Submitted by Vantillian on

Doktrin kemaha-tahuan Allah merupakan doktrin MUTLAK yang dipegang oleh hampir seluruh orang percaya dan para teolog. Allah itu Maha Tahu, Maha Kuasa, Maha Ada dan segala Maha lainnya. Siapakah yang berani membantah bahwa Allah mengetahui segala sesuatu? Bahkan sebelum kejadian di dunia terjadi, Allah sudah mengetahuinya dan menetapkan bahwa RancanganNya akan terjadi di dalam setiap sejarah dunia ini.

TUHAN mengetahui hari-hari orang yang saleh, dan milik pusaka mereka akan tetap selama-lamanya; ( Mazmur 37:18)

Tuhan, Engkau mengetahui segala keinginanku, dan keluhku pun tidak tersembunyi bagi-Mu; ( Mazmur 38:10)

TUHAN mengetahui rancangan-rancangan manusia; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka. ( Mazmur 94:11 )

Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. ( Mazmur 139 :2 )

Tetapi di bagian ayat Alkitab lain, terdapat pernyataan yang mencengangkan dari Yesus bahwa Anak tidak tahu kapan harinya tiba, hanya Bapa di surga yang tahu.

Markus  13:32 Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja."

Seorang teman sempat bertanya kepada saya mengenai bahwa Anak ( Yesus) ketika di dalam dunia mengakui tidak mengetahui kapan tiba harinya. Apakah Yesus memang berpura-pura tidak tahu? Atau Yesus ketika sebagai manusia tidak tahu, namun sebagai Allah, Dia tahu? Bukankah itu ada keterpisahan pribadi Yesus? Yesus jelas menyatakan hanya Bapa yang tahu, apakah Roh Kudus tahu? Bukankah Allah Tritunggal pasti tahu apa yang akan dikerjakan oleh setiap pribadi masing-masing? Inilah misteri pengetahuan Allah. Ketika kita menyatakan bahwa Allah itu Tahu sekaligus tidak tahu, kita akan menghadapi dilema dialektika yang tidak selesai-selesai.

Dari pembahasan blog Hai-hai, terdapat juga ayat Alkitab yang menyatakan bahwa Hanya salah satu dari Allah Tritunggal yang mengetahui baik dan jahat. Apakah dengan demikian, kedua pribadi Allah yang lain tidak tahu hal yang jahat? Kalau Bapa, Anak, Roh Kudus tahu hal yang jahat, kapan tahunya? Apakah sebelum menciptakan manusia Allah Tritunggal sangat polos dan lugu sehingga tidak mengetahui adanya hal yang jahat?

Berfirmanlah TUHAN Allah: "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya." ( Kej 3:22 )



Suatu Pandangan Perspektivalisme

Istilah Perspektivalisme digunakan oleh teolog John Frame dalam usahanya mencoba menghubungkan antara pengetahuan Allah dan pengetahuan manusia. Dalam suatu artikel A Primer on perspectivalism, John Frame mendefinisikan perspektivalisme sebagai [ as a general concept, and as a more specific method. The general concept is simply that because we are not God, because we are finite, not infinite, we cannot know everything at a glance, and therefore our knowledge is limited to one perspective or another.]

Perspektivalisme ( atau kadang disebut multi-perspektif ) sering disalah mengerti akan mengarah kepada paham relativisme. Setiap kebenaran akan benar menurut sudut pandang tersendiri, atau menurut perspektif masing-masing. Menurut Frame tidak begitu. Pandangan ini berarti bahwa kebenaran harus dimengerti dari presaposisi absolute yang mempunyai perspektif tersendiri. Setiap perspektif mempunyai keterkaitan dalam suatu sistem tertutup. Sistem ini harus konsisten dan koheren dengan kebenaran itu sendiri. Pengetahuan manusia itu terbatas dan dicipta. Karena itu kebenaran pengetahuan manusia TIDAK MENCAKUP KESELURUHAN kebenaran pengetahuan Allah, TETAPI kebenaran pengetahuan manusia dapat SAMA seperti kebenaran pengetahuan yang Allah nyatakan kepada manusia, seperti kebenaran 2+2=4. Salah mengerti konsep ini, kita akan terjatuh dalam relativisme dan nihilisme. Karena pengetahuan kita tergantung sepenuhnya kepada penyataan (wahyu) dari Allah. Kebenaran Allah ( baik di alam, sejarah, ilmu ) dapat diketahui secara jelas oleh manusia.

