Submitted by vicksion on

 

Andai Ku Gayus Tambunan

Yang bisa bisa pergi ke Bali

Semua keinginannya

Pasti bisa terpenuhi

 

Lucunya di negeri ini

Hukuman bisa dibeli

Kita orang yang lemah

Pasrah akan keadaan........

 

Itulah sepenggal lirik lagu ”Andai Ku Gayus Tambunan” yang dibawain sama Bona Paputungan, mantan napi yang mungkin iri dengan ”keberhasilan” Gayus Tambunan sebagai seorang tahanan. Sama kaya lagu ini kadang banyak hal lucu terjadi di negeri ini, ketika para elit dengan gampangnya bisa bepergian ke luar negeri disaat rakyatnya merintih kelaparan, bahkan penjahat pun bisa seenaknya keluar masuk LP dan plesiran ke tempat-tempat wisata..Sungguh luarrrr biasaaaa...hahahaha....

Namun ada sebuah cerita, mungkin bisa disebut cerita kepahlawanan, tapi nggaklah..cerita ini bukan tentang pahlawan, cerita ini lebih mengenai orang-orang peduli yang mau melakukan sesuatu buat sesamanya...

 

 

RUMAH SINGGAH MULTIFUNGSI

Di rumah singgah yayasan kami ada seorang wanita yang menderita penyakit langka, satu penyakit mengerikan tapi namanya keren abis, Lupus, hehehe... Udah sekitar setahun belakangan dia menderita penyakit itu. Kata orang sih Lupus tu penyakit bawaan lahir, kelainan genetik, tapi emang baru setahun belakangan ini sebut saja Siti mengalami dampak dari penyakit itu. Mulai dari rambut yang pelan tapi pasti pada rontok, badan yang makin ceking, sendi-sendi badan sering cekot-cekot sampai kekuatan fisik yang menurun drastis dialami Siti mulai setahun lalu. Pernah ketika badannya nggak kuat berdiri dia dirawat di rumah sakit sampai sembuh, tapi kesembuhan itu hanya sementara, dua bulan lalu si Lupus ”kumat” lagi, membuat Siti kehilangan kekuatan tubuhnya. Dulu, waktu pertama kali terdiagnosa kena Lupus dia masih tinggal di Rumahnya, daerah Pasar Johar. Namun gara-gara tragedi kebakaran pasar yang terjadi sekitar 4 bulan lalu Siti harus ditampung di rumah singgah. Sempet dia dikasih kepercayaan buat ngelola usaha Warung Nasi Kucing milik rumah singgah. Selama beberapa minggu, mulai sore sampe malem dia jualan di depan rumah singgah. Tapi karena kondisinya sering dia ngalami kesulitan-kesulitan. Kaya waktu harus ngangkat sesuatu yang agak berat dia kepayahan banget, bahkan ngangkat ceret kecil yang isinya air pun dia udah nggak mampu. Sampai suatu ketika kondisi badan Siti udah drop banget, harusnya pas itu dia jualan tapi dia udah nggak kuat berdiri. Waktu nyoba buat jalan, eh..malah dia sempoyongan mau jatuh. Mulai waktu itu dia cuman bisa tiduran di kamar. Beberapa hari dia terus meringkuk di kamar dan kadang dia ngeluh badannya sakit semua. Akhirnya kami, fulltimer rumah singgah mutusin buat bawa Siti ke rumah sakit. Dengan susah payah karena berjalan pun dia udah nggak bisa, kami memapahnya dan bawa Siti ke sebuah rumah sakit yang cukup ternama di Kota Semarang pake motor.

 

RUMAH SAKIT TEMPAT MASALAH

Waktu tiba di rumah sakit kami nggak tahu gimana cara ngurus administrasi buat berobat ke rumah sakit, yang ada di pikiran kami cuma yang penting Siti bisa dirawat dulu, urusan administrasi atau keuangan kami pikir belakang. Lagian pas dia dirawat kemarin yang ngurus semua administrasi dari keluarganya yang sekarang entah kemana. Jadilah kami buta sama sekali tentang birokrasi di rumah sakit. Kami langsung aja bawa ke IGD dan tanpa banyak kata Siti dirawat oleh beberapa dokter di sana. Persoalan muncul beberapa saat kemudian. Pihak rumah sakit meminta data-data Siti yang terdiri dari KTP dan Kartu Keluarga sebagai syarat agar biaya pengobatan Siti bisa dibebaskan melalui jamkesmas. Sebenarnya Siti punya KTP maupun Kartu Keluarga, namun karena kelalaiannya surat-surat penting itu telah hilang. Kesibukan di yayasan membuat kami nggak bisa penuh mencurahkan waktu mengurus masalah hilangnya surat-surat penting Siti, ditunjang oleh latar belakang Siti yang anak jalanan membuat pengurusan KTP maupun KK menjadi sangat sulit. Telah beberapa kali kami coba ngurus KTP Siti di tempat asalnya namun berhubung Siti telah lama hidup menggelandang maka dari pihak RT setempat tidak mau membuat KTP dengan alamat Siti yang lama. Di rumah sakit ketika kami ditanya tentang hal itu kami cuma bisa menjawab seadanya, bahkan pernah beberapa kali kami berdebat tentang hal ini. ”Memang pemerintah telah mengalokasikan dana untuk pengobatan rakyat miskin, tapi buat ngambil dana itu tetep perlu surat-surat yang jelas...” gitu kata pihak rumah sakit.

 

RASA KEMANUSIAANLAH YANG MENANG

Syukur kepada Tuhan karena beberapa hari kemudian dari pihak rumah sakit sendirilah yang ngurus semua administrasi dan keuangan untuk pengobatan Siti, udah bosen kali mereka debat sama kami jadi mereka urus sendiri..hahahaha..jadi waktu kami kesana beberapa hari kemudian, kami dikasih tahu kalo biaya pengobatan Siti dari awal masuk rumah sakit sampai dia sembuh nanti telah ditanggung oleh pemerintah melalui jamkesmas. Sampe tulisan ini diposting Siti masih dirawat di rumah sakit dan syukur kalo katanya di sana dia dirawat dengan sangat baik, bahkan menurut beberapa pasien tetangganya Siti dapet perawatan yang spesial. Ngiri kali ya mereka..hahaha...

 

NEGERI PEDULI

Ternyata nggak semua hal di negeri ini berjalan sesuai lagu ”Gayus Tambunan”. Ditengah morat maritnya moral di negeri ini, ditengah rumitnya birokrasi pemerintah negeri ini masih ada orang yang mau peduli sama orang lemah, masih ada orang yang mau bantu sesamanya..itulah hal yang langka, yang perlu kita semua lestarikan. Ternyata negeri ini tidak seburuk apa yang selama ini kita sangka. Ternyata masih ada orang-orang yang cukup peduli sesama dibalik serpihan-serpihan kekotoran birokrasi.

Yang jadi pertanyaan, maukah kita jadi bagian orang-orang yang peduli di Negeri ini?