Blog ini sebagai blog lanjutan dari blog sebelumnya yang berjudul "Pentingnya Belajar Teologi". Kali ini saya akan menulis tentang berdiskusi tentang teologi tetapi disertai oleh pengertian yang sehat dan benar serta dengan konsep ADIL dan KASIH.
Or simply I can say with this:
<BERTEOLOGI DISERTAI DENGAN PENGERTIAN YANG BENAR>
Saya sering mengatakan kepada teman-teman saya agar kita terlebih dahulu banyak belajar sebelum mengajar orang lain, supaya tidak menyesatkan. Banyak mendengar dulu sebelum berbuat. Jangan banyak bicara dulu kalau tidak mengerti. Jangan mengajar orang lain dulu, apalagi dengan suara keras dan lantang berkoar-koar di mimbar seperti banyak pendeta jaman sekarang yang terlalu berani berkhotbah, kalau tidak berani mempertanggungjawabkan ajaran. Saya sangat mengkritik dan tidak menghargai mereka yang mengajar dengan sembarangan, tahu sedikit sudah berani berkhotbah. Bagi saya itu adalah kesombongan, bukan rendah hati. Saya akui, saya adalah orang yang keras. Saya bukan tipe orang yang mudah berkompromi. Jikalau “iya” katakan IYA, jikalau “tidak” katakan TIDAK.
Di tengah-tangah kesibukan saya sebagai seorang mahasiswa, saya masih menyempatkan diri melayani Tuhan di gereja dan persekutuan di daerah saya. Dan saya selalu mengatakan hal dan prinsip ini. Selain itu, saya juga menggunakan waktu-waktu luang saya bergabung di weblog-weblog rohani seperti sabdapsace ini untuk menulis dan berbagi. Saya merasa banyak manfaat yang saya rasakan ketika bergabung di weblog ini. SABDAspace disebut “Pasar klewer”, entah siapa yang pertama kali memberi nama itu <karena pasar klewer ada di Solo>. Karena di “sini” kita bisa “jualan, belanja dan saling tawar menawar”. Melalui semuanya itu saya juga menemukan berbagai karakter dalam berdiskusi, mulai dari yang biasa, santai, keras, tegas, gamblang, ngotot / kekeh jumekeh / keras kepala, “sembarangan” (blogger asing) sampai yang paling pintar. Pokoknya luar biasa!!!
Selanjutnya, dalam hal-hal rohani dan teologi saya hanya menganggap diri saya sebagai orang yang terus ingin belajar dan membutuhkan pertolongan Tuhan setiap saat. Karena tanpa Dia apa yang saya bisa tulis dan paparkan tidak ada artinya. Di SABDAspace ada seorang blogger yang bertanya kepada saya tentang berapa kali saya sudah membaca Alkitab tuntas dari Kejadian sampai Wahyu, mohon maaf saya pikir di “sini” saya tidak perlu menyampaikan berapa kali saya sudah membacanya, mungkin yang bertanya lebih banyak dari saya. Biarlah saya dan Tuhan saja yang mengetahuinya, itu tidak terlalu penting. Banyak atau sedikitnya seseorang membaca Alkitab tidak menjamin seseorang itu hebat atau qualified jikalau itu tidak didukung dengan KEGIATAN atau PEMAHAMAN YANG BENAR / SEJATI. Di Roma 10:2 menunjukkan tentang orang-orang yang giat belajar dan melayani, namun tanpa didukung oleh kegiatan dan pengertian yang benar. Mereka adalah orang yang paling kasian. Saya sering temui ini pada teman-teman di sekitar saya yang mengaku diri Kristen, sudah baca Alkitab berkali-kali, tetapi saya melihat kegiatan mereka tidak diimbangi oleh pengertian yang benar. Teologi mereka tidak disertai dengan pengertian yang benar. What a pity they are. Di Roma 10:2 itu yang lengkapnya berbunyi demikian,”Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar”. Rasul Paulus melihat orang-orang Israelyang giat, menggebu-gebu, berapi-api, sungguh-sungguh panas, mereka rajin, mereka menuntut. Tetapi celaka, kalimat kedua berkata, mereka tidak menurut pengertian yang sejati. Betul apa yang dikatakan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong di salah satu khotbahnya (yang kemudian ditranskrip menjadi sebuah artikel) beliau