Perspektivalisme BUKAN berarti bahwa kita harus memandang segala validitas pengetahuan dari sudut pandang Allah, karena kita tidak akan pernah menjadi Allah. Ini hanya berarti bahwa pengetahuan kita harus diuji dan divalidasi dari standar kebenaran Allah. Ini berarti bahwa pengetahuan Allah adalah INDEPENDENT. Sedangkan pengetahuan kita adalah INTERDEPENDENT. Dalam arti bahwa kita selalu menguji pemahaman kita berdasarkan perspektif yang MENSYARATKAN suatu standar kebenaran yang ABSOLUT. Ketika saya menyatakan pendapat saya absolute, tentu saya harus mempresaposisikan suatu kebenaran yang absolute. Tetapi karena pengetahuan saya terbatas, maka perspektif kebenaran yang saya pahami harus terus diuji dalam lingkaran kebenaran yang tidak terbatas. Munculnya berbagai macam tafsiran dan pemahaman terhadap ayat Alkitab menunjukkan bahwa pandangan setiap orang percaya mensyaratkan suatu multi-perspektif tertentu.

Pandangan multi-perspektif dalam Alkitab dapat kita lihat dari doktrin Tritunggal. Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah Tiga pribadi dalam Satu Esensi/Pribadi. Apakah mereka berbagi pengetahuan yang sama? Seandainya Anak Tidak Tahu kapan harinya tiba, apakah pengetahuan Anak kurang sempurna dibanding pengetahuan Bapa dan Roh Kudus? Apakah ketika mengosongkan diriNya, Anak juga mengosongkan sedikit pengetahuan kekalNya? Pemisahan yang terlalu tajam akan membuat Allah Tritunggal menjadi Triteisme, sedangkan ketika menerapkan sudut pandang/perspektif yang berbeda terhadap Allah tritunggal, kita dapat tergoda dan terjatuh dalam Sabelisme. Allah Tritunggal BUKAN Allah dengan Satu Allah dan banyak peran atau Satu Allah dan banyak sudut pandang. Tetapi Satu Allah dan Tiga Allah. Ketika dibandingkan dengan pengetahuan kita untuk memahami ini, kita HANYA dapat memahami berdasarkan pandangan perspektif yang dinyatakan Allah kepada kita. Apakah kebenaran memiliki banyak perspektif atau hanya satu perspektif? Kita kembali menghadapi dilema permasalahan satu-banyak.


Meskipun demikian, Bapa tidak bisa dipandang terpisah secara perspektif dari Anak dan Roh Kudus demikian juga sebaliknya. Ini bukan masalah sudut pandang. Tetapi masalah apakah Ketiga mencakup yang Satu dan yang Satu mencakup ketigaNya. Ini masalah Satu-Banyak. Ketika Satu berprespektifkan Tiga ( atau sebaliknya ) maka bagi kebenaran kita ( khususnya matematika) itu adalah salah. Bagaimana mungkin kita menyatakan Satu sekaligus Tiga? Bukankah itu menyalahi aturan penjumlahan? John Frame menyatakan : But if the three persons are not mere perspectives on the Godhead, they nevertheless are perspectives. They are more than perspectives, but not less. Allah tritunggal bukan HANYA sekedar masalah perspektif. Allah Tritunggal adalah perspektif itu sendiri. Atau perspektif Allah adalah Standar perspektif Allah sendiri. Kalau Allah itu Tritunggal, menurut kita, apakah perspektif kebenaran kita itu SATU atau BANYAK? Satu atau Tiga ( banyak)?

Allah Maha Tahu dan Allah yang Tidak Tahu berdasarkan pandangan perspektivalisme

Allah mengetahui segala sesuatu. Allah mengetahui bahkan ketika kita akan melakukan pekerjaan sehari-hari yang remeh seperti duduk, berjalan, berdiri. Manusia tidak maha tahu. Karena itu, manusia dapat membual dan berdusta bahwa dia tahu. Allah tahu segala sesuatu, karena itu Allah tidak mungkin membual dan berdusta bahwa Dia Tahu padahal Dia tidak tahu atau sebaliknya Allah mengaku tahu padahal Dia tidak tahu. Karena ketika menyatakan Allah tidak tahu, maka itu akan melanggar prinsip kemaha-tahuan Allah. Prinsip ini berlaku di dalam perspektif Pencipta-ciptaan. Ketika di dalam perspektif antara Pribadi Tritunggal sendiri, maka sifat Ke-Maha-an akan menjadi absurd. Satu Pribadi tidak mungkin Maha terhadap pribadi yang lain. Karena itu, sifat Maha hanya bisa dimengerti dari perspektif Pencipta-ciptaan. Suatu relasi analogi antara pengetahuan Allah dan pengetahuan manusia. Apa yang manusia ketahui berasal dari turunan pengetahuan Allah. Apa yang dinyatakan oleh Allah adalah apa yang dapat diketahui oleh manusia. Terdapat suatu bentuk inkomprehensibilitas antara pengetahuan Allah dan manusia. Manusia tidak mampu memahami secara sempurna suatu objek sama seperti pengetahuan dari Allah. Tetapi kebenaran penyataan adalah mutlak bisa dipahami oleh pengetahuan manusia. Manusia mengetahui sejauh yang dinyatakan oleh Allah. Bapa hanya bisa dimengerti dari Anak. Roh kudus hanya bisa dimengerti dari Anak. Karena Anak adalah penyataan Pribadi Allah yang Esa untuk dikenal oleh manusia.

