Submitted by joli on

"No way out, kecuali operasi jantung bypass"  kata-nya dari seberang sana.

"Ya wis" kata-ku

"Sik, ini kamar-nya penuh, ngantri dulu" balas my bro

"Papa mau pulang dulu" lanjut-nya

"Walah, langsung aja, nanti kalau pulang sik, keberanian Papa bisa berkurang, lalu mundur-mundur lagi" kata-ku, karena aku tahu-lah bagaimana my Papa

"Ok, ni segera antri jadwal operasi" jawab my bro

Selasa, segera me-reschedule jadwal meeting dalam seminggu itu di mampatkan di hari Selasa dan Rabu. Tiba-tiba,  di siang hari dapat kabar, operasi di majukan besok Rabu jam 12.00 siang.

Walah,  segera mabur ke Penang via Jakarta..

Go show, ke airport. Untung masih dapat tiket Garuda meski dapat dengan harga paling mahal. sebelum boarding, sms

"Joli ke jakarta tuk transit, bisa jemput?"
"Ok, aku jemput"
"Thanks" my replied
"Eh lupa basa-basi, ngerepoti nggak?" ku tulis lagi sms
"Apa gunanya teman kalau nggak di repotin.." aku tersenyum sendiri baca balasannya.

On time, pukul 19.25 sudah mendarat di Soeta, langsung ke loket KAHA hotel reservation. Ternyata hotel bandara penuh juga. Akhir-nya dapat di Aston Cengkareng

"Hai, dah mendarat, dimana?" telpon-ku

Akhirnya ku lihat mobil Terano hitam bernomor sakti yang kebal tilang.

"Joli mesti ke terminal 3 Hai loket AirAsia,  lum dapat tiket ke Penang besok subuh"

Akhirnya kami lanjut ke terminal 3 tuk cari tiket AirAsia jurusan Penang, namun sayang, sistem lagi off, jadi nggak bisa booking.

"Mana Samuel?" karena biasa bila kopdar si Samuel kecil selalu ikut

"Besok  dia test mandarin, kita makan dulu aja baru ke hotel"

"Jemput Samuel aja dulu, yuuuk"

"Samuel testing besok"

"Bukan Sam kecil kok, tapi kita jemput Samuel BESAR, entah kenapa beberapa lama tak chat jadi pengin jumpa"

"Ok, telponlah, kita ke sana.."

Bertemu SF di rumahnya. Ternyata  SF nggak bisa ikutan makan bersama, karena kondisi tubuhnya not good enough. Jadi kami ngobrol puanjang dan lebar di rumah SF. Seperti biasa bila kopdar.  Tertawa bersama, kali ini Hai-hai lagi seneng hatinya, ketawa nya sampai keluar airmata, ketika cerita-in adik-nya yang dokter kreatif, bisa menemukan anestesi alternatif.

Di sela2 obrolan, ada telpon dr my sister, yang mengabarkan, system booking internet Airasia dah beres, alhamdulilah..

Jam 23an, mesti pamit tuk makan, krn lapar..
Joli ingat sih tuk doa-in SF, tapi entah mengapa, kok ya nggak ngajak doa bersama ya? Ketahuan kan? kalau jarang berdoa bersama.. he..he. memang iya, lebih suka berdoa sendiri buat SF smoga cepat sembuh..

Makan bakso, lanjut cerita lagi, seperti biasa-nya mesti di usir resto-nya dulu baru mau pulang..

Subuh Jam 04.00 sudah meluncur ke airport tuk menuju Penang..

Sampai di Penang, sudah di atur penjemputan dari apartment tempat adik-ku menginap, langsung ke Hospital. RM 35 setara dengan Rp 100ribu.

Masuk hospital, tertampang tulisan "God Heals, We help.. Tuhan menyembuhkan, Kami membantu.."

Motto yang sangat indah

 

Tuhan menyembuhkan, Kami membantu
God heals, we help..

Masuk kamar operasi, Papa sudah terbaring di ruang persiapan, dengan oksigen di hidungnya. Mendengarkan cara Papa cerita kronologis pemeriksaannya,  Joli nggak terlalu kuatir, karena semangat hidup-nya tinggi.
Mata ini tiba-tiba tertumbuk pada gambar di atas ranjang Papa. Gambar Tuhan Yesus sedang menyaksikan dokter-suster yang melakukan operasi jantung.

 

"Pa, bentar, aku mau photo gambar ini"

"Apik loh Pah, Tuhan Yesus turut serta dalam ruang operasi"

"Memang kok, rumah sakit ini milik advent. Mereka ajak-in berdoa. Makanan juga di sini sehat loh, ciak jay.." kata Papa

 

Jesus and doctor

Ya melihat gambar Tuhan Yesus ini, hati jadi tenteram, ada Tuhan Yesus di kamar operasi.

"Titip my papa ya Tuhan, tolonglah dia, beri kekuatan dan keberanian untuk berjuang.." doa-ku

Ketika photo ini ku upload di FB, kata Elly ada cerita di balik photo itu.

saya copy-kan disini :

 

I Found Jesus There

The surgeon sat beside the boy’s bed; the boy’s parents sat across from him. “Tomorrow morning,” the surgeon began, “I’ll open up your heart…”
 
“You’ll find Jesus there,” the boy interrupted.

The surgeon looked up, annoyed. “I’ll cut your heart open,” he continued, “to see how much damage has been done…”

“But when you open up my heart, you’ll find Jesus in there.” The surgeon looked to the parents, who sat quietly.

“When I see how much damage has been done, I’ll sew your heart and chest back up and I’ll plan what to do next.”

“But you’ll find Jesus in my heart. The Bible says He lives there. The hymns all say He lives there. You’ll find Him in my heart.”

The surgeon had had enough. “I’ll tell you what I’ll find in your heart. I’ll find damaged muscle, low blood supply, and weakened vessels. And I’ll find out if I can make you well.”

“You’ll find Jesus there too. He lives there.”

The surgeon left. After the surgery, the surgeon sat in his office, recording his notes: “…damaged aorta, damaged pulmonary vein, widespread muscle degeneration. No hope for transplant, no hope for cure. Therapy: painkillers and bed rest. Prognosis:” here he paused, “death within one year.”

He stopped the recorder, but there was more to be said. “Why?” he asked aloud.

“Why did Thou do this? Thou put him here; Thou has given him this pain; and Thou cursed him to an early death. Why?”

The Lord answered,
 “The boy, My lamb, was not meant for your flock for long, for he is a part of My flock, and will forever be. Here, in My flock, he will feel no pain, and will be comforted as you cannot imagine. His parents will one day join him here, and they will know peace, and My flock will continue to grow. 

The surgeon’s tears were hot, but his anger was hotter. “Thou created that boy, and Thou created that heart. He’ll be dead in months. Why?”

The Lord answered, “The boy, my lamb, shall return to my flock, for he has done his duty: I did not put My lamb with your flock to lose him, but to retrieve another lost lamb.”

The surgeon wept.

The surgeon sat beside the boy’s bed; the boy’s parents sat across from him. The boy awoke and whispered, “Did you cut open my heart?”

“Yes,” said the surgeon.

“What did you find?” asked the boy.

“I found Jesus there,” said the surgeon.

 

Yang ku beri warna biru, sangat menyentuh hati-ku

Operasi Papa sekitar 3,5 jam an kata dokter, tapi hingga jam 5 sore kami belum boleh menengoknya. karena Papa belum sadar. Beberapa jam kemudian kami boleh masuk ke ruang ICU untuk melihat Papa, nampaknya sih OK, ketika tangan diminta menggemgem, dia lakukan dengan baik, demikian juga kaki-nya juga memberi respond yang baik

 

Syukur kepada tuhan, everything OK..

 

Penang Adventist Hospital

Rumah sakit yang akan ku rekomendasikan kepada seluruh teman-teman ku,

Apa sebab??

Saya pernah operasi di RS swata di Indonesia, Saya pernah operasi beberapa kali di Singapore. dan sekarang saya menungguin papa operasi di Penang.

Di rumah sakit Penang Adventist Hospital inilah yang paling Ok menurut-ku :)

 

SOP (Standart Operasion Procedure) nya mungkin hampir sama..

Menanyakan nama pasien, mau operasi apa, alergi obat, ada gigi palsu, dll..

Yang membedakan adalah.. perhatian dan keseriusan juga biaya-nya.

 

Di kamar operasi

Di Indo, dokter dan susternya santai, guyonan, kadang bicarakan sinetron atau infotaiment di kamar operasi. Sungguh menyebal-kan. Si pasien kesakitan, deg-deg-an, di sambi menghitung garis di langit-langit, mati-hidup-mati-hidup..

Bener-bener sense nya nggak ada sama sekali. Biaya relatif, lihat-lihat kelas-nya. Biaya operasi tergantung kelas kamar-nya

 

Di Singapore, dokter dan suster-nya, mekanik banget, jalankan SOP-nya, hilir mudik, tergesa-gesa, prang-preng-prang-preng, alat2 banyak bertumbukan. Sibuk banget, berisik-nya alat-alat dan suara paper work serta hilir mudik suster sangat dominan. Biaya mahal..

 

Di Penang, dokter dan suster, pelayanan bagus, SOP di jalankan dengan manusiawi, bahkan di Adventist ini kasih kristiani nampak nyata. Baik paperwork dan tanda2 di tempel jelas di dinding RS, juga brosur2 sangat membantu pasien dalam pengenalan akan penyakitnya. Biaya relatif murah, konon kabarnya lebih murah dari Jakarta sekalipun

Biaya hidup, makan dan tingal hampir sama dengan indo, juga bahasa-nya no problema. Nggak kayak di Luar Negeri.

Lha piye? Buanyak orang Medan, Surabaya dan Jakarta di sini.

 

Bila ada teman yang perlu informasi tenang Penang, boleh hubungi-ku ceileee...