Submitted by clara_anita on

Kehilangan. Sebuah kata yang umumnya mengundang reaksi menyedihkan. Terutama bila yang hilang adalah sesuatu yang berarti dalam hidup. Hal yang istimewa biasanya dijaga lekat-lekat agar tetap berada pada dekapan. Sayang, meskipun terdekap erat tetap saja ia dapat terbang begitu saja tanpa meninggalkan jejak kecuali sepenggal kecewa.

Dulu ketika duduk di Sekolah Lanjutan, ibu pernah membelikanku sepasang sepatu kanvas warna biru. Kala itu aku amat menggemari warna itu, dan sepatu itu selalu menemaniku ketika aku les sepulang sekolah. Jika dimungkinkan tentu sepatu itu sudah kupakai ke sekolah. Sayang peraturan di sekolahku kala itu mengharuskan seluruh siswanya mengenakan sepatu warna hitam polos. Ada sedikit saja bagian berwarna bukan hitam, guru BP yang tegas akan langsung menyuruh kami bertelanjang kaki tanpa ampun.Saking nyamannya, sepatu itu kupakai hingga lusuh. Bahkan aku berencana akan tetap 'memuseumkannya' bila ia sudah benar-benar tidak dapat dipakai kelak.

Tapi rencana tinggal rencana. Di hari kelam bulan Mei nyaris sebelas tahun yang lalu, sepatu itu harus hilang di empang belakang rumah ketika kami melarikan diri dari tempat tinggal kami sendiri.Kala itu kakiku terbenam di lumpur. Bila aku mempertahankan sepatu biru itu, mungkin aku tak dapat mempertahankan diriku. Benar-benar pilihan yang sulit. Dengan berat hati akhirnya kutinggalkan sepatu kanvas biruku itu terbenam di lumpur empang belakang rumah dan terus berlari bertelanjang kaki.Yang hilang biarlah hilang. Hidup harus terus berjalan meski awalnya timpang karena ada bagian yang kosong dan nampak mustahil tergantikan. Maka kurelakan sepatu bitu itu.

Yang hilang tak selalu berwujud barang. Kehilangan orang yang dekat karena putusnya hubungan ataupun kematian bahkan terasa lebih menyakitkan. Ibu selalu meledekku bahwa aku demikian cengeng ketika pindah ke kota kelahiranku dari ibukota sepuluh tahun silam. Aku tak berhenti menangis karena merasa kehilangan teman-teman yang begitu kusayangi di ibu kota sana. Tapi, aku menolak untuk kembali ke ibukota. Namun apa lagi yang bisa dilakukan ketika ada bagian yang hilang dalam kehidupan. Layaknya ada sebuah lubang yang teramat besar dan dalam. Kekosongan yang membuat kita merasa tak lengkap. Tapi sekali lagi. Yang hilang biarlah hilang. Jangan-jangan ia tak pernah benar-benar hilang; hanya bersembunyi untuk ditemukan kembali suatu hari nanti.

Katika beberapa blog yang kuunggah beberapa saat lalu hilang dari Sabdaspace, ada kecewa yang muncul di hatiku. Tulisan-tulisan yang kutulis secara spontan seketika kilatan ide membludak dari sel-sel kelabu otakku itu tak pernah kusimpan, dan mungkin akan benar-benar hilang. Tetapi pada pemikiran kedua, aku akhirnya bersyukur. Bila pun kisah-kisah sederhana itu benar-benar hilang, ia sudah meninggalkan jejak buatku dan (semoga) buat pembaca lain.Yang hilang belum tentu meninggalkan kekosongan, karena jejak-jejak yang ditinggalkannya tak pernah benar-benar hilang.Maka, aku belajar untuk mencintai kehilangan itu, karena ia adalah bagian alamiah dari hidup.

GBU
anita