IMAN dan “KEZUZURAN” .
Seperti yang Tuhan Katakan:
“ jadilah seperti Imanmu”
“ Iman sebesar biji sesawi sanggup memindahkan gunung”
“berimanlah seperti kanak kanak “
Aku beriman,
Kuyakin Akan apa yang aku ingin dapatkan dalam angan angan, akan terjadi. Itulah iman.
Mendoakan orang lain dalam komsel untuk apa yang dia yakini akan didapatkan walau belum ada dan belum nyata , masih dalam angan angan angan atau mimpi. Dengan keyakinan untuk yang belum ada.
Itulah iman.
Saling bersaksi tentang iman yang diyakini ( yang belum ada ) dan saling meneguhkan, dalam doa.
Itulah iman.,
Tapi Tuhan mengajarkan,
Untuk selalu “ zuzur “ ( jujur ) . zuzur dan zuzur.
Tapi kalo nggak ada tai diomongkan dan didoakan, bukankah itu omong kosong ( lain dengan bihong/ menipu, dusta. Karena itu merugikan orang lain )
Tapi omong kosong tidak merugikan
Karena “ omong kosong “ dalam bahasa jawa sama dengan “ nggedabrus “ dan nggak ada yang dirugikan.
Apakah Tuhan “merestui “ kita mengamini omong kosong yang ( sebagian ) jadi kenyataan/?
Itulah iman.
Saya bingung,
Antara mengiyakan” omong kosong yang jadi kenyataan “ karena iman.
atau menentang omong kosong/ kebohongan. . kalo NGGEDABRUS kan nggak ?
Bukankan kita harus “ZUZUR” di hadapan Tuhan ????
“ SUMFAH < ANE ZUZUR, LHOO “