh LAI berani memperjuangkan dan mendedikasikan apa yang diketemukannya untuk bisa diwartakan kepada orang lain? Itulah tugas yang mulia bagi mereka yang memang menemukan itu, dan merasa benar karena mereka membaca apa yag tidak LAI baca, mengartikan apa yang LAI tidak artikan, dan memahami apa yang LAI tidak pahami.
Jika apa yang diketemukannya tidak berkembang, dan tidak bisa diwartakan untuk orang lain , lalu buat apa berteriak akan kebenaran yang didapat kalau kebenaran itu tetap tersembunyi dan tidak pernah muncul kepermukaan? Butuh dukungan dan bantuan dari segala pihak, baik berupa dukungan moril, dukungan pemikiran maupun dukungan materiil guna bisa mengungkapkannya agar bisa naik kepermukaan. Jadilah seperti seorang SUSNO DUADJI. Berani menjadi Whistle Blower, jika memang kebenaran sejati lah yang diketemukannya. Allah pun tak akan tinggal diam agar kebenaran dari Firman Nya bisa diungkap secara benar.
Bukankah begitu?Apa maksud dari semuanya ini?
Disatu sisi saya menyangsikan akan tindak tanduk LAI, Namun pada sisi yang sama saya juga menuliskan kerja keras dan karya LAI dalam 49 tahun LAI berkarya.
Disatu sisi, saya menuliskan bahwa karena kita orang Indonesia, dan bangga jadi bangsa Indonesia yang memiliki Bahasa persatuan yang diakui dunia internasional yaitu Bahasa Indonesia, maka kita sudah sepantasnya membaca alkitab dalam bahasa Indonesia. Jika tidak, berarti Indonesia memiliki bahasa yang kacau balau dan tidak layak menjadi bahasa yang diakui oleh dunia karena kurangnya kosakata dan banyaknya ketidak akuratan jika menyadur, menterjemahkan bahasa lain kedalam bahasa Indonesia.
Ada apa sebenarnya dengan bahasa Indonesia? Siapa yang sebenarnya tidak akurat atau siapa yang tidak pantas?
Bahasa nya kah, atau orang yang menterjemahkannya, atau orang yang menafsirkannya, sehingga tercipta banyak sekali berbagai alternatif kerancuan yang terjadi.
Sebuah pemikiran yang terlintas.dalam kasus yang terjadi ini.
Bahasa asli dari nas asli alkitab adalah misal saja kita sebut bahasa ibrani. Lalu didalam nas itu ada sebuah kata misalkan "Anee ohev otakh", Lalu kita menterjemahkannya dalam bahasa Indonesia dengan “Aku mengasihimu” lalu dalam bahasa Ingrrisnya “I Love You”
Apakah ketiganya memiliki arti yang sama persis? Saya akan membahas hanya dalam bahasa Indonesia-nya saja. Dalam bahasa Indonesia, cinta dan kasih itu berbeda. Walau hampir sama. Atau dapat dikatakan serupa tapi tak sama. Lalu ketika orang Indonesia membaca alkitab terbitan LAI, apakah jadi bergeser maknanya?
Mencintai dan mengasihi, CINTA dan KASIH.
Menurut KBBI :
CINTA
cin·ta a 1 suka sekali; sayang benar: orang tuaku cukup – kpd kami semua; -- kpd sesama makhluk; 2 kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan): sebenarnya dia tidak -- kpd lelaki itu, tetapi hanya menginginkan hartanya; 3 ingin sekali; berharap sekali; rindu: makin ditindas makin terasa betapa -- nya akan kemerdekaan; 4 kl susah hati (khawatir); risau: tiada terperikan lagi -- nya ditinggalkan ayahnya itu;
-- bebas hubungan antara pria dan wanita berdasarkan kemesraan, tanpa ikatan berdasarkan adat atau hukum yg berlaku; -- monyet (rasa) kasih antara laki-laki dan perempuan ketika masih kanak-kanak (mudah berubah);
ber·cin·ta v menaruh (rasa) cinta: yg muda yg ~;
ber·cin·ta-cin·ta·an v bersuka-sukaan; berpacar-pacaran;
ber·cin·ta·kan v 1 kasih sayang kpd; berahi kpd: krn banyaknya lelaki yg ~ dia, dia menjadi sombong; 2 berharap-harap (ingin) akan; merindukan: dia sakit krn ~ anaknya yg sedang merantau; 3 kl bersedih hati (akan); berduka cita (akan);
