Dari apa yang bisa saya tangkap berdasarkan yang tersurat dan, terlebih lagi, yang tersirat, beberapa teman di SS ini menyayangkan mengenai tidak atau sangat kurangnya keterlibatan saya dalam usaha untuk “membungkam” atau “melawan” apa yang dianggap sebagai “penyesat” atau “ajaran-ajaran sesat” (khususnya mengenai atau yang berasal dari salah seorang warga “lama” di SS ini).
Sesungguhnyalah saya adalah seorang yang sangat berminat untuk berdiskusi (bahkan berdebat), apa lagi jika topiknya sudah berkaitan dengan Alkitab dan kekristenan (dan, itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa saya tertarik untuk bergabung di “komunitas blogger kristen” yang bernama SABDA SPACE ini).
Nah, lantas mengapa saya terkesan seperti “berdiam diri” saja di dalam perdebatan yang “paling seru” (paling heboh) yang sekarang sedang terjadi di SS ini? Berikut ini saya akan memberikan dua alasan (dua lagi nich…hehehe!) mengapa saya lebih memilih untuk tidak “terjun bebas” ke dalam perdebatan tersebut.
1. Sekalipun mereka-mereka yang terlibat langsung di dalam “pertempuran” tersebut sudah (dan nampaknya akan terus) membela diri, dengan memberikan alasan-alasan “Alkitabiah”-nya untuk praktek-praktek tersebut, tetapi bagi “orang luar” (yaitu yang belum terlibat, sehingga bisa menilainya secara lebih obyektif) cara-cara berdebat yang mereka lakoni itu sungguh sudah keluar jauh dari koridor kekristenan atau etika Kristen. Sebab, jangankan diukur dengan standard etika Kristen, jika diukur dengan standard etika umum saja pun, cara-cara berdiskusi/berdebat yang mereka praktekkan itu (yang sangat didominasi dengan caci-maki dan sumpah-serapah) sudah tidak bisa digolongkan sebagai diskusi/perdebatan yang sehat lagi.
Terlalu naif dan hanya merupakan alasan yang dicari-cari saja, kalau mereka mengajukan Yesus dan tokoh-tokoh tertentu di dalam Alkitab, yang juga menggunakan kata-kata “bodoh”, “bebal”, “terkutuk”, dsb. Sebab, bisakah mereka (teman-teman kita itu) menjamin bahwa diri mereka sendiri memang memiliki niat, tujuan, dan spirit yang sama seperti yang dimiliki oleh Yesus atau tokoh-tokoh lainnya itu (yaitu ketika Yesus dan tokoh-tokoh di Alkitab yang lainnya itu menggunakan kata-kata yang keras), yang dicatat di dalam Alkitab tersebut? Dan, yang lebih khusus lagi, apakah mereka ini memiliki otoritas yang sama (atas sesama teman di SS ini, yang kepadanya mereka mengalamatkan kata-kata makian dan sebagainya itu), seperti yang dimiliki oleh Yesus dan tokoh-tokoh di dalam Alkitab itu atas orang-orang yang mereka tegur pada masa itu? Jawabnya, pastilah tidak! Karena itu, seharusnya mereka tidak menjustifikasi perbuatan mereka yang menyimpang itu, dengan “mencomot” secara sembarangan saja ayat-ayat Alkitab tersebut.
2. Pokok/topik yang menjadi bahan perdebatan sudah bukan lagi masalah-masalah kekristenan yang biasa, dalam mana kita, sebagai orang-orang Kristen biasa/awam, patut dan wajar untuk mendiskusikannya. Tetapi, pokok pembicaraannya sudah merambah terlalu jauh kepada persoalan-persoalan teologis yang rumit dan, yang untuk bisa membahasnya secara memadai (dan bertanggung jawab), akan membutuhkan penguasaan ilmu-ilmu tertentu di bidang TEOLOGIA. Contohnya saja: penguasaan bahasa-bahasa asli Alkitab (Ibrani, Aramik, dan Yunani), Hermeneutika Alkitab, dan masih banyak lagi yang lainnya. Pokoknya, diperlukan seorang ahli di bidang TEOLOGIA untuk bisa membahas hal-hal tersebut secara pantas dan memadai. Sebagai gambaran saja, pokok-pokok yang mereka perdebatkan itu adalah sekitar mengenai: Allah Tritunggal, Hamartiologi (mengenai dosa dan asal-usul dosa), Angelologi (mengenai para Malaikat dan mahluk-mahluk roh lainnya, termasuk di dalamnya Demonologi, yaitu mengenai Iblis dan roh-roh jahat).
Bagi orang Kristen biasa/awam (seperti kita) yang ingin mengetahui lebih banyak mengenai salah satu dari pokok-pokok teologis itu (mis: malaikat atau angelologi) caranya adalah dengan membaca atau menekuni bahan-bahan pelajaran praktis, yang diangkat atau di susun dari hasil penyelidikan terhadap Alkitab, yang dilakukan oleh para ahli mengenai topik yang tertentu itu. Dan, jika rasa ingin tahu kita cukup besar (dan juga memiliki kemampuan yang cukup), kita pun bisa membaca atau mempelajarinya langsung dari karya-karya para ahli tersebut, yaitu yang sudah dipublikasikan. (Atau, untuk lebih baiknya lagi, jadilah mahasiswa di seminari atau sekolah teologia tertentu yang kita pilih).