mengatakan apa artinya beragama dengan berapi-api, tetapi tidak memiliki teologi yang benar? Beragama dengan sungguh-sungguh giat, tetapi tidak ada pengertian yang benar. Mereka meskipun baca Kitab tapi tidak mempunyai pengertian Kitab yang betul-betul BETUL, hanya menggebu-gebu saja. Bukankah di dalam zaman ini kita melihat banyak orang Kristen seperti ini? Mengikuti semua persekutuan, kalau berdoa, sampai kursi mejanya dipukul-pukul olehnya. Berdoa mati-matian, menggebu-gebu, berapi-api, tetapi kalau mendengarkan doanya, tidak terdapat pengertian yang benar. Inilah yang dimaksudkan di sini: They are zealous, but their zeal is not based on true knowledge; mereka begitu berapi-api, begitu menggebu-gebu, bahkan begitu giat dan begitu ekstrim, tetapi tidak mempunyai pengertian yang sesungguhnya. Namun pertanyaannya harus dibalikkan lagi, banyak orang mempunyai pengertian yang sungguh-sungguh, mempunyai teologi yang benar, tapi berada di dalam lemari es. Inilah dua macam kecelakaan Kekristenan yang disebutkan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong, yaitu ada orang Kristen yang memiliki teologi yang benar, memiliki doktrin Reformed, tetapi kalau dijamah, 40 derajat di bawah nol. Ada orang Kristen yang pintar, yang teologinya bagus, hebat dalam pengetahuan Alkitab, tetapi nol, dingin seperti es. “Manusia Es” yang berjalan jalan. Kalau ke gereja, matanya melihat ke sinisana, ditanya apa saja, jawabannya benar tetapi tidak hangat, tidak ada persahabatan, tidak ada kasih, tidak ada api yang sungguh-sungguh, tidak ada cahaya yang sungguh-sungguh. Sebaliknya, ada orang yang apinya sungguh-sungguh, tetapi pengertiannya salah, teologinyangawur alias tidak benar (fenomena ini juga terjadi di tempat dimana saya sering berdiskusi. Ada orang-orang yang ngotot dan kekeh jumekeh dengan pengertian mereka), Alkitab diselewengkan. Kedua macam orang itu tidak beres adanya, tidak memuaskan hati Tuhan. Itulah sebabnya kita perlu menegakkan satu semangat, di mana teologi ditegakkan dan api Roh Kudus tetap berada di dalamnya <semangat teologi reformed injili>. Saya sangat setuju dengan Pdt. Dr. Stephen Tong ketika beliau memaksudkan kedua hal ini, namun sayangnya banyak orang yang salah tanggap dan apriori dengan ajaran beliau <reformed>, bahkan ada yang tega memfitnahnya dengan membabi buta, (tulisan komentar orang-orang tentang beliau bisa diakses dengan cepat di salah satu blognya Pak Hai Hai di SABDAspace ini yang berjudul <Pdt. Stephen Tong Sang Hamba Allah> dimana di sana Pak Hai Hai meng-link-nya), mungkin kalau beliau sudah tidak ada lagi di dunia ini orang baru sadar dan kembali kepada Tuhan, orang baru mulai melihat ini penting. Ya, memang inilah yang seharusnya ada dalam Kekristenan. Pemahaman Alkitab yang benar dan teologi yang orthodoks dan penjelasan yang setia dan ditaruh dalam semangat pelayanan yang berapi-api. Mengapa gereja-gereja yang ajarannya kurang beres begitu berkembang dan begitu banyak orang yang hadir? Karena manusia bukan hanya memerlukan doktrin yang benar tetapi juga memerlukan kehangatan. Mengapa gereja-gereja tua, yang mempunyai teologi dan sejarah yang begitu kuat, justru makin lama makin kosong? Karena gereja yang begitu tua, yang begitu megah, yang mempunyai tradisi yang begitu panjang itu tidak ada api, tidak ada kesungguhan, tidak ada friendship, tidak ada keramahan, tidak ada cinta kasih, tidak ada persaudaraan, tetapi yang ada hanyalah kebanggaan, ini adalah gereja besar, kami sudah berdiri sekian ratus tahun. Tetapi gereja-gereja itu sudah mau mati karena tidak pernah membangun ibadah, tidak pernah membangun semangat penginjilan. Jadi, selain Reformed juga harus Injili.
