Submitted by henso on

Masalah utama yang sering muncul dalam masalah perpuluhan selain wajib tidaknya adalah masalah penggunaannya.

Kalu ditilik dari sejarahnya, perpuluhan itu diberikan oleh 11 suku kepada 1 suku.

Jadi setiap suku sekarang hanya mendapatkan 90% dari pendapatannya dan suku lewi mendapatkan 110% dari rata rata pendapatan suku lainnya.

Nah beda 20 % itu wajar saja karena memang suku lewi harus kasih perpuluhan juga, motong korban, dan ngurusin bait Allah.

Yang masalah adalah saat ini satu keluarga pendeta, menerima perpuluhan dari 100 keluarga. Ini yang bikin masalah. Karena jemaat masih thele thele, sementara pendetanya berfoya foya dalam kemewahan.

Usulku, kalo emang mau mewajibkan perpuluhan maka ada 2 kemungkinan pengelolaan :

1. Perpuluhan dikelola bendahara dan pendeta mendapat bagian secukupnya ( dalam bentuk gaji ) saja agar bisa hidup layak.

2. Kalo belum ada bendahara untuk mengelola perpuluhan, maka pendeta tahu diri untuk mengambil bagiannya saja dengan cara :

Jumlah total perpuluhan
-----------------------------  x 11 = penerimaan 1 keluarga pendeta.
Jumlah pembayar
 

Contoh :

Jumlah perpuluhan yang masuk  Rp. 25.000.000,-

Jumlah pemberi 50 0rang. Maka yang diambil gembala adalah sebesar :

(25 juta : 50) x 11 = Rp. 5.500.000,-

Ini kan gak terlalu timpang dengan penghasilan bersih jemaat yang tinggal Rp. 4,5 juta, setelah dipotong perpuluhan.

Sisa dari perpuluhan yang masuk digunakan untuk membantu orang miskin dan pendeta lain yang belum mampu.

Mungkin kalo begini pengelolaannya maka jemaat dengan rela hati akan memberi, atau minimal mengurangi cibiran jemaat.