Berfirmanlah TUHAN Allah: Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya." ( Kej 3:22 )

Manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita. Salah satu berarti hanya satu. Hanya Satu yang mengetahui tentang yang baik dan yang jahat. Apakah itu berarti Dua Allah Tritunggal yang lain tidak tahu hal yang baik dan yang jahat? Terjemahan BIS menghilangkan kata “salah satu dari” sehingga menjadi :

TUHAN Allah berkata, "Sekarang manusia telah menjadi seperti Kita dan mempunyai pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Jadi perlu dicegah dia makan buah pohon yang memberi hidup, supaya dia jangan hidup untuk selama-lamanya."

And the LORD God said, Behold, the man is become as one of us, to know good and evil: and now, lest he put forth his hand, and take also of the tree of life, and eat, and live for ever: (KJV)

And the LORD God said, “The man has now become like one of us, knowing good and evil. He must not be allowed to reach out his hand and take also from the tree of life and eat, and live forever.” (NIV)

Keesaan Allah tentu mengisyaratkan bahwa Allah TAHU tentang segala hal termasuk hal yang baik dan yang jahat. Tetapi di dalam perspektif PRIBADI Tritunggal, maka pada saat membentuk manusia, hanya Satu Pribadi yang tahu hal yang jahat. Keesaan Allah TIDAK MEMUNGKINKAN adanya hal yang jahat BERADA di antara ketiga Pribadi tersebut. Hanya satu Pribadi yang mengetahui hal yang jahat. Dan itu hanya terjadi di dalam perspektif relasi dengan ciptaan. Pencipta mengetahui ada hal yang jahat di dalam ciptaanNya. Hal yang jahat dan yang baik merupakan ketetapan dari Allah Pencipta. Ketetapan ini meliputi perwakilan dari Allah Tritunggal kepada Allah Anak, dimana Allah Anak merupakan Salah Satu Pribadi yang mengetahui hal yang baik dan yang jahat. Apakah Bapa Tahu baik dan jahat? Apakah Roh Kudus tahu? Tahu, tapi tahunya karena adanya relasi antara Pribadi dan hubungan dengan ciptaan. Keberadaan hal yang jahat tidak ada di antara ketiga Pribadi, karena Allah tidak dapat menyangkal diriNya sendiri. Allah tidak mungkin melanggar FirmanNya sendiri. Allah tidak mungkin melanggar Allah sendiri. Allah tidak mungkin menghendaki hal yang jahat terhadap diriNya sendiri. Allah tidak mungkin tahu hal yang jahat di dalam DiriNya sendiri. Karena itu, hal yang baik dan jahat hanya dapat dimengerti dan dijabarkan dari hubungan antara Allah yang menyatakan Diri dengan ciptaanNya.

Ralph Allan Smith ketika membahas pemahaman perspektif teologi John Frame menyatakan bahwa At the same time, Father, Son and Spirit have different perspectives on the things they share. Father, Son and Spirit all know the cross and they all know it in multiple ways.

Allah Tritunggal mengetahui semua hal bersamaan, tetapi setiap pribadi membagi pengetahuan berdasarkan perspektif kekal yang berbeda. Anak tidak tahu kapan harinya akan tiba, hanya Bapa yang tahu. Hanya salah satu dari Kita ( Allah Tritunggal) yang mengetahui hal yang baik dan yang jahat. Apakah menyatakan hal begini berarti menghujat Allah Tritunggal? Apakah menyatakan hal tersebut berarti kita sudah disesatkan? Ha..Ha..Ha..Menyadari hal ini kita hanya akan dibawa ke dalam satu pengakuan seperti yang dituliskan oleh Ralph Allan Smith : We are simply confronting the mystery of the Trinity, the incomprehensibility of the one and the many, in another realm. We are back to the place that we can only confess and adore.