Fenomena dua arus ekstrim ini terjadi di gereja-gereja di tempat saya tinggal (Kalimantan), tentunya tidak menutup kemungkinan di daerah-daerah lain. Kita sudah melihat dua macam gereja: yang dingin tetapi rapi, yang panastetapi gila. Sekali lagi saya tidak menentang orang yang banyak melayani di persekutuan ini, di persekutuan itu, di gereja ini dan di gereja itu. Saya juga tidak memandang rendah orang-orang yang banyak atau berkali-kali baca Alkitab tuntas. Itu bagus dan baik adanya. Kita memang harus selesai / tamat membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu? Kenapa? Itu untuk menunjukkan kita serius mempelajari dan menyelidiki kebenaran. Karena Alkitab adalah surat cinta Bapa Sorgawi yang diberikan kepada kita umat kekasih-Nya. Kita tidak boleh malas dalam mempelajari Alkitab. Jangan hanya suka pada bagian tertentu saja dari Alkitab, karena Alkitab seluruhnya adalah Firman Tuhan yang diilhamkan oleh Roh Kudus. Saya kagum dan salut dengan orang-orang yang sudah membaca Alkitab tuntas dari Kejadian sampai Wahyu. Dr. John Sung selama masa hidupnya sebelum beliau meninggal dunia, beliau sudah selesai membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu lebih dari 40 kali. Pdt. Dr. Stephen Tong, seorang hamba Tuhan dari GRII yang paling saya kagumi dan hormati di bawah kolong langit pada zaman ini, sudah baca Alkitab tuntas berpuluh-puluh kali <hati-hati jangan terpancing loe dengan kalimat gue ini>. Demikian juga tokoh-tokoh dan para teolog yang lain seperti Dr. John Calvin, Martin Luther, Prof. Louis berkhof, Dr. Martyn Lloyd Jones. Saya kagum pada mereka semua. Namun kekaguman saya pada mereka bukan dikarenakan banyaknya mereka baca Kitab Suci, tapi karena semangat, kekonsistenan, kegiatan yang dibarengi dengan pengertian yang benar, sehat dan mendalam, serta keunggulan pengajaran mereka yang mempengaruhi sejarah, sehingga banyak orang diberkati melalui karya-karya mereka. Saya mungkin tidak bisa dan tak akan pernah bisa “seperti” mereka, karena saya adalah diri saya sendiri, dan mereka adalah diri mereka sendiri yang dicipta Tuhan secara unik dengan kemungkinan dan kapasitas yang berbeda-beda. I like to be my self. I like to be who I am. Be yourself! Jadilah dirimu sendiri sebagaimana engkau ada. Taklukanlah diri kepada otoritas Allah dan isilah anugerah Tuhan yang diberikan-Nya di dalam diri kita masing-masing. Para tokoh-tokoh yang saya sebutkan di atas, mereka sudah membuktikan kepada dunia bahwa mereka memiliki keunggulan dan bisa untuk dijadikan teladan. Meskipun kesempurnaan bukan milik mereka sepenuhnya. So, kenapa kita tidak belajar dari mereka? <This is my point guys>.
Kenapa saya mau meladani perdebatan-perdebatan dan perbedaan pendapat atau perdebatan? Pertama, karena saya merasa diri saya kurang sehingga saya merasa perlu belajar, belajar dan belajar serta mau diajar. Kedua, karena banyaknya pendapat yang simpang siur, dan kekeh jumekeh. Ketiga, karena saya inginberbagi dan saling membangun iman. Selanjutnya, karena saya merasa perlu untuk menyampaikan kebenaran yang Tuhan anugerahkan kepada saya demi kemuliaan-Nya. Kalau saya masa bodoh atau acuh tak acuh berarti saya tidak menjalankan amanat yang diberikan Tuhan kepada saya untuk membawa orang-orang kepada pengertian yang benar, sebagaimana yang dituntut oleh Alkitab. Saya akui, terkadang saya merasa gemas namun juga kasian dengan mereka yang kekeh jumekeh dengan argumen-argumen mereka yang keliru itu. Karena itu selama masih ada nafas saya tidak mau tinggal diam atau berkompromi dengan pemahaman-pemahaman atau ajaran-ajaran yang menyimpang, yang tidak sungguh-sungguh kembali dan berdasar pada Alkitab, sebagai satu-satunya standar kebenaran yang mutlak dan tak terbantahkan. Bagi saya Alkitab itu buku yang luar biasa. Alkitab mampu dan cukup untuk menjawab segala kemelut hidup dan permasalahan-permasalan lain yang terjadi di dunia ini. Samuel Johnsen, seorang pujangga Inggris, mengatakan bahwa satu-satunya buku yang disebut buku itu cuma satu yaitu Kitab Suci (Alkitab). Namun ucapannya ini keluar dari mulutnya ketika dia sudah di ambang kematian (sekarat), bahkan sebelum mati dia sempat memarahi orang-orang di sekitarnya ketika dia meminta mereka untuk mengambilkannya Alkitab. Orang tanya, “Buku apa sih, bukan kah anda sendiri punya banyak buku?” Dia menjawab dan berkata, “Stupid! The Only Book is the Bible” (“Goblok loe! Satu-satunya Buku itu cuma satu, yaitu Alkitab”). Dia sendiri adalah seorang pujangga yang menulis banyak buku, namun pada akhirnya ia juga harus mengakui bahwa yang disebut buku itu cuma satu, yaitu Kitab Suci (Alkitab). Buku-buku yang lain itu hanyalah coretan-coretan manusia yang tidak memberikan pengharapan. Perkataan itu benar. Alkitab adalah satu-satunya buku pengharapan umat manusia. Karena di dalam Alkitab terdapat Firman Tuhan yang sangat berkuasa yang mampu memberikan hidup dan pengharapan bagi setiap jiwa manusia. Berbahagialah mereka yang serius dan dengan ketat mempelajarinya.