men·cin·ta v 1 kasih (kpd); 2 kl bersedih hati; selalu mengingat (akan); menyesal;
men·cin·tai v menaruh kasih sayang kpd; menyukai: dia sangat ~ adikku; aku ~ negeriku dan menghormatinya;
men·cin·ta·kan v merindukan; menginginkan; mengharap-harapkan;
ter·cin·ta v sangat dicintai (dikasihi, disayangi): kau paksa aku berpisah dng anakku yg ~;
per·cin·ta·an n 1 perihal berkasih-kasihan antara laki-laki dan perempuan: ~ mereka tidak direstui oleh orang tua masing-masing; 2 kl perasaan sedih (susah, menyesal); kesusahan;
pen·cin·ta n orang yg sangat suka akan: kelompok ~ alam akan memulai pendakian hari Selasa minggu depan;
ke·cin·ta·an 1 n yg dicintai; kekasih: ia merupakan ~ keluarganya; 2 n kerinduan; 3 n perihal cinta kasih; 4 kl n kesedihan; kekhawatiran; 5 kl v menanggung cinta (sedih)
KASIH
1ka·sih n perasaan sayang (cinta, suka kpd): pria itu menaruh -- kpd gadis tetangganya;
-- bersabung dl hati, ki menanggung rindu (cinta berahi);
-- mesra perasaan sangat kasih; perasaan kasih yg berlebihan: istrinya dibelainya dng penuh -- mesra; -- sayang 1 cinta kasih; 2 belas kasihan;
ber·ka·sih v mempunyai rasa kasih (sayang, cinta);
ber·ka·sih-ka·sih·an v saling mengasihi; saling mencintai; saling menyayangi: kedua mempelai itu ~;
me·nga·sihi v menaruh kasih kpd; mencintai; menyayangi: seorang ibu yg baik lebih ~ anaknya dp dirinya sendiri;
pe·ka·sih n guna-guna untuk membangkitkan rasa cinta kasih: wanita itu tergila-gila kpd pria itu krn sudah terkena ~;
pe·nga·sih n orang yg mengasihi, yg suka menaruh belas kasihan; pemurah hati: Tuhan Maha ~ lagi Penyayang;
pe·nga·sih·an n proses, cara, perbuatan mengasihi;
ke·ka·sih n (orang) yg dicintai; buah hati: orang tempat mencurahkan isi hatinya hanyalah ~ nya
2ka·sih v cak beri, memberi: siapa yg -- kue ini?;
me·nga·sih v memberi: ia datang ~ buah sirsak yg baru dipetiknya;
pe·nga·sih n 1 yg memberi; 2 pemberian; hadiah: baju yg dipakai Ibu adalah ~ kakakku
Walaupun jika diperhatikan dengan benar, penggunaan kata kasih tak bisa terlepas dengan penggunaan kata cinta( kasih dalam pengertian pertama)
Namun tetap terasa bahwa kasih itu lebih dalam dari cinta, dan kasih itu lebih dahsyat dari cinta, serta lebih terlihat sempurna melebihi kata cinta.
Bergeserkah maknanya? Dalam penjelasan diatas, menurut pendapat saya tidak akan jauh berbeda maknanya, walau tidak bisa dipungkiri memang ada perbedaan. Tapi menurut saya pribadi, maknanya tak bergeser melenceng sehingga memberikan pengertian yang jauh menyimpang.
Lalu bagaimana dengan kata kata dan kalimat lainnya yang masih sangat banyak? Yang ahli lah yang bisa memberikan tanggapannya secara akurat.Apakah LAI sudah bertindak maksimal sehingga menterjemahkannya dengan maksimal sesuai dengan perbendaharaan kosa kata yang kita miliki sebagai bangsa Indonesia yang berbahasa Indonesia, atau tidak.
Itu dalam hal tata bahasa. Bagaimana jika dalam menterjemahkan menggunakan sedikit tafsiran? Itu lah yang akan menjadi persoalan besar. Untuk itulah bahasa asli dari nas perlu kita ketahui. Namun sanggupkah jemaat yang seperti saya katakan dalam tulisan diatas, tidak semuanya yang bisa dan mempunyai waktu untuk itu.
Atau apakah akan menjadi suatu keadaan seperti seseorang yang terus berbuat dosa saat sudah mengetahui apa itu dosa? Dan disebutkan dalam alkitab tidak ada yang bisa untuk menghapus dosa yang dilakukannya itu?
Jika jemaat memang membaca hanya alkitab LAI dan tidak mengerti seperti yang sedang kita bahas ini, apakah pada akhirnya Allah akan menjadikannya sebagai orang benar yang membaca firman yang benar karena keterbatasan yang dimilikinya?
