Submitted by the blue on

Awalnya aku berkenalan dengannya di dalam sebuah persekutuan muda-mudi gereja di Banda Aceh, sewaktu aku kuliah di sana. Saat itu usianya masih sangat muda (kelas 1 SMA) sementara aku sudah semester 5. Dia adalah pacar pertamaku dan aku adalah cinta pertama buatnya.

Setelah 2 bulan lebih hubungan kami berjalan, Tsunami 26 Des 2004 membuat kami terpisah. Dia melanjutkan sekolahnya di Medan (Smunsa) sementara aku selesaikan kuliahku. Kami dapat melewati hari-hari dengan hubungan jarak jauh. Aku percaya selama dia disana dan dia juga percaya karena pergaulanku kebanyakan di gereja. Setiap liburan adalah saat yang kami nanti-nantikan dimana kami bisa pergi bersama, tapi kebanyakan kami habiskan waktu duduk ngobrol dirumah. Bahkan beberapa kali aku datang ke Medan untuk menemuinya utk merayakan hari ultah, hari jadian dan kalau ada libur.
Setelah dia menyelesaikan sekolahnya di Medan, dia diterima di Univ. Syiah Kuala (FKIP Matematika) dan aku sudah bekerja di Banda Aceh. Aku senang karena waktu kami untuk bertemu pasti lebih banyak. Tanpa kuduga suatu waktu dia menyatakan bahwa ayahnya tidak menginginkan dia pacaran, dia harus menyelesaikan kuliahnya dulu baru mikirin pacaran. Sedangkan Mamanya welcome asal tau batasan-batasan. Karena perbedaan itu, kami sepakat untuk membatasi pertemuan. Kami hanya jumpa di Gereja (Kamis dan Sabtu malam, latihan paduan suara) selebihnya di kampus (jam makan siang) aku bisa keluar kantor utk makan siang. Kami sepakat untuk tidak terlalu mempermasalahkan itu. Aku hanya bisa berkunjung ke rumah jika hanya ada Mamanya. Aku terima dan aku sangat bersyukur buat itu semua.
Hubungan kami berjalan terus samapi 2008, dan aku diterima bekerja di tempat yg baru dan harus meninggalkan Banda Aceh. Aku berangkat ke Aceh Singkil jaraknya 18 jam perjalanan dari Banda Aceh. Aku berusaha menyempatkan diri untuk bertemu kalau aku ada rapat di Banda Aceh, paling tidak kami bertemu di Gereja. Semua jemaat di gereja sudah mengetahui hubungan kami ini. Hingga suatu saat dibulan Oktober 2008 dia meminta putus, saat itu aku di Pematang Sianta (rumah Mama), padahal aku baru 1 hari di sana, aku langsung berangkat ke Banda Aceh untuk meminta penjelasan. Setelah menerima penjelasanya, aku bisa menangkap alasannya, dia ingin putus karena Sikap ayahnya yang tidak juga berubah, bila aku datang dan ayahnya melihatku, itu berarti ayahnya akan marah padanya dengan cara bersikap diam padanya. Aku bisa memahami dan aku memintanya untuk bersabar, saatnya akan datang setelah lulus kuliah, datang kehadapan ayahnya. Akhirnya dia bisa menerima dan kami sepakat untuk terus berjuang terus demi cinta kami. Aku berdoa untuk itu semua. Saat itu, dia mengatakan masih sayang sambil berurai air mata. Aku berangkat kembali ke tempat tugasku dan pada desember 2008 aku sempat merayakan natal bersamanya. Dan aku merayakan tahun baru bersama Mama di Pematang Siantar. Sebelum kembali ke Singkil, aku masih datang sekali lagi ke Banda Aceh untuk rapat koordinasi dan di situ kami masih sempat jumpa beberapa kali. Aku berangkat ke Singkil diantar olehnya ke Terminal dan saat itu hanya mencium tangannya. Aku bertugas dan mengerjakan semua pekerjaanku termotivasi untuk membahagiakannya. Setiap hari aku berdoa untuk hubungan kami, kiranya Tuhan memberikan kami kekuatan.Puncaknya kemaren 09 Feb 2009, dy menelpon untuk minta putus, karena sudah bosan dengan keadaan ini. Aku bingung harus berbuat apa. Kerjaan gak mungkin aku tinggalkan, karena dalam waktu dekat akan ada audit. Aku pusing dan tersayat luka dihatiku. Aku merasa tak berharga lagi, seluruh perjuanganku terasa sia-sia. Apa yang sudah kuberikan padanya, waktu, tenaga dan perhatian seketika menjadi tidak berharga. Aku merasa tidak adil. Aku merasa tidak Adil atas apa yang terjadi padaku. Sia-siakah kesetiaanku selama ini? Sia-siakah perjuanganku?Saat ini aku hanya bisa berdoa, berserah pada Tuhan untuk segala rencananya. Aku percaya bahwa rencana Tuhan itu indah, indah pada waktunya. Aku masih berharap dia kembali untukku.  Aku harap dia masih menyimpan cinta yang pernah tumbuh itu. Aku juga akan tetap menjaga cinta yang indah ini, aku tidak tahu entah sampai kapan aku harus menunggunya, menunggunya untuk kembali. Untuk saat ini, Aku masih terluka, Hatiku masih terisi dengan namanya dengan segala kenangan yang ada. Tuhan... kuatkan aku untuk melewati saat-saat berat ini.

(Aku menuliskan ini, untuk melepas sebagian beban perasaan yang ada di hati ini).