Di dalam diskusi atau tulisan saya, saya berusaha agar saya bisa memberikan pengertian yang benar kepada orang-orang agar sungguh-sungguh belajar dan meneliti Alkitab dengan serius dan ketat. Meskipun saya akui saya juga terkadang bisa keliru. Saya juga tidak luput dari kesalahan. Saya bukan manusia super atau malaikat apalagi Tuhan. Sekali lagi saya hanya menganggap diri saya sebagai orang yang perlu diisi terus oleh kebenaran. Saya merasa perlu belajar, belajar dan belajar serta mau diajar (*KEEP ON LEARNING AND BE TEACHABLE ABOUT THE TRUTH*). Demikian juga dengan orang-orang yang sering berdebat termasuk di SABDAspace ini, khususnya bagi mereka yang kekeh jumekeh, saya mengharapkan agar apa yang kita sampaikan di sini sungguh-sungguh dipertanggungjawabkan baik di hadapan Allah dan manusia. Karena Firman Tuhan berkata, “Awasilah dirimu dan ajaranmu karena dengan demikian engkau akan meyelamatkan dirimu dan orang-orang yang mendengar ajaranmu” (Bdk. 1 Tim 4:16). Saya mengharapkan agar kita juga memegang satu prinsip dan motivasi berdiskusi yang sehat dalam konsep ADIL dan KASIH untuk bertumbuh dan saling membangun iman demi kemuliaan Tuhan, bukan untuk saling menjatuhkan, pamer argumen, atau semata-mata unjuk kebolehan. ITU SALAH. Jangan kita sambil berdebat sambil mencuri kemuliaan Tuhan. Tapi biarlah setiap kita pada akhirnya mengembalikan segala kemuliaan hanya kepada Tuhan Allah Tritunggal (Soli DEO Gloria). Janganlah berdiskusi sehingga membuat orang lain semakin kacau dengan argumen-argumen kita yang kelihatan akademis, tapi sebenarnya ngawur dan jauh dari kebenaran. Memang hal-hal negatif dan pengertian yang melenceng dari kebenaran yang sesungguhnya tak bisa kita selalu bendung dan halangi, itu pasti selalu ada dan menjadi khasanah di dunia ini. Tapi yang saya maksudkan adalah paling tidak kita awali dulu diri kita dengan memiliki motivasi mengasihi orang lain untuk saling membangun dan menguatkan iman orang lain <Not only to blame or critique>.
Dan yang paling penting adalah kita memiliki kegiatan dan pengertian yang benar serta sehat tentang Alkitab sehingga ketika berdiskusi, kita bukan menyampaikan semata-mata teori kita sendiri. Pada Akhirnya biarlah segala pemahaman kita itu sungguh-sungguh berdasar pada pengetahuan dan pengertian yang benar dari Alkitab, yang pada gilirannya itu semua demi kemuliaan Allah.
Semoga tulisan ini berguna bagi kita semua. Soli Deo Gloria (segala kemuliaan hanya bagi Tuhan). Amin!
By Desfortin di P. Raya.
(*LET'S KEEP ON LEARNING AND BE TEACHABLE ABOUT THE TRUTH*)