Manusia menciptakan mahluk jadi-jadian lalu tunduk kepadanya. Mahluk ini biasa disebut Leviathan. Salah mahluk Leviathan yg umum ada di berbagai belahan dunia ini adalah Negara-Bangsa (Nation State). Manusia membenci sekaligus mencintai mahluk ini. Saya dan Anda membutuhkannya dan juga sekaligus menghindarinya. Ada berbagai perasaan benci tiap kali saya harus berurusan dengan mahluk dingin beku ini: ketika memperpanjang KTP, membayar pajak,atau mengurus dokumen lain.
Mengapa harus ada Leviathan? Mengapa harus ada negara? Mengapa harus ada banyak negara? Mengapa banyak bangsa-bangsa membentuk negara? Di kotak ijo beberapa hari yang lalu ada orang dari Malaysia yang bilang: "Kita satu rumpun". Kalau Malaysia dan Indonesia cuma melayu saja, mungkin ya. Namun Indonesia dan juga malaysia terdiri dari berbagai ras dan etnis. Indonesia adalah negara bangsa (nation-state) dan sekeleompok orang menjadi bangsa bukan karena etnis atau ras, melainkan karena suatu keputusan politik bersama untuk menjadi satu bangsa dan bersama-sama membentuk sebuah mahluk Leviatan bernama Republik Indonesia.
Mengapa harus ada negara-bangsa? Mengapa harus ada kepatuhan kepada leviatan buatan manusia? Apakah haram menghormat kepada bendera dan lambang negara? Mengapa pula orang harus mempertaruhkan nyawa demi negara? Fatherland? Motherland? Pada mulanya orang mati berperang demi raja, karena raja adalah wakil Tuhan. Pada mulanya juga orang mati berperang demi kemuliaan dewa-dewa pelindung kota dan negerinya. Tapi dalam negara modern alias negara bangsa, prajurit mati berperang demi motherland dan fatherland? Siapa itu mahluk bapak pertiwi (seperti di jerman) dan ibu pertiwi (di Indonesia)?
Dalam setengah abad terakhir ada perubahan baru lagi. Meski batas-batas wilayah kekuasaan negara relatif stabil, namun batas-batas itu makin bebas dilewati. Orang, barang, modal dan informasi mengalir melintas batas-batas negara. Perubahan ini tak bisa dibendung lama-lama. Leviathan tak lagi mudah mengangkangi penduduk di wilyayahnya. Namun korporasi-korporasi antarnegara menjelma menjadi mahluk-mahluk baru yang lebih kuat dan mampu mengendalikan pra leviathan.
Saya belum tahu apa sebutan khusus untuk mahluk-mahluk jadi-jadian yang ini. Namun mereka ini bernaung dan memperkuat salah satu leviathan kuat di dunia, yaitu Amerika Serikat. Pada tahun 80an orang senyum-senyum tiap kali Moamar Kadhafi berkoar-koar memaki-maki Amerika. Pada era akhir 90an dengan rontoknya blok komunis, orang menatap cemas, siap yg akan melawan Amerika. Belakangan orang terhibur oleh Ahmadinejad dan Hugo Chavez. Tapi tidaklah cukup kalau cuma menjadikan Amerika guyonan. Siapa yg akan mengontrol Amerika? Bahkan di Indonesia sudah berkembang biak berbagai varian teologi kemakmuran ala Amerika, dan berbagai pendetanya demikian rajin mendoakan pemilu Amerika.
Kejahatan sistemik dari perselingkuhan negara dan korporasi multinasional akan dilawan oleh individu-individu. Begitu kata seorang pakar pemasaran. Akhir 2010, tiba-tiba dunia melirik penuh harap. Ada jerit peluit dari suatu mahluk bernama Wikileaks. Apa pentingnya dan apa hebatnya yg dibuat Wikileaks? Apa hebatnya sekedar perbuatan membocorkan rahasia sebuah negara? Memang tidak hebat, kalau Anda ingin kekuatan fisik ala Nazi atau Uni Soviet. Namun seperti halnya sebuah lubang kecil dapat meretakkan dan meruntuhkan sebuah bendungan, demikian pula kebohongan terorganisir tersembunyi bisa dirontokkan dengan diungkap ke publik.
Terbuka lebih dipilih daripada tertutup. Tahu lebih dipilih daripada tidak tahu. Anda bisa memilih untuk tetap tertutup atau tetap tidak tahu. Namun ada kecenderungan yang makin dipilih oleh banyak orang, yaitu memilih untuk mengetahui dan memilih untuk terbuka. Apakah terbuka itu lebih baik dari tertutup? Saya tidak tahu mana lebih baik mana lebih buruk. Barangkali ini bukan soal baik dan buruk. Kotak pandora sudah dibuka, dan segala yang baik dan segala yang buruk sudah terbang ke udara. Cuma dengan dibuka, sesuatu yang semula tersembunyi bisa dilihat dan diuji.
Saya tidak tahu persis apa yg terjadi dengan Timnas. Namun saya berharap perbincangan terbuka dari hati ke hati antara mereka dan Si Pelatih kemarin bisa memberi mereka kelegaan dan memungkinkan mereka tampil prima nanti malam. Seperti penderita perut kembung akut, yg lega bahagia jika akhirnya dia bisa kentut.