"Dasar pelacur, belum diapa-apain sudah mendesah," Bajoi mengumpat dalam hati.
Mereka baru menyepakati harga. Tiga ratus ribu untuk satu babak pertandingan bola. Sebelum mengangkangkan paha, ia pastikan jatah Bajoi dengan mengaktifkan stopwatch di ponselnya.
Bajoi menatap tubuh berbalut kaus putih ketat dan rok pendek hitam itu.
"Jangan lama-lama, Mas," katanya. "Ini sudah jalan lima menit."
Melihatnya tetap tak bergerak, perempuan itu yang bergerak. Tangannya bergerak mengelus tubuh sendiri sambil mulut mengeluarkan desahan mirip erangan bintang porno Jepang.
"Dasar pelacur, bisa-bisanya mengeluarkan erangan buaya," Bajoi kembali mengumpat dalam hati.
Kalau ia ikuti maunya perempuan itu, ia rugi. Kalau memang serba langsung, mengapa tidak memakai aturan tinju saja? Sebelum ronde pertama berakhir, ia pasti sudah terlempar dari ring.
"Ayo, Mas."
Si Bajoi mulai dengan menyentuh telapak kaki.
Terlalu jauh dari pangkal pahanya. Ia berkata, "Cepatan saja, Mas."
Si Bajoi mendekatkan mulut ke telinga perempuan itu.
"Jangan pingin cepat-cepat, ya…." bisiknya, "aku ingin kamu juga ikut menikmatinya."
"Kasih aku uang, Mas," balas perempuan itu, "aku pasti akan merasa lebih nikmat."
"Dasar pelacur," umpat si Bajoi lagi, ia ikuti maunya perempuan itu.
***
Ia sudah tidur ketika Bajoi masuk, terbangun ketika pantat Bajoi menyentuh kasur.
"Maafkan aku, Sayang," bisik Bajoi.
Ia hanya diam.
Bajoi salah, ia telah mengkhianatinya.
"Aku menyesal, Sayang," bisik Bajoi sambil memeluknya.
Ia diam, namun Bajoi merasakan nafasnya menjadi teratur.
Ia kembali tertidur.
"Terima kasih, Sayang," bisik Bajoi. Ia syukuri apa yang ia miliki. Istri yang tidur ketika hatinya senang; istri yang tidur ketika hatinya terluka. Sedalam apapun luka itu, ia langsung tertidur begitu Bajoi menyakinkannya kalau dirinya ada di sampingnya, memeluknya erat.
Bajoi mengecup keningnya. Ia matikan lampu, memeluknya lebih erat lagi.
Tengah malam Bajoi terbangun.
Ia masih tidur nyeyak. Wajahnya begitu damai; nafasnya begitu teratur. Apapun mimpinya, itu pasti bukan mimpi buruk.
"Sayang…," bisik Bajoi.
Ia terbangun.
"Kutiduri, ya Sayang?"
Ia mengangguk.
Bajoi mengambil laptop dari meja di sudut kamar lalu meletakkan di kepala ranjang.
Ia diam saja. Ia tetap diam ketika Bajoi bergoyang di atas tubuhnya sambil menonton video porno.
Setelah selesai, Bajoi mendekap tubuhnya. Berbisik, "Sayang…"
Tak ada jawaban, ia sudah tertidur pulas.
***
"Bisa massage?" tanya Bajoi di depan pintu Salon Ayu.
Ia sudah tahu bisa. Massage - Lulur - SPA terpampang di bawah atap teras.
"Sama siapa?"
Bajoi menatap buah dada yang menyembul di balik kaos ketatnya. Seukuran buah apel. Ia tatap pinggulnya, tak ada gitar spanyol. Ia tatap paha berbalut jeans pendek, bukan paha putih mulus. Ia tatap betisnya, ada cap knalpot. Pandangannya naik ke atas, tidak cantik. Tetapi apa yang bisa ia harapkan dari pegawai salon terpencil?
"Sama Mbak saja," jawab Bajoi.
Mereka melewati segerombolan perempuan di depan televisi. Begitu pintu terkunci, Bajoi memeluknya dari belakang.
"Hei! Apa-apaan ini?"
Bajoi kaget.