Dengan menulis seperti ini, saya sama sekali tidak bermaksud untuk menghalangi siapa pun yang berkeinginan untuk menulis mengenai hal-hal yang diyakininya sebagai sebuah “penemuan baru”, yang merupakan hasil dari study atau pemahaman pribadinya mengenai ayat-ayat tertentu di dalam Alkitab. Sebab, sesungguhnya saya sendiri pun (dari hasil study Alkitab secara pribadi yang saya lakukan selama ini) meyakini bahwa saya telah “menemukan” beberapa hal yang seperti itu juga. Tetapi, sebagai seorang yang awam di bidang TEOLOGI (yang antara lain nyata dari ketidak piawaian saya di dalam bahasa-bahasa asli Alkitab: Ibrani, Aramik, dan Yunani), maka saya tidak boleh bertindak “terlalu maju” atau bertindak seolah-olah saya ini adalah seorang AHLI (itulah yang dalam beberapa kesempatan saya sebut sebagai perbuatan yang “lancang”).
Saya tidak bermaksud untuk mendikte siapa pun di SS ini supaya melakukan dengan cara yang saya lakukan. Temukan dan praktekkanlah cara Anda sendiri. Tetapi, cara apa pun yang Anda gunakan, aturan dasarnya harus tetap dipatuhi, yaitu jangan bertindak sebagai AHLI (kalau Anda sendiri bukanlah ahli di bidang tersebut). Berikut ini adalah cara atau kebijakan yang saya sendiri tempuh/terapkan selama ini menyangkut “penemuan-penemuan” baru saya tersebut.
1. Saya sangat selektif kepada siapa (di antara orang Kristen) saya akan membukakannya. Tentunya tidak kepada setiap orang Kristen “penemuan baru” itu cocok/pantas dan berguna untuk saya kemukakan. Bagi saya mungkin hal itu adalah hal yang sangat membangun, tetapi bagi orang-orang Kristen yang lainnya, mungkin karena imannya masih terlalu lemah/polos, “pengetahuan” saya yang “baru” itu mungkin akan menjadi sandungan terhadap (kondisi) imannya itu (bandingkan dengan 1 Kor 8:7-13)
2. Saya lebih memilih cara dengan sharing langsung kepada orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan/pengetahuan teologi (yang juga memiliki pemilkiran yang terbuka untuk hal-hal yang “baru”).
3. Saya akan menulis buku atau artikel yang ditujukan langsung kepada orang-orang yang berkecimpung di dalam penafsiran Alkitab, penyususnan doktrin-doktrin Kristen, sebagai bahan masukan untuk mereka atau supaya mendapatkan masukan-masukan yang berarti dari mereka juga.
Itulah secara garis besarnya, kebijakan yang saya terapkan terhadap diri saya selama ini, khususnya yang menyangkut “penemuan-penemuan baru” saya dari Alkitab. Sekali lagi, saya tidak bermaksud untuk mendikte siapa pun supaya menggunakan cara yang saya gunakan itu juga. Saya cuma sekedar menyampaikan cara/kebijakan yang selama ini saya anut. Itu saja.
Nah, karena pendirian atas cara/kebijakan yang seperti yang di atas itulah, maka saya merasa tidak cocok untuk terjun ke dalam perdebatan yang lagi rame di SS ini. Dengan mengatakan begitu, bukanlah saya beranggapan bahwa saya ini adalah seorang yang lebih mulia dari teman-teman yang sedang “bertempur” itu. Mungkin, saya hanyalah sedang beruntung saja, karena tahu lebih dulu (atau tahu lebih baik?) mengenai cara-cara berdiskusi/berdebat yang sehat menurut Alkitab (bahwa justifikasi “caci-maki” dan “sumpah-serapah” itu adalah praktek “asal comot” ayat2 Alkitab secara tidak bertanggung jawab) dan juga cara-cara dalam me-“manage” hal-hal yang merupakan “penemuan” atau “pengetahuan” baru itu. (Sekali lagi, saya tidaklah sedang menganggap diri saya lebih baik/lebih pintar dari teman-teman yang lain itu, tetapi hanyalah sedang beruntung saja sekarang ini atau dalam kasus ini).
Demikianlah, semoga teman-teman memahami mengapa saya tidak ikutan dalam perdebatan paling rame di SS pada akhir-akhir ini dan kiranya atmosfir di SS bisa menjadi lebih “sejuk” (= kondusif) lagi ke depan ini, demi kemanfaatan yang lebih besar lagi bagi kita bersama.
Salam damai untuk semua!
(“Salam reformasi”-nya, di “simpan” dulu, untuk kali ini aja! Hehehe…!)