Hidup adalah pilihan. Dari saat kita membuka mata di pagi hari, tak terhitung kiranya pilihan yang harus kita buat. Ada pilihan yang sederhana semacam menentukan menu sarapan di pagi hari, pakaian apa yang harus dikenakan hari itu, rute yang harus dipilih ke tempat kerja dan sejenisnya. Ada pula pilihan lain yang lebih sulit karena konsekuensi dari pilihan itu amat menentukan arah hidup selanjutnya; seperti menentukan jurusan studi, menentukan pasangan hidup, menolak atau menerima lamaran orang, dan menentukan pekerjaan apa yang akan dilakukan. Aku benci memilih; entah itu karena takut ataupun karena ragu. Aku tak dapat mengidentifikasi alasan mengapa Aku benci memilih.
'TUHAN, apa yang KAU ingin aku lakukan? Pilihan apa yang sebaiknya kupilih," begitu aku berseru dalam doa-doaku minggu-minggu ini. Doa yang belum juga kutemukan jawabnya dalam pergumulanku melawan keraguanku. Entah mengapa DIA memberondongku dengan berbagai keputusan besar yang aku benci putuskan. "Bisakah KAU saja yang tentukan buatku BAPA?"
Ah, pilihan...
Ternyata berdiri di persimpangan memang terasa membingungkan. Ketika setiap langkah yang diambil amat menentukan arah hidup, aku jadi begitu takut melangkah. Seorang sobat menertawakanku yang terlalu banyak menimbang, padahal nalar dan hatiku seringkali tak sejalan. Ia tidak tahu, aku hanya ingin mendengar kehendak BAPAku, tapi lewat apakah kiranya IA bicara? Aku tak tahu.
Submitted by
clara_anita
on