Submitted by clara_anita on

"Mama, aku mau es kim," terdengar suara kecil di ujung sana.

"Es Krim rasa apa sayang?" sahutku

"yang ungu," suara itu menjawab.

"Mama kesini ya. Yum kangen," lanjutnya lagi.

"Maaf ya sayang. Nanti es krimnya mama titip sama mbah iyin (ibuku). Mama nggak bisa kesana," jawabku dengan penuh sesal.

"Iya," timpal suara kecil itu pasrah.

"Selamat hari Minggu sayang. TUHAN memberkati. Mama sayang sama dik Yum," akhirnya kuakhiri pembicaraan telepon itu.

* * *

Arum adalah anak kakak sepupu dari kakak perempuan ibuku yang juga ibu baptisku. Semenjak dilahirkan saya sudah merasa dekat dengannya. Ia cantik, pintar, lucu dan menggemaskan. Terlebih saat ini ketika ia sudah menginjak usia 4 tahun dan mulai duduk di taman kanak-kanak. Entah bagaimana ceritanya ia memanggilku "Mama", dan memanggil ibunya sendiri "Ibu." Aku amat mengasihinya, dan Arum dengan tingkah polahnya yang menggemaskan membalas kasih itu lebih besar dari yang kuberi.

Minggu kemarin keluarga besar dari pihak ibu berkumpul untuk menghadiri resepsi pernikahan salah seorang kerabat, dan Arum (sepertinya) mengharapkan kehadiranku. Aku pun rindu bercanda dan bermain bersama "anak" ku itu, namun apa mau dikata, pekerjaan mengalahkan hal-hal lain.

Bukan Arum namanya kalau tidak berkemauan keras. Entah bagaimana ia berhasil merayu ibunya untuk menghubungiku hanya untuk sekedar minta es krim menyusul pemberitahuan singkat absennya diriku dari acara itu via SMS. Hatiku rasanya remuk karena aku mengenal betul anakku ini. Ia tak pernah minta dibelikan apapun. Aku memaknai permintaannya itu sebagai teriakan sederhana yang mengharap kehadiranku bersamanya. Sebuah teriakan yang teramat lembut namun mampu meluluhlantahkan hatiku.

Singkat kata, akhirnya aku meminta bantuan ibu untuk mampir membeli es krim dan sebatang coklat kesukaan Arum dalam perjalanan. Ketika kuserahkan sejumlah uang  pada ibu, dengan setengah bercanda ibu menegurku lembut. Sebuah teguran yang menohok keras.

"Mama macam apa kamu ini, Ik?" tanyanya sambil tertawa kecil.

"Nggak kangen sama anakmu?" lanjutnya lagi

"He.. he.." aku cuma bisa tertawa kecil.

"Mau gimana lagi Bu..." lanjutku

"Nanti kalau kamu dah punya anak sendiri; kasihan pasti anakmu. Dia lebih butuh mamanya ketimbang es krim," timpal ibu sambil melirik ke arahku.

Ibu pun berangkat diantar "calon"nya adik perempuanku. Sementara aku bersiap menuju kantor untuk kerja lembur sambil membawa segudang bahan perenungan.

Perenungan tentang prioritas dalam hidupku. Sementara aku mencari makna hidup lewat kerja dan studi (dengan dalih mumpung masih muda; mumpung masih single; mumpung masih ada kesempatan; mumpung . ...), berapa banyak hal yang telah kulewatkan. Ternyata, meski kadang aku menganggap kehadiranku tak penting, bagi beberapa orang sangatlah besar artinya. Es krim atau hal lain tidak dapat menggantikan sebuah pelukan, sebuah sentuhan sederhana, dan satu tatapan hangat.

Lalu aku berpikir, berapa banyak kesempatan berbagi kasih yang kusia-siakan dengan percuma demi mengejar hal lain yang kuanggap "lebih penting."

Dalam hati aku berjanji, bila kelak TUHAN mengijinkan aku menikah dan memiliki anak sendiri, aku akan dengan senang hati menyisihkan tugas-tugasku untuk bermain bersama, menyeka air matanya, dan belajar hal-hal sederhana dengannya.

Di tengah permenunganku, telepon genggamku berdering dan ada nama Arum di situ. Segera kujawab panggilan itu,

"Mama, makacih ya es kimnya," suara riang dan renyah itu kembali mencerahkan hatiku.

"Iya sayang. Sama-sama. Dik Rum suka?" tanyaku

"he.. eh.." suara itu menjawab. Aku bisa membayangkan dia pasti sedang mengangguk penuh semangat di sana.

"Mama sayaaang sama dik Rum," tiba-tiba saja aku begitu ingin mengucapkannya. Tak peduli apakah ia sudah dapat memahami konsep abstrak itu......

Tunggu Mama nak,

Mama pasti datang dan mendekapmu erat...