Ia tidak akan berani melakukannya bila tidak kesini dua minggu lalu. Satu di antara gerombolan di depan televisi itu hanya memasang tarif dua ratus ribu.
"Maaf," kata Bajoi.
"Mas ini kenapa sih?" katanya, "Asal peluk saja."
"Sori… sori…," kata Bajoi. "Aku salah sangka."
"Kalau situ melihat perempuan di jalan, kenal saja nggak, tapi asal peluk, apa orang nggak marah?"
Sekali lagi Bajoi minta maaf.
"Nggak semua perempuan sama, Mas," katanya. "Nggak semua sama tarifnya. Tanya dulu."
"Dasar pelacur," Bajoi mengumpat dalam hati, "sama saja."
"Berapa?"
"Satu juta."
"Tidak sudi aku membayar satu juta untuk sepasang apel busuk," kata Bajoi dalam hati.
"Kalau begitu, massage saja," ia katakan kepada perempuan itu.
"Mas nggak bisa seenaknya," balasnya, "yang tadi harus tetap bayar."
"Berapa?"
"Dua ratus sama massage-nya. Salah sendiri, asal pegang-pegang."
"Aku kan sudah minta maaf."
"Maaf sih maaf, tapi bayar ya tetap bayar."
"Ya, sudah," kata Bajoi. "Sekarang kubayar seratus. Massage-nya nggak jadi."
Ia memberi dua lembar limapuluhan. Melihat isi dompetnya, perempuan itu berkata, "Lain kali kalau kesini bawa uang yang banyak."
Bajoi diam saja. Ia sudah mengenal banyak pelacur. Dari yang punggungnya penuh bekas kerokan karena berdiri di pinggir jalan sampai subuh, sampai pelacur berkulit putih mulus yang menghabiskan seluruh uang perjalanan dinasnya. Mereka semua sama saja, matanya hijau melotot melihat lembaran bergambar Ngurah Rai atau proklamator. Bajoi tidak bodoh, uang selalu ia simpan di bagian paling tersembunyi dalam dompet.
***
"Bang, aku duduk di pantat Abang, ya?"
Bajoi berada di Panti Pijat "Bunga Mekar" yang ada di belakang terminal.
"Ya, nggak apa-apa," jawab Bajoi, dari tadi ia menunggu tanda itu. Gara-gara kejadian di Salon Ayu, ia tidak berani lagi asal hantam. "Silahkan saja."
Perempuan itu menduduki pantat Bajoi.Pijatannya tidak enak. Pelacur itu tidak sedang memijat, tetapi menduduki pantat sambil mencolek punggungnya. Ia nikmati saja, tahu sekali tangannya bergerak, perempuan ini lupa mencolek punggungnya. Padahal ia tetap harus bayar seratus ribu untuk itu.
"Balik, Bang," katanya.
Sudah waktunya. Bajoi memegangi pinggulnya.
"Eeee... eeeiit..." katanya. Pura-pura kaget.
"Boleh kan?" kata Bajoi.
"Pegang-pegang, bayar," jawabnya.
"Berapa?"
"Abang mau kasih berapa?"
"Mbaknya dulu. Minta berapa?"
Ia lebarkan telapak tangan kanannya. Lima ratus ribu.
Bajoi membalas dengan tanda "V". Dua ratus ribu.
Perempuan itu cemberut.
"Sori, aku cuma punya segitu," kata Bajoi.
"Hanya pegang-pegang saja, ya Bang."
"Kalau lebih, berapa?"
"Aku bukan pelacur."
***
Lokalisasi "Sudi Mampir" di Kilometer 12.
Bajoi telah menelpon Nita, tempatnya berpaling saat semua pelacur tidak mau mengerti maunya.
"Tumben mampirnya malam," kata Nita.
Bajoi lebih suka meniduri pelacur saat hari masih pagi. Saat setelah mereka selesai mandi; setelah mereka bersih dari kotoran malam sebelumnya. Tetapi apa yang ia alami hari itu-terusir dari salon; tertolak di panti pijat-membuatnya harus melampiaskan hasrat tanpa bisa menunggu besok.
Bajoi mengecup keningnya, "Pingin saja. Kangen kamu."
"Gombal," kata Nita dengan tawa yang membuat Bajoi berharap ia wanita baik-baik, sehingga bisa mencintainya.
Setelah semuanya selesai, layaknya suami istri yang habis berhubungan badan, mereka berbaring menatap langit-langit. Hasrat yang lepas menyisakan rasa jijik sesaat. Terbayang entah berapa pria yang sudah berbaring di kasur ini. Entah berapa yang menumpahkan cairan di atasnya; entah berapa yang menumpahkannya di dalam tubuh perempuan ini; dan entah berapa yang membuangnya ke tempat sampah di sudut kamar.
Mereka berpelukan. Layaknya suami istri yang habis berhubungan badan.
"Bang?"
"Ya?"
"Apa Abang nggak takut ketahuan sama istri?"
Bajoi menahan senyumnya. Nita tidak akan percaya, sehabis berselingkuh, ia hanya tinggal memeluk istrinya, mengatakan betapa menyesal dirinya. Istrinya pasti langsung tertidur begitu mendengarnya.
"Emang saya punya istri?"
"Emang Abang belum menikah? Nggak dapat tunjangan istri dong? "
"Emang saya PNS?"
"Bang, udah banyak laki-laki yang meniduriku. Aku langsung tahu yang mana pegawai negeri, yang mana polisi, dan yang mana sopir truk."
Aneh, ada rasa cemburu. Mendengar pengakuannya, mendengar begitu banyak lelaki yang telah menikmati tubuhnya, Bajoi merasa ada yang terasa sakit.
Tetapi rasa itu segera ia buang, Nita hanya seorang pelacur.
"Emang mereka ceritakan pekerjaannya?"
"Kalau polisi, ya!” jawabnya, “Supaya nggak bayar."
"Kalau sopir truk?"
"Truknya langsung mangkal di depan situ."
"Kalau PNS?"
"Kayak Abang. Malu-malu. Suka sembunyi-sembunyi. Suka menutup kepala pakai helm. Suka pura-pura sibuk menulis sms."
Bajoi hanya tersenyum. Ia kecup kening Nita sebelum memberinya tiga ratus ribu.
“Terima kasih, ya, Bang Udin,” katanya sambil mencium pipi Bajoi.
***
"Maaf ya, Sayang," bisik Bajoi entah untuk keberapa ribu kalinya.
Ia sudah tidur, terbaring tanpa selimut di tengah ranjang. Bajoi memeluknya, menyatakan penyesalan. Ia membuka mata. Tanpa kata-kata, ia nyatakan kepedihan hati dengan kebisuan.
Andai saja ia tahu, tidak semua pelacur menyenangkan hati Bajoi. Mereka menghina tanpa kata-kata, hanya menatap bagian bawah tubuhnya dengan tatapan meremehkan. Di atas pintu gerbang lokalisasi, mereka menghinanya dengan menulis, "Berangkat bawa SPPD, pulang bawa penyakit."
“Maafkan aku, ya…” bisik Bajoi.
Ia tetap diam, tetapi kepalanya yang berbaring di atas bantal mengangguk.
“Terima kasih, Sayang,” bisik Bajoi, ia cium pipinya.
"Sayang?"
Matanya terbuka.
"Kutiduri, ya?"
Ia mengangguk.
Bajoi menciumnya lagi, lalu mengambil laptop dari meja di sudut kamar dan meletakkannya di ujung ranjang. Ia diam saja, dan tetap diam ketika Bajoi bergoyang di atas tubuhnya sambil menonton video porno.
Setelah selesai, Bajoi mendekap tubuhnya, "Sayang…"
Tidak ada jawaban. Ia sudah tertidur.
Bajoi mematikan lampu, memeluknya lalu memejamkan mata.
***
Hari masih subuh.
Bajoi mencari istrinya, ingin memeluknya.
Tidak ada. Ia cari di belakangnya, juga tidak ada. Ia melihat ke bawah, ke lantai. Ada di sana. Tergeletak begitu saja di atas lantai yang keras. Istrinya jatuh dari atas ranjang.
Ia biarkan saja. Bajoi malas bergerak, takut kantuknya hilang. Ia ambil gulungan selimut untuk dijadikan guling.
Ia mau melanjutkan tidurnya.
Istrinya tidak akan apa-apa, itu hanya sebuah guling.