Atau akan menjadi berdosakah jika kita memang diberi kemampuan untuk mencari tahu namun tidak mau tahu, atau pura pura tidak tahu dan terus membaca yang sudah ada karena memang tidak mau untuk membuang waktu mencari dalam perjalanan yang panjang demi mengetahui dan memahami dengan membaca firman Allah?
HANYA ALLAH YANG TAHU.
Disatu sisi saya mengatakan bahwa tidak semua orang mengerti dan berpengetahuan luas, juga sedikit yang mengetahui bahasa asing, teknologi dan lainnya untuk bisa mengerti akan isi alkitab agar tidak bergeser dari makna nas yang sebenarnya.
Tapi disisi yang lain saya juga mengungkapkan bahwa pencari kebenaran kebenaran itu pun perlu didukung dengan dukungan baik dukungan moril, materiil, juga dukungan pemikiran.
Untuk apa semuanya itu?
Untuk terciptanya kebenaran sejati yang bisa dirasakan oleh semua umat kristiani. Bukan hanya sebagian umat saja. Tapi seluruh umat. Biarlah semua pihak yang membaca bisa membaca menurut porsinya masing masing. Bisa berpendapat menurut pemikiran dan pendapatnya masing masing, dan bila memang semuanya itu demi kebenaran sejati, maka tentunya akan banyak yang mendukung dan bisa juga sebaliknya yaitu tidak mendukung jika itu bukan kebenaran sejati melainkan hanya hikmat manusia saja.
Silahkan anda memikirkannya. Alkitab mana yang harus kita baca? Terjemahan mana yang harus kita percayai? Terjemahan siapa yang harus kita imani?
Bagi saya semuanya tidak menjamin keselamatan jika membaca dengan benar, memahami dengan benar, mengetahui sumber yang benar, namun tidak mengamalkannya dengan benar.
Jika demikian, untuk apa semua firman itu? Tidak berguna.
Mungkin yang terpenting adalah keinginan dan kerinduan untuk mengamalkan apa yang difirmankan serta merealisasikannya, bukan hanya membaca, memahami, tanpa sekalipun mengamalkannya.
Apakah semua itu cukup?
Ternyata belum.
Sebuah pertanyaan bisa menjadikan sebuah kepastian menjadi keraguan, jika pertanyaan nya adalah :
Bagaimana kita mau mengamalkan semua firman Allah itu dengan benar dan sesuai dengan keinginan Allah, jika apa yang kita baca ternyata adalah salah dan bukan keinginan dan juga bukan maksud dari ALLAH?
Siapakah yang akhirnya salah?
Pembaca?
Jemaat yang membaca?
Penterjemah?
Penafsir?
Orang yang tahu namun tidak mempublikasikan dan mendedikasikannya dimuka umum?
Atau siapa?
Apa yang harus kita lakukan?
Mungkin kita pribadi demi pribadi yang bisa menjawabnya,
Atau suatu perombakan besar besaran akan terjadi buat kita?
Atau kita berpasrah diri saja dan mengikuti yang sudah ada dan menjadi orang pasif?
Atau haruskah kita menjadi orang aktif demi kebenaran sejati?
Tak ada jawaban yang pasti. Siapa akan menunjuk siapa, dan siapa akan menyalahkan siapa, siapa akan merasa benar dan siapa akan merasa disalahkan. Siapa yang merasa menjadi korban, siapa yang merasa menjadi orang yang mengorbankan orang lain.
Dapatkah didapat suatu keputusan bulat, dari semuanya ini?
Semua orang merasa dirinya benar, semua golongan mempertahankan kelompoknya. Jika demikian, siapa yang salah?
Mungkin disatu pihak akan mengatakan aku benar dan kamu salah, kamu tersesat dan akhirnya menyesatkan orang lain,
Dan dilain pihak akan berkata, kamu yang salah, dan tersesat, sehingga tanpa kamu sadar kamu menutupi kesalahan dan akhirnya menyesatkan. Dan bukan kebenaran yang kamu dapatkan, namun kesesatan atas hikmatmu sendiri.
Kita yang tidak tahu, akan selamanya menjadi tidak tahu
Kita yang tidak tahu, bisa menjadi tahu dan akhirnya tahu
Kita yang tahu, kemudian membuat orang lain menjadi tidak mengatahui lagi
Kita yang tahu akhirnya menjadi tahu karena orang lain tidak tahu.
Kita yang sudah memilki tahu itu akan menjadi seperti tidak mengetahui apa apa jika orang lain pada akhirnya tetap tidak tahu dengan apa yang kita tahu.
Smile
10 Januari 2011
Lanjutan dari blog :
Keraguan Akan Makna Dalam Alkitab