Submitted by KEN on

Menurut pendapatku, mama itu dingin, keras kepala, tak pernah berusaha mengerti apa mauku dan apa yang aku pikirkan, cenderung memaksaku harus sama seperti dia, selalu ingin berdebat denganku dan selalu dia yang paling benar dan yang selalu ingin menang, materialistis, pilih kasih, selalu menyangkaku dan mematenkan aku orang yang paling buruk sifatnya di antara kedua saudara kandungku, selalu mengkambinghitamkan aku sebagai orang yang selalu bersalah dari semua orang, dan masih banyak lagi.

Semenjak perceraian papa dan mama, papa pergi tak tahu kemana, mama membawa kami semua ke rumah kakek (kakekku dari mama) dan tinggal di sana. Sementara mama harus pergi mencari nafkah kemana saja, keluar kota untuk menafkahi kami. Awalnya, kami dititipkan kepada kakek dan nenek, dijaga dan diasuh oleh mereka. Setelah kakek dan nenek meninggal dunia, kami lalu dititipkan kepada tante (kakak kandung dari mama) dan masih tetap di rumah yang sama yaitu rumah peninggalan kakek. 

Selama kami dititipkan kepada tante, terutama diriku, tak pernah merasa kebahagiaan hidup sama sekali, selalu merasa ketakutan karena sering dipukuli tante macam binatang dengan sebab dan kesalahan sekecil apapun, tak bebas berpendapat, tak diberi ruang untuk beralasan, asal salah, dihantam dengan rotan, ikat pinggang, dicakar bahkan kepalaku dibenturkan ke tembok. Saat itu serasa hidup segan mati tak mau, tak ada tempat untuk mengadu, mengadu ke mama percuma, hidupku benar-benar seperti di neraka. Satu-satunya jalan keluarku saat itu adalah menerima dengan tabah apa yang aku alami sambil berharap semoga masa-masa seperti itu cepat berlalu.

Apapun yang kuadukan kepada mama, seolah adalah kebohongan yang dibuat-buat, ia tak peduli sama sekali, aku seperti bukan anak kandungnya yang memang pantas dijadikan budak untuk disiksa dan dipaksa.

Masa penyiksaan itu akhirnya usai setelah genap sepuluh tahun, setelah aku mengalami kecelakaan, aku dibawa keluar, ke Bekasi, keadaan ekonomi mama sudah lumayan baik sepulang dari Jepang. Nampak gamblang, mama begitu sombong, karna hasilnya yang dibawa pulang, namun aku tak bisa berkata apa-apa, karena memang percuma. Sifat itu sudah dibawanya semenjak dengan papa dan sampai hari itu, tak berubah. Bahkan hingga aku ke Jepangpun, sifat itu tetap ia pertahankan yang mengakibatkan kehancuran hidupku dan masa depanku, ia seorang penipu dan pembohong, perongrong, materialistis.

Uangku yang kuhasilkan dari bekerja di Jepang, ia kuras dan ia habiskan seperti ketika ia masih dengan papa, dengan berjudi. Awalnya, ia "memaksaku" untuk menitipkan uangku kepadanya dengan alasan takut difoya-foyakan olehku, namun faktanya justru ia-lah yang mengurasnya dengan berjudi dan lain sebagainya. Namun, setelah peristiwa itu, tak sedikitpun ia mau mengakuinya, sebaliknya ia semakin mencari fakta dan alasan bohong untuk menyalahkanku di hadapan orang-orang, karena hal itu memang tak bisa dibuktikan dengan bukti sejati dan tak bisa dijelaskan dengan gamblang, ia membuatnya begitu kacau, sehingga membutakan orang lain. Ia menggunakan status "ibunya" untuk mengelabui orang-orang, sehingga seolah-olah saya adalah anak durhaka dan bersalah terhadapnya.

Kini, aku sudah kembali sedikit pulih dari kekacauan, sudah bekerja dengan baik dan berharap waktulah yang akan membuktikan keburukannya. Sebaliknya, oleh kejadian yang kualamilah, segalanya akan dan telah terpampang dan terkuak dengan gamblang, siapa ia sesungguhnya.

Kejadian dengan dua orang terdekatnya, namun ia berusaha menyembunyikannya dengan berbagai kebohongan yang berlipat-lipat ganda yang dibuatnya untuk mengelabui mata orang-orang. Semenjak perceraiannya dengan papa, mama tidak pernah menikah lagi dengan alasan sakit hati kepada papa, namun aku tak percaya.

Kini, mama sekarat dan melarat, hidup hanya berharap dari pemberian abang kandungku. Hidup tak tenang dan gundah gulana.