Submitted by anakpatirsa on

        Aku masuk rumah sakit. Gara-gara cotton buds. Tepatnya, gara-gara cotton buds merk lokal-Borneo Cotton Buds-tertinggal di kedua lubang telingaku.

        "Keluhan?" tanya petugas loket pendaftaran.

        "Cotton buds tertinggal di telinga," jawabku pelan sambil menyentuh daun telinga kanan.

        Kutunggu tatapannya, tetapi ia sama sekali tidak mengangkat muka. Ia hanya menatap layar monitor, lalu tangannya bergerak lincah di atas keyboard.

        Aku kecewa. Kutambahkan, “Di kedua telinga.”

        Ia mengangkat muka. Tersenyum.

        Ia pikir aku mengada-ada.

        "Tunggu di Poliklinik THT, ya.…" katanya.

        Begitu praktis, bahkan aku tidak harus membawa sendiri berkas rekam medisku ke poliklinik rujukan. Kutunggu panggilan sambil melamun di pojok ruang tunggu. Banyak yang kupikirkan, termasuk niat mencari pengacara untuk menuntut perusahaan pembuat cotton buds merk lokal yang menyumbati kedua lubang telingaku; sekaligus menuntut Departemen Kesehatan karena memberi nomor registrasi atas produk itu. Aku juga berniat menyurati YLKI agar menuntut pemerintah mengharuskan semua produk cotton buds disertai label "bukan untuk telinga" bila memang membahayakan konsumen.

        Setengah jam, kudengar namaku dipanggil.

        Di atas meja, map berkas rekam medisku terbuka. Walaupun tidak pernah mendapat kesempatan membacanya, aku hafal isinya. Tidak banyak, sekali operasi bisul, dua kali mengganti perban, dan sekali melepas jahitan. Sebentar lagi akan ada tambahan, “Liang telinga kiri + kanan tersumbat cotton buds.” Aku bersyukur pelayanan rumah sakit belum online, sehingga wanita yang sedang mempelajari rekam medisku tidak mengetahui kisah dua cotton buds sebelumnya.

        “Sakit apa?"

        Kuperhatikan spesialis THT yang duduk di belakang mejanya. Bukan produk lokal.

        "Telinga kemasukan cottons buds," jawabku.

        Ia tidak kaget.

        "Coba saya lihat."

        Sambil berdiri, tangannya merogoh kantong jas putihnya dengan sebuah gerakan anggun. Saat berdiri di sampingku, tangan itu sudah memegang senter kecil.

        "Telinga yang mana?"

        "Yang ini dulu," jawabku sambil menyentuh telinga kanan.

        "Memangnya semua telinga kena?"

        Dokter yang pintar. Kalau saja rumah sakit ini menganggap telinga kemasukan cotton buds itu memalukan, aku akan mendatangi dua rumah sakit. Satu rumah sakit untuk satu telinga. Tetapi apa yang kulihat sekarang, telinga kemasukan satu cotton buds itu biasa-biasa saja, aku merubah rencana.

        "Ya," jawabku.

        "Ada-ada saja."

        Hanya itu tanggapan yang kuterima.

        "Sudah lama?" tanyanya sambil menyenteri lubang telingaku.

        "Dua minggu," jawabku.

        Dua minggu lalu, aku sedang menikmati putaran kapas di liang telinga ketika kupingku terasa sakit. Kutarik cotton buds-nya. Pantas saja menyakitkan, kapasnya sudah hilang. Rumah sakit bisa menunggu, selama aku tidak berenang, tidak akan ada dengingan atau kepala pusing.

        "Sebentar ya," katanya sambil meninggalkan aku.

        Ia membuka lemari dekat jendela. Aku berharap melihat alat seperti penyedot debu, tetapi ia mengeluarkan benda yang lebih mirip corong minyak. Benda itu ia pegang dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya memegang sesuatu yang lebih mirip tang. Meniru pedagang minyak eceran yang mau mengisi minyak mobil, ia meletakkan corong ke telingaku. Lewat corong itu ia masukan ujung tang yang ternyata bisa menyedot kapas dari lubang telingaku.

        "Sudah," katanya, "ini."

        Aku hanya menatap kapas yang sudah tidak lagi berwarna putih itu.

        "Yang sebelah memang benar ada?"

        "Ya," jawabku sambil memiringkan kepala sedikit. Isyarat baginya untuk segera memasukkan corong itu lagi.

        "Kok, bisa?" katanya sambil menyenteri liang telinga kiriku.

        Tentu saja bisa. Aku sudah berhati-hati mengorek telinga kanan, jangan sampai mendorong kapas satunya lebih dalam lagi. Sayang aku tidak berhati-hati dengan telinga kiri.

        "Yang ini kapan?" tanyanya.

        Pintar. Ia tahu tidak mungkin dua lubang telinga bisa tersumbat di hari yang sama. Aku sudah merasakan cotton buds di telinga kiri. Aku sudah merasakan cotton buds menyumbati telinga kanan. Keduanya tidak terlalu mengganggu selama tidak kena air. Tetapi bila ada yang mengatakan orang bisa menjadi gila kalau kedua lubang telinganya tersumbat, aku percaya. Jadi, begitu kedua lubang telinga tersumbat cotton buds, aku langsung ke rumah sakit detik itu juga

        "Baru tadi pagi."

        Tidak terlalu lama, kurasakan sesuatu ditarik dari lubang telingaku.

        "Ini," katanya sambil menunjukkan kapas yang masih berwarna putih.

        Akupun pulang dengan kepala yang terasa jauh lebih ringan. Aku tidak jadi mencari pengacara, juga tidak jadi mengirim email ke lembaga perlindungan konsumen.