Submitted by Evylia Hardy on

Waktu kecil aku begitu diam, tenggelam oleh keceriaan dan keceriwisan teman-teman, hingga sering luput dari perhatian guruku. Waktu kecil aku begitu takut untuk protes, hingga sering kebagian yang tidak enak. Kursi berkutu, misalnya. Waktu kecil aku terlalu kelu untuk mengadu, hingga menangis saja bila disakiti, baik fisik atau hatiku.

Kerap kali aku menonton teman-teman berceloteh dan bercanda tawa dengan guruku. Tiap hari aku mendengar ada saja yang mengadu atau protes ini dan itu. Sebenarnya ingin sekali aku bisa begitu, tapi beringsut mendekati guru pun sudah mandi keringat aku. Aku ini tak menarik, pikirku. Dilupakan. Tak dilihat. Apalagi didengar. Aku ini tak berarti. Dan mimpi untuk bisa dekat dengan guruku tak pernah kesampaian.

Ajaibnya, belasan tahun kemudian aku menjadi guru. Seperti guruku, aku pun senang dikerumuni murid-murid yang ramai, pintar, cakep. Tetapi impian seorang murid selalu terbawa-bawa dalam hati kecilku. Mimpi yang tak sampai. Jadi mulailah aku berupaya mewujudkan mimpiku. Maka ketika tak kutemukan alasan untuk memuji kepandaian muridku, kupuji kerajinannya. Ketika tak ada alasan untuk memuji keelokan parasnya, kupuji tulisannya. Kalau tak pernah ia mendekatiku, aku yang menghampirinya. Kalau tak pernah ia bercerita padaku, aku yang bertanya padanya. Aku percaya tiap anak bisa menarik betapapun menjemukannya ia. Tiap anak punya keunggulan betapapun bodohnya ia. Aku percaya meski tampaknya tak ada alasan untuk percaya.

Dimulai dari mimpi seorang murid kecil yang tak sampai, yang selalu terbawa-bawa di hati , aku terpacu untuk terus mencari jalan menuju hati anak-anak. Karena dulu terabaikan, maka kini memperhatikan. Karena dulu tak menerima, maka kini memberi.