Kenangan tentang bapak tergambar tak sejelas kenangan tentang ibu di benakku. Kehadiran bapak memang tak sekerap kehadiran ibu ketika aku tumbuh dewasa. Namun layaknya udara, ajarannya dan keberadaanya terus mengikat diriku dan mengalir di setiap desah nafas yang adalah salah satu sebab aku hidup.
Ayahku adalah bapak yang tegas. Menurut ibu, bapak tak ingin kami membuat kesalahan yang sama seperti dulu ia lakukan ketika muda. Bapak hanya senyum-senyum ketika ibu menyindir statusnya yang mahasiswa abadi dulu. Bapak sadar kesalahannya dan ingin anak-anaknya tidak jatuh pada lubang yang sama. Bapak tergolong perfeksionis. Ia ingin melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya dan mengharapkan anak-anaknya memberikan yang terbaik baginya. Dalam usahanya memberikan yang terbaik, ia ingin anak-anaknya selalu memandangnya baik pula. Mungkin itulah sebabnya, bapak berjuang ekstra keras untuk menyediakan yang terbaik buat kami hingga terkadang melupakaan pentingnya saat-saat bersama. Bapak juga selalu ingin tampil rapu supaya anak-anaknya bangga padanya. Ah, bila demikian, alangkah ingin aku mengatakan padanya betapa salahnya pandangannya itu di mataku. Bagiku Bapak adalah yang bapak yang terbaik meskipun ia tak memberi materi berlimpah ataupun tampil perlente. Bapak adalah terbaik karena bapak adalah bapakku. Aku mengasihinya apa adanya. Ajaran dan kasih yang hanya dapat diberikan oleh seorang ayah kepada putri sulungnya inilah yang kugenggam erat dan tanpa kusadari mewarnai tiap pandanganku. Hari ini seorang teman priaku yang baru saja menikah mengumumkan bahwa istrinya sedang mengandung. Sebuah kado yang indah di penghujung tahun. Natal tahun depan tentu akan lebih semarak bagi keluarga muda ini. Aku hanya ingin sekedar berpesan padanya --sebuah pesan yang mustahil kuucapkan lisan di tengah obrolan kami yang umumnya terlalu santai atau terlalu serius. Sebuah pesan tentang penting memenangkan cinta seorang anak; pesan tentang prioritas hal yang hendak diberikan. Karena ajarannya akan membentuknya menjadi sosok yang matang namun tetap takut akan TUHAN dan bisa memberi makna dalam kehidupannya dan kehidupan orang-orang di sekitarnya. Rahseto sahabatku.. Selamat!! Sebentar lagi kau akan jadi ayah ^_^ GBU anita