Submitted by anakpatirsa on

        Gara-gara bisul, aku masuk rumah sakit.

        Bisul yang muncul bersamaan dengan bergemuruhnya Gunung Merapi sebelum gempa Jogja. Aku ingat urutannya, aku kena bisul, Merapi mau meletus, Jogja terkena gempa, Merapi tidak jadi meletus, bisulku pecah, lalu Mbah Marijan jadi selebritis. Menurut seorang teman, Gunung Merapi tidak jadi meletus bukan karena Mbah Marijan, tetapi karena bisulku meletus duluan.

        Sekarang, setelah empat tahun, urutannya lebih sederhana, Merapi meletus, Mbah Marijan mati konyol, dan bisulku dioperasi.

***

        Kuperhatikan bisulku, tepatnya bekas bisul.

        Bulatan kecil kehitaman di puncaknya mirip kawah gunung berapi. Kawah itu sudah tertutup. Kupikir tidak salah membukanya kembali dengan jarum.

        "Kamu berani melubangi bekas bisul?" tanyaku. "Nanti kubeli jarumnya."

        Anak angkat adikku menoleh. Ia pandangi benjolan kecil di lipatan siku kiriku.

        "Nggak lah," katanya.

        "Ini tidak apa-apa," kataku, "hanya perlu ditusuk sedikit untuk mengeluarkan darah beku."

        Dulu aku pernah melakukannya. Ketika bisul ini pecah, aku sendiri yang mengeluarkan cairannya. Aku masih ingat saatnya, dua hari setelah gempa Jogja. Aku terbangun di tengah malam. Bisulku sudah pecah dan mengotori seprei. Turun dari tempat tidur, aku langsung ke ruang tamu. Duduk di depan televisi. Kutekan lereng bisul sehingga sisa cairan kental di dalamnya keluar.

        Sakit.

        Dan tidak semua cairan kotor kental itu bisa keluar. Aku harus berhenti. Tidak sanggup kutahan rasa sakitnya. Aku berharap, setelah beberapa hari, bisulnya makin masak sehingga cairan yang masih tertinggal bisa dikeluarkan tanpa menimbulkan rasa sakit. Harapan sia-sia. Bukan itu yang terjadi. Bisul yang terbuka kembali tertutup. Pernah sekali kutusuk dengan jarum. Terlalu sakit. Akhirnya kubiarkan saja. Setelah beberapa bulan, bekas bisul itu menjadi sebuah benjolan kecil yang makin mengeras. Di tengahnya ada bulatan kecil sebesar titik, bekas tusukan jarum.

        Sekarang, setelah empat tahun, benjolan ini benar-benar mengganggu. Memang tidak ada hubungannya dengan Gunung Merapi, tetapi meletusnya gunung itu membuatku memperhatikan bekas bisulku.

        Itu yang kuceritakan pada anak angkat adikku. Bisulku pernah pecah sendiri, lalu kupencet untuk mengeluarkan isinya. Sayang tidak semua bisa keluar. Dan sekarang aku ingin mengeluarkan sisa isinya yang sudah terkurung selama empat tahun itu.

        Keponakan angkat yang keras kepala. Ia menjawab, "Dulu di kampung kami, ada orang yang menusuk benjolan di belakang telinganya. Mati."

        "Tidak mungkin orang bisa menusuk benjolan di belakang telinganya sendiri," kataku. "Tidak bisa dilihat."

        Ia tetap tidak mau.

        "Bila memang benar ada yang mati, itu karena infeksi," aku menambahkan. "Karena jarumnya tidak steril. Orangnya yang begitu bodoh, tidak tahu suhu seratus derajat celcius mampu mencegah infeksi."

        Kepalanya terbuat dari batu. Aku menyerah.

        Tetangga sebelah punya warung kecil di depan rumahnya. Akulah langganannya yang paling setia. Bahkan ia sampai berbicara pada adikku, "Mengapa kakakmu tidak membeli kopi sekalian banyak-banyak saja." Ia pasti bosan karena setiap hari, kalau mau minum kopi, aku membeli satu sachet kopi plus gula di warungnya. Aku bisa memakluminya, sehari aku minum kopi tiga sampai empat kali. Dan kadang minum energy drink.

        Senang juga bisa ke warungnya bukan untuk membeli satu sachet kopi.

        "Ada jarum?"

        "Nggak ada!"

        "Peniti?"

         "Ada."

        Ia mengeluarkan seikat peniti.

        "Dua ribu," katanya cepat. Seolah-olah takut aku hanya mau membeli sebiji saja.

        Semua sudah siap. Air sudah mendidih. Air mendidih membunuh kuman. Kucari keponakan angkatku. Tidak ada. Aku tidak heran. Ia tadi langsung lenyap begitu melihatku masuk rumah membawa selusin peniti dalam berbagai ukuran.

        Kutekan bagian tengah benjolan dengan ujung peniti.

        Sakit.

        Kukuatkan hati. Kutekan lebih keras.

        Sakit.

        Aku benar-benar menguatkan hati.

        Bekas bisul itu pun mengeluarkan darah berwarna merah. Bukan itu yang kuharapkan. Peniti kutekan sedikit lebih keras. Sakit, namun aku mulai sedikit terbiasa. Ujung peniti sepertinya tertahan sesuatu. Tidak bisa masuk lebih dalam lagi.

        Aku harus menyerah.

        Saatnya pergi ke rumah sakit.

***

        Ia memeriksa tanganku.

        Tersenyum. Lebih tepat menahan senyum.

        "Harus segera dioperasi," katanya.

        "Berapa biayanya kalau operasi?"

        "Tiga ratus lima puluh enam ribu."

        Aku mengira biayanya hanya seratus ribu rupiah. Ia menangkap kekagetanku.

        "Biaya itu ada di tabelnya."

         Apa boleh buat, seperti kata orang, kesehatan memang mahal.

        Aku mengangguk.

        "Operasinya sekarang saja, ya?"

        Setuju. Aku tidak mau menunggu lebih lama. Kutanya letak toilet. Aku ingin ke toilet sebelum dioperasi.

        "Silahkan berbaring," katanya begitu kepalaku kembali muncul di pintu.

        Sebuah ruang operasi sederhana. Sebuah dipan menjadi meja operasi, satu kursi menjadi tempat duduk dokter. Sisanya, satu meja penuh alat operasi, satu lemari kecil yang isinya entah apa, dan sebuah kotak yang mungkin "kulkas" karena ada tombol on dan off di atasnya.

        Ia membuka sarung tangan sekali pakai.

        "Dari mana?" tanyanya.

        "Dari rumah," jawabku. Ingin membalas senyumnya yang penuh arti tadi.

        "Saya tahu. Asalnya?"

        Kujawab pertanyaannya.

        Ia menyelimuti tangan kiriku dengan kain yang berlubang di tengahnya.

        "Sabar ya," katanya sambil mengisi tabung suntik.

        Aku selalu bergidik melihat suntik. Kalau jarum biasa atau peniti, aku biasa saja. Mungkin karena waktu kecil, kami terbiasa menggunakannya untuk mengeluarkan potongan duri yang tertinggal di telapak tangan atau kaki.

        "Tahan sebentar, ya."

        "Ya."

        Ia menancapkan jarum suntik di bekas bisulku. Aku menutup mata.

        "Sakit?"

        "Sedikit."

        "Tapi tidak sesakit dijarumin sendiri, iya kan?"

        Aku tidak mau menjawab.

        Jarum suntiknya terasa menusuk di empat tempat berbeda.

        "Sudah. Sekarang mulai mengiris."

        Aku diam.

        Ia mengambil pisau.

        "Bilang kalau sakit."

        "Ya."

        Ia mulai mengiris.

        Aku menutup mata.

        "Sakit?"

        "Sedikit. Tidak apa-apa."

        "Jangan tidak apa-apa. Kalau sakit, disuntik lagi."

        Aku diam. Sebenarnya tidak sakit. Aku hanya bergidik membayangkan sepotong pisau mengiris bisulku tanpa rasa apa-apa.

        Ia kembali mengiris.

        Kupalingkan kepala sedikit. Hanya sebentar.

        "Tidak apa-apa, lihat saja," katanya.

        "Ngeri melihatnya."

        "Jangan ngeri. Biar nanti bisa mengoperasi sendiri."

        Aku mulai bertanya-tanya, apakah dalam kode etik kedokteran, ada pasal yang melarang dokter mengejek pasiennya.

        Sambil bekerja, ia mengajakku mengobrol. Bertanya, "Tadi ke sini sama siapa?"

        Ingin kuceritakan, orang yang seharusnya mengantarkanku tiba-tiba ditelan bumi.

        Aku mendapat kesempatan bertanya, "Bapak darimana?"

        "Dari sana," jawabnya.

        Ia tertawa sendiri. Lalu melanjutkan, "Saya dari Jogja. Lahir di Bantul, tetapi tinggal di Sleman."

        Kau pikir semua orang tahu Bantul dan Sleman? Tidak kukatakan KTP-ku masih Sleman. Aku tidak tahu banyak tentang Sleman. Selain itu, aku tidak mau membicarakan Merapi. Aku tidak melakukan apa-apa untuk menolong orang-orang di sana. Aku hanya menggeleng setiap kali kardus mie kosong disodorkan di pinggir jalan, karena kulihat orang menyodorkannya sambil menghembuskan asap rokok dari hidungnya.

        "Sudah lama Bapak di sini?"

        "Tidak terlalu lama," jawabnya. "Baru empat puluh tahun."

        Pantas bahasa ibuku ia gunakan dengan begitu lancar. Dan aku pikir, keahlian mengejek itu baru ia pelajari empat puluh tahun terakhir.

        "Selesai," katanya sambil meletakkan kapas di atas perutku.

        Sebuah bulatan berwarna keputihan ia taruh di atasnya. Masih bercampur darah sedikit.

        Ia menyuruh aku membawa pulang bulatan sebesar kelereng